Chapter 18

49 8 1
                                        

[Sekedar info! Kalau di chapter ini, lebih banyak narasinya di bandingkan dialognya. So, semoga kalian tetap baca, agar dapat paham pada akhirnya, hehe♡]

APA YANG TERJADI?

Radia tak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan semenjak kepergian kedua orang tuanya. Gadis itu selalu merasa sendiri di setiap saat ia berpijak. Kehidupan tenang bahkan tak ia dapatkan kala bermasalah dengan seorang Queen, sang Ratu Bully di SMA Permai Bangsa.

Berawal dari dirinya yang pernah tanpa sengaja menabrak Queen ketika sedang berjalan di koridor sekolah. Dan saat itu pula adalah saat di mana hari pertama ia menjadi murid SMA Permai Bangsa, dan ketenangannya sudah di usik oleh sosok gadis seperti Queen.

Namun, sekarang tidak lagi. Gadis itu sudah merasa sangat bahagia mengingat dirinya yang hari ini sudah mempunyai teman. Raya dan Fani bersikap sangat baik padanya, bahkan kedua gadis itu menekankan kalau dirinya kini menjadi sahabat mereka.

Begitu pun dengan teman-teman Marcel yang bersikap sopan pada dirinya. Gadis itu tahu, kalau orang-orang yang di anggap oleh Marcel adalah orang-orang baik, dan selalu menghargai orang lain.

Karena itu lah, Radia merasa sangat beruntung memiliki mereka semua. Walau sesuatu yang buruk telah terjadi pada dirinya sedari dulu.

Dan satu-satunya yang Radia harapkan sekarang adalah, semoga Tuhan tidak mengambil kebahagiaan itu lagi pada akhirnya.

****

Marcel menjalankan kembali mobilnya meninggalkan pekarangan rumah gadisnya ketika merasa kalau sang kekasih sudah masuk ke dalam rumah seperti biasanya.

Laki-laki itu menghela napas, sembari menepikan mobilnya di pinggir jalan yang begitu sepi.

Marcel duduk di jok mobilnya dengan pandangan kosong. Bahkan dirinya tak merasa kalau rintikan hujan perlahan turun membasahi bumi. Tanpa di sadari, air mata Marcel meluruh bersama dengan tangannya yang mencengkram kuat setir mobilnya.

Marcel merasa begitu terpuruk mengingat sesuatu yang tanpa sengaja ia lihat di belakang sekolah tadi. Dirinya memang laki-laki pecundang yang hanya bisa diam melihat keadaan gadisnya sewaktu di sekolah tadi.

Marcel tidak tahu. Tapi kakinya terasa berat ia gunakan untuk melangkah, dan mulutnya seakan di beri perekat agar dirinya tak mengeluarkan suara pada waktu itu.

Dan tadi. Suatu kebenaran yang seharusnya tak ia ketahui membuat dirinya merasa sangat menyesal pada akhirnya.

****

Radia menarik kursi belajarnya untuk mendekat ke arah jendela kamarnya. Gadis itu kemudian menduduki kursi belajar itu, dan berhadapan langsung dengan jendela kamarnya yang memperlihatkan derasnya hujan di luar sana.

Radia memejamkan matanya, sambil tersenyum tipis, gadis itu perlahan memakai selimut yang sudah ia siapkan sedari tadi, karena sebelumnya ia merasa jika hawa hari ini terasa begitu dingin. Oleh karena itu, ia menggunakan selimut itu guna menghangatkan tubuhnya yang memang sudah terasa begitu kedinginan.

****

"BANG RIANNNN!!" Teriak Friska pada Rian yang tengah bersantai di sofa sambil menikmati film upin-ipin yang memang sudah menjadi favoritnya sedari kecil.

Kaulah PelangiKu [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang