Chapter 19

45 8 1
                                        


KENYATAAN YANG MENYAKITKAN

"Maksud tante Laras apa? Bunda sama Ayah aku nggak pernah punya utang sama tante! Tapi kenapa tante bilang mereka punya utang sekarang?" Tanya Radia sambil menatap Laras dengan berlinang air mata.

"Kamu lupa hah? Orang tua kamu meminjam uang pada saya untuk penyakit kamu itu!"

Deg....

Radia merasa sesuatu menusuk dadanya begitu begitu dalam, yang membuatnya merasakan sakit yang amat dahsyat.

Gadis itu menggeleng pelan "Ta-tapi bukankah tante Laras sendiri yang tidak mau meminjamkan uang pada bunda dan Ayah?"

"Saya tidak peduli lagi! Yang terpenting sekarang adalah, rumah ini harus menjadi milik saya!"

"Tante tidak berhak atas rumah ini! Rumah ini milik orang tua saya, dan tante tidak ada campur tangannya sama sekali!" Tekan Radia sambil menatap Tante Laras tajam.

Sementara wanita berumur 32 tahun di depannya terlihat menatap dirinya sinis "Kamu adalah satu-satu nya gadis yang memiliki penyakit parah seperti itu! Saya tahu, ayah dan bunda mu memang pernah mengemis pada saya, untuk biaya berobat mu sendiri. Yahh...saya memang tidak mau memberikan pada mereka belas kasihan, karena saya tahu, kalau pada akhirnya kamu tidak akan pernah bisa sembuh Ifa!"

Radia menggeleng tak percaya, air mata gadis itu mengalir terus-menerus di pipinya. Rasa sakitnya perlahan kembali hanya dengan mendengar kenyataan pahit yang memang benar adanya terjadi.

"Tapi setidaknya tante menolongku kan? Hikkss... SETIDAKNYA TANTE MERASA SEDIKIT KASIHAN SAMA IFAA!! Apa tante tidak merasakan hal itu sedikit pun? Ifa salah apa sama tante? I-ifa nggak tahu apa-apa" ucap Radia sambil terus terisak.

"Salah kamu adalah sudah lahir di keluarga ini! Seharusnya kakak saya yang merupakan bunda kamu itu tidak mengaku hamil anak dari pacar saya!" Sentak Tante Laras mampu membuat Radia bungkam seketika.

"Ma-maksud tante apa?"

"Iya! Kamu itu anak haram! Dengan lancangnya Bunda kamu mengaku hamil anak pacar saya waktu itu, kamu tahu hal yang paling menyakitkan?"

Radia hanya diam sambil terus mencerna perkataan-perkataan yang keluar dari bibir tantenya itu.

"Mencintai tapi tak di cintai adalah hal yang paling sakit Ifa! Ayah kamu Vernon yang merupakan mantan kekasih saya menghamili kakak saya sendiri di luar pernikahan! Itu kenyataan pahit yang saya rasakan untuk ke dua kalinya. Dan saya ikhlas melihat kakak saya menikah dengan ayah kamu dan hidup bahagia setelah melahirkan kamu sendiri yag merupakan anak haram!"

Radia menggelengkan kepalanya sambil menatap Tante Laras penuh memohon.

"Kamu adalah aib keluarga ini! Seharusnya dari awal kamu tidak usah lahir, dan seharusnya saya tidak perlu berpura-pura baik-baik saja selama ini" lirih Tante Laras tak sadar air matanya ikut meluruh.

Radia menangis sejadi-jadinya. Ia tidak tahu tentang semua ini, ia tidak tahu kalau dirinya adalah hasil dari perbuatan keji yang seharusnya tak di lakukan di luar pernikahan.

'Kenapa bunda? Ayah? Kenapa kalian melakukan itu kalau pada akhirnya ada dua orang yang kalian sakiti? Kenapa bunda sama ayah tega lakuin ini?' Batin Radia menjerit.

"Sekarang saya mau kamu pergi dari sini! Sebagai balasan dari apa yang orang tua kamu perbuat adalah dengan menyerahkan rumah ini pada saya!"

Radia mengusap air matanya kasar "Aku tahu ini kesalahan orang tua ku, tapi aku mohon sama tante, tolong maafkan kesalahan mereka! Dengan begitu aku akan menyerahkan rumah ini pada tante, tapi tolong untuk yang terakhir kalinya, tolong maafkan kesalahan mereka" pinta Radia pada Laras yang terlihat enggan menatapnya.

"Saya akan memafkan mereka setelah kamu sudah menginjakkan kaki dari rumah ini"

Radia yang mendengar ucapan dari Tante Laras pun mengangguk dengan air mata yang terus saja mengalir, gadis itu mulai melenggan menuju kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya sendiri.

****

Radia berjalan menerobos hujan di pinggir jalan sambil menarik kopernya tak tentu arah. Pandangan gadis itu nampak begitu kosong, ia merasa kembali menderita, kenapa harus sekrang ia mengetahui kenyataan itu? Kenapa?

Radia mengusap air matanya yang sudah menyatu dengan air hujan yang sepenuhnya mengguyur seluruh tubuhnya. Meski ia merasa sangat kedinginan, namun rasa sakitnya lebih mendominasi sekarang ini.

Radia berhenti sejenak di trotoar. Gadis itu duduk di trotoar tersebut sambil memeluk kedua lututnya, ia menangis sejadi-jadinya.

"Apa tuhan tidak menyayangiku? Kau memberiku kebahagiaan dan kembali memberikan luka pada akhirnya, hikkss...bahkan di saat aku merasa terpuruk pun kau turunkan hujan seakan menghakimi rasa sakit ku, hikkss...kenapa? Aku tidak bisa menahannya lagi, lebih baik kau ambil nyawaku sekarang, jangan menyiksaku secara perlahan, kumohonn...."

****

"Iya sayang, ini bunda lagi di jalan kok" seorang wanita paruh baya barucap lembut lewat telepon dari anak gadisnya itu.

Reva, wanita yang menjadi ibu dari seorang Marcel Regal Saputra terkekeh ketika mendengar rengekan Friska dari seberang sana.

"Pak Tio pelan-pelan menyetirnya sayang karna lagi hujan, bahaya kalau ngebut kan?" Ujar Reva membuat Pak Tio yang merupakan supir pribadi keluarga Saputra itu terkekeh pelan di jok depan.

"Yaudah! Bunda matiin teleponnya yah, sebentar lagi bunda nyampe, assalamu'alaikum"

Tutt...

Reva pun mematikan acara teleponnya setelah mendengar balasan dari sang anak gadis. Reva tersenyum kemudian fokus menatap jalan dari balik jendela mobil. Seketika Wanita paruh baya itu terpekik kaget kala matanya menampak sosok gadis tengah terduduk di trotoar dalam keadaan basah kuyup.

"Pak Tio berhenti pak!" Pekik Reva pada supirnya.

Mobil itu pun berhenti membuat Pak Tio langsung menoleh ke belakang "Kenapa Nyonya?"

"Pak Tio tunggu di sini dulu, saya keluar sebentar"

Reva pun keluar dari mobil setelah menyambar payung yang sudah tersedia di dalam mobilnya.

●●●

Aseeekkk...

Makasih buat kalian yang sudah baca chap ini, dan jangan lupa juga sertakan vote dan Commentnya:-D

Kalau ada typo boleh di koreksi :)

Makasih♡

Next??

See you again :)

Kaulah PelangiKu [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang