BERTEMAN
"udah! Nggak usah di dengarin, bisikan setan itu mah" Fani berpesan sembari merangkul pundak Radia.
Sementara gadis yang masih diam di tempat itu pun mendongak untuk melihat gadis yang lebih tinggi darinya. Radia memejamkan mata kemudian melepaskan rangkulan tangan Fani dari pundaknya.
"Ke-kenapa kamu bersikap seperti ini? Mereka akan merendahkan kalian, jika kalian berbicara denganku" Ucap Radia terbata-bata sambil mentapa sekelilingnya tak enak.
Sementara Fani dan Raya malah saling pandang kemudian menghembuskan napas secara bersamaan setelah mendengar perkataan Radia yang merasa sedikit tak enak pada mereka hanya karena mereka yang mengajak gadis itu berbicara.
"Rad! Gue sama Raya gak peduli sama apa pandangan orang-orang kalau kita berdua temenan sama lo"
"Be-berteman?"
Raya menganggukkan kepalanya "Iya kak! Aku sama kak Fani mau temanan sama kakak, kalau bisa sahabatan dehh... aku juga nggak peduli sama omongan-omongan jelek mereka yang ngatain aku, kakak, sama kak Fani seperti tadi"
"Hm, Raya benar! Gue mau temenan sama lo itu tulus nggak ada kata paksaan, lo nggak pernah jelek di mata kita semua, hanya saja diri lo yang begitu tertutup kemungkinan ngebuat diri lo di kucilkan dan di caci maki" timpal Fani di angguki oleh Raya.
"Jadi, kak Radia mau nggak temenan sama aku dan kak Fani? Andai aja aku udah kenal kakak dari dulu, mungkin aku udah lama ngajak kakak ngomong bareng, tapi karna aku yang emang males banget bersosialisasi, jadi gitu dehh...temen aku cuma kak Fani sama Raisa doang, hehe..."
Fani mengerutkan keningnya sambil menatap Raya bingung "Raisa ketua PMR itu yah?"
Raya menganggukkan kepalanya, sembari kembali menatap Radia "Jadi gimana kak? Mau nggak temanan sama kita?"
Radia tersenyum tipis, kemudian menganggukkan kepalanya "iya, mau" toh, dirinya pun perlu mencari luangan untuk bersosialisasi.
Dirinya yang sudah hampir 4 tahun sendiri sudah cukup membuatnya merasa terabaikan dan sekarang waktunya untuk mencerahkan kembali kehidupan yang sebelumnya bagai kegelapan.
Fani dan Raya tersenyum senang, kemudian mereka berdua bersama-sama merangkul Radia "Kalau begitu, kita ke kantin sekarang!" Seru Raya dan Fani sambil menggiring Radia menuju kantin, mengabaikan tatapan-tatapan aneh yang mengarah pada mereka ketika mereka melintasi banyaknya gerombolan anak murid yang sedang berkumpul di koridor.
****
"Aku tlah tahu.... kita me....mang tak mungkin~ tapi me....ngapa ki-ta, selalu bertemu?"
"Gue sahabat lo, jadi nggak heran kalau kita selalu ketemu" balas Juna sambil menatap malas Banu yang sedari tadi bernyanyi, mengusik ketenangannya yang sedang makan kacang.
Banu mendengus kemudian melemparkan kulit kacang yang baru saja ia buka pada Juna "Aisshh goblok! Kapan kita sahabatan?" Tanya Banu sambil menatap Juna dengan pandangan bertanya-tanya.
Plakkk...
"Ngomong lagi coba! Gue mau denger lagi, hmm? ngomong!"
Banu tersenyum kecut sembari mengelus pundak Juna yang nampak sangat kesal dengan dirinya.
"So-sorry bro, bukan gitu maksud gue, gue bercanda doang tadi" ujar Banu sambil terkekeh canggung.
Juna memutar bola matanya jengah dan berdecak singkat sembari menjauhkan pundaknya dari tangan Banu yang masih saja tersenyum ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaulah PelangiKu [END]
Novela Juvenil-Judul Pertama Radia And Marcel- " Dia baik, senyumnya menawan, perilakunya nakal, namun hatinya bak malaikat" Radia Najda Afifa " Dia berbeda, sangat berbeda, dia apa adanya, dan aku menyukainya" Marcel Regal Saputra ------------------------- "Bang...
![Kaulah PelangiKu [END]](https://img.wattpad.com/cover/244862299-64-k903732.jpg)