ALIBI
"Raya! Radia!" Panggil Misel sambil membuka pintu kamar sang adik.
Radia dan Raya yang sibuk bersiap-siap pun menoleh ke ambang pintu di mana ada Misel berdiri sambil menatap mereka bingung.
"Rad!" Panggil Misel pada Radia membuat sang empu langsung saja menyahut "Iya kak?"
"Itu kenapa kamu pakai topi rajut begitu? Dan syal itu, kenapa kamu pakai syal? Kamu sakit kah? Kedinginan?" Tanya Misel.
Radia bingung, apa yang harus ia katakan?
"A-aku—"
"Kak Radia lagi pilek aja kak" potong Raya cepat. Gadis itu tahu kalau Radia pasti tidak bisa berkata-kata jika keadaan lagi menyesak seperti ini.
"A-ah iya kak, aku la-lagi pilek" timpal Radia terbata-bata.
Misel yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian ia melirik Raya yang kini sedang memakai sepatu.
"Itu mata kamu kenapa sembab begitu Ray? Habis nangis?"
Raya mendengkus kesal, ia menatap kakak perempuannya kemudian tersenyum "Oh ini! Itu kak tadi malam aku nonton drama korea nyesek banget sampai aku nangis kejer-kejer, hehe" alibi Raya membuat Misel mengangguk mengerti.
"Oh begitu, ya sudah kalian berdua turun gih sarapan pagi"
Raya dan Radia mengangguk. Misel pun bergegas keluar kamar tersebut.
Radia menatap Raya yang tengah sibuk mengikat tali sepatunya, ia bingung kenapa Raya mengatakan dirinya pilek? Ia sangat ingat kalau Raya tak bertanya sama sekali tentang dirinya yang menggunakan topi rajut juga syal.
Apa Raya tahu tentang penyakitnya?
Radia menggeleng pelan, berusaha menghilangkan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada kepalanya.
"Kenapa kak? Apa kakak bertanya-tanya kenapa aku langsung motong ucapan kakak tadi?"
Radia mengangguk sebagai jawabannya.
"Loh? Bukannya kak Radia memang pilek yah? Soalnya kan nggak mungkin kalau kakak pakai topi rajut sama syal begitu, padahal cuaca lagi cerah begini" ujar Raya mengalibi pikirannya sendiri yang ingin berkata jujur, kalau dirinya tahu gadis itu sedang mengidap sebuah penyakit.
Radia nampak tersenyum canggung "I-iya juga, kau benar! Aku memang lagi pilek" ucap Radia kemudian beranjak dari tempatnya dan melenggan pergi keluar dari kamar.
Raya sendiri masih diam di tempatnya, senyum yang semula terbit perlahan pudar seketika di gantikan dengan wajah sedih "Aku tahu kakak berusaha buat sembunyiin penyakit kakak sendiri" gumam Raya pelan.
****
Seperti apa yang di duga oleh Radia. Ada banyak orang yang menanyakan mengapa dirinya memakai topi rajut dan juga syal saat sarapan pagi di meja makan tadi. Dan, dengan terpaksa ia berbohong dengan mengatakan kalau dirinya sedang terkena pilek.
Begitu pun dengan Raya, dirinya pun sama. Keluarganya menanyakan tentang matanya yang terlihat sembab. Yahh.... tentu saja Raya akan menjawab kalau dirinya menangis karena menonton drama korea.
Dengan begitu, orang-orang langsung saja percaya dengan apa yang di jawabkan dari kedua gadis itu. Tapi berbeda dengan Marcel, laki-laki itu tahu kalau kedua gadis tersebut pasti menyembunyikan sesuatu.
"Bang!" Panggil Rian pada Marcel yang tengah berjalan keluar rumah guna berangkat ke sekolah.
Marcel berbalik dan menatap Rian bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaulah PelangiKu [END]
Teen Fiction-Judul Pertama Radia And Marcel- " Dia baik, senyumnya menawan, perilakunya nakal, namun hatinya bak malaikat" Radia Najda Afifa " Dia berbeda, sangat berbeda, dia apa adanya, dan aku menyukainya" Marcel Regal Saputra ------------------------- "Bang...
![Kaulah PelangiKu [END]](https://img.wattpad.com/cover/244862299-64-k903732.jpg)