BERAKHIR
Marcel POV
"Tunggu!"
Aku mengerutkan kening saat ku dengar pekikan pelan Radia. Aku berjalan dan kembali berjongkok di hadapannya, aku menatap gadis di depanku khawatir, apa dia merasa sakit?
"Kenapa, hm? Ada yang sakit?" Tanya ku setelah ku genggam kedua tangannya.
Radia menggelengkan kepalanya pelan, gadis itu menunjuk sesuatu membuatku ikut menoleh apa yang di maksud gadis tersebut. Dah yahh...
Ternyata dia menunjuk sebuah pelangi, aku ikut tersenyum saat ku lihat Radia begitu bahagia saat memandangi pelangi itu. Radia memang sangat menyukai pelangi, gadis itu sering kali berantusias memotret atau bahkan terus-menerus menengadahkan kepalanya karena tak mau melewatkan penampakan indah itu katanya.
Hmm... aku baru sadar, kalau akhir-akhir ini pelangi sering kali muncul. Tapi biasanya, pelangi pasti datang cuma beberapa kali dalam setahun. Dan tahun 2020 ini, setelah hujan pelangi sering kali muncul, dan itu selalu terjadi di saat-saat yang sangat tepat.
"Kamu pelangiku"
Gadis yang ku maksud terlihat kaku di tempatnya. Aku tahu dia pasti terkejut mendengar ucapanku yang tiba-tiba. Ku lihat Radia menatapku dalam diam dan setelahnya menampilkan seulas senyuman.
"Kenapa begitu?"
Aku ikut tersenyum lalu ku jawab "Karna kau dan pelangi selalu terlihat indah bila di pandang. Maka dari itu aku menyamakanmu dengan pelangi. Tapi keindahanmu tidak bisa di pandang oleh semua orang seperti pelangi. Karna hanya aku, hanya aku yang boleh memandangmu"
Radia tersenyum. Di terlihat sangat manis dan menggemaskan. Rasanya... kebersamaan kita adalah satu-satunya yang selalu ingin ku lakukan. Aku harap, Radia akan selalu berada di sampingku.
"Marcel.."
Aku berdehem singkat.
"Masih ingat dengan buku harian ku?" Tanya gadis itu yang langsung saja ku angguki. Yah, aku memang tahu buku itu. Buku yang sering kali ku lihat di genggam oleh Radia. Buku yang pernah ku jadikan tempat curhat waktu dulu. Aku tentu sangat mengingatnya.
"Buku itu ku letakkan di dalam lemari pakaianku yang berada dalam kamar Raya. Aku harap, kau sering kali membawa buku itu kemanapun kau pergi"
Aku hanya diam, kemudian kembali bersuara "Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Karna suatu saat nanti, aku yang menjadi pemilik buku itu sudah tidak ada. Dan, ku harap kau mau menggantikanku untuk merawat buku itu" gadis di depanku tersenyum.
Aku tak bisa menolak, dan akhirnya aku pun menganggukkan kepala. Tentu, aku akan merawat buku harianmu Rad!
Genggaman tangan Radia perlahan terlepas. Aku mendongak guna melihat keadaan gadis itu.
Dan....
"Rad! Radiaa! Kau bisa mendengarku?" Aku sangat-sangat khawatir. Radia hampir saja menutup matanya.
"Cel.... ak-aku... men—"
Degg....
Aku tidak mau ini terjadi. Radia, gadis itu melepaskan genggaman tangannya dariku.
****
Ingin rasanya Marcel merasakan apa yang tengah di rasakan oleh Radia. Rasa sakit itu...., ingin sekali dia yang menanggungnya agar Radia terlepas dari penderitaan. Rasanya baru kemarin dia mendengar suara gadisnya yang berbicara ini-itu. Rasanya baru kemarin dia melihat senyum Radia dan rona merah di pipinya. Rasanya baru kemarin kebahagiaan melingkupi mereka berdua.
Sekarang?
Marcel tak tahan melihat penderitaan yang di tanggung Radia akibat kanker darah yang di alaminya. Tapi kenapa? Kenapa semuanya runtuh seketika?
Radia....
Gadis itu terbaring dengan kain putih yang sudah menutupi seluruh tubuhnya. Marcel tak bisa melakukan apa-apa. Laki-laki itu tak tahu harus apa lagi sekarang.
"Kenapa bukan aku saja yang menderita...?" Jerit Marcel sambil menumpukan kedua lututnya pada lantai rumah sakit.
Semua orang yang berada di ruangan itu turut berduka cita atas kepergian sosok Radia. Sosok gadis yang kuat juga tangguh. Sosoknya yang baik hati dan lemah lembut. Tak ada seorang pun yang akan melupakannya.
Orang tua Marcel, saudara-sadarinya, sahabat-sahabatnya, dan bahkan bu Jihan dan Pak Geral pun tak akan pernah melupakan Radia. Gadis itu sudah berperan penting di sini, gadis yang menutupi segala penderitaannya meskipun orang lain tidak akan pernah peduli itu.
Tapi sekarang?
Tuhan sudah mengambil nyawa nya. Tuhan sudah mengangkat dan meringankan segala kesakitannya. Dan itu semua, membuat Radia kini menutup matanya damai.
Marcel menangis sejadi-jadinya, ia tak bisa lagi menahan rasa sesak di dadanya ketika Radia tersenyum untuk terakhir kalinya.
"Rad.... tidak akan ada yang bisa menggantikanmu" lirih Marcel sambil memejamkan matanya.
****
Marcel tak bisa melupakan Radia. Sangat tak bisa. Di pikirannya selalu terbayang-bayang paras dari sang gadis yang kini sudah tak bisa lagi di genggamnya.
Marcel tahu. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Radia di hatinya. Dari dulu hingga sekarang hanya Radia. Dan, itu sudah cukup bagi si pemilik hati.
Mungkin jika kepergian Radia hanya terpisah oleh samudera dan benua. Tentu Marcel pasti bisa terus-menerus menemuinya. Tapi kini? Mereka sudah berpisah sangat jauh. Dirinya berada di bumi, dan Radia sudah berada di sisi Allah.
Sakit rasanya kembali mengingat kenangan indah di mana saat-saat Radia tersenyum ke arahnya, gadis tersebut ak pernah mengeluh ini-itu. Radia....
Entahlah.
Gadis itu memiliki banyak kelebihan yang tak bisa di lihat oleh orang lain dalam dirinya.
Meski kepergian Radia membuatnya sangat-sangat sakit. Marcel akan tetap bertahan, ia akan terus mendoakan Radia dari sini, meski dirinya tak bisa membahagiakan gadis itu secara langsung. Namun, Marcel tahu kalau Radia pasti sudah bahagia di alam sana. Pasti...
●●●
Satu chapter lagi, dan berakhirlah sudahh... Awokawokk
Makasih buat kalian yang sudah baca chap ini, dan jangan lupa juga sertakan vote dan Commentnya:-D soalnya itu berharga banget buat author, hehe..
Btw, kalau ada typo boleh di koreksi :)
Makasih♡
Next??
See you again :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaulah PelangiKu [END]
Teen Fiction-Judul Pertama Radia And Marcel- " Dia baik, senyumnya menawan, perilakunya nakal, namun hatinya bak malaikat" Radia Najda Afifa " Dia berbeda, sangat berbeda, dia apa adanya, dan aku menyukainya" Marcel Regal Saputra ------------------------- "Bang...
![Kaulah PelangiKu [END]](https://img.wattpad.com/cover/244862299-64-k903732.jpg)