30. KEBERAKHIRAN✔

116 10 15
                                        

30. KEBERAKHIRAN

Ini sudah satu minggu Galen melewati harinya tanpa Naya. Sejak kejadian itu, Naya benar-benar menjauh darinya. Galen sama sekali tak pernah melewatkan waktu untuk bisa menemui gadisnya. Namun, yang terjadi tetaplah sama. Naya masih enggan hanya untuk sekedar melihat tampang Galen.  Sebenarnya, rasa khawatir Galen pada Naya setiap hari makin bertambah. Tapi sampai saat ini tidak ada cara lain, selain menunggu Naya-nya kembali.

Galen membuka roomchat Naya. Ia sama sekali tidak bisa menghubunginya. Maka, yang Galen lakukan sekarang hanyalah menggulir deretan chat dari Naya. Cowok itu tersenyum, kadang juga terkikik geli kala membaca obrolan unfaedah bentuk tulisan itu. Setelahnya, Galen menghela napas lelah. Ia menatap ke depan dengan hampa. Merindukan Naya sama saja menyiksa diri. Tetapi, melupakan gadis itu sejenak dalam pikirnya, adalah hal yang mustahil bisa ia lewati.

"Gue kangen lo, Nay."

Waktu di sekolahan pun, Galen hanya bisa mengamati Naya dari kejauhan tanpa berani menghampiri. Karena jelas, Naya lagi-lagi akan pergi menjauhkan diri.

Saat ini, Galen sedang berada di Arena--tempat latihannya seperti biasannya.

"Eh, Bos. Lo kenapa dah, kek orang gak punya tujuan hidup aja," ujar Mario.

"Ya jelas, lah! Orang tujuan hidupnya masih ngambek," sahut Jordan.

"Lo udah minta maaf belom, Gal?" tanya Gilang.

Galen hanya menggumam. "Tetep aja dia gak mau nemuin gue."

Doni tertawa-tawa. "Kalo gue jadi Naya sih, ya ogah. Buat apa juga ketemu cowok yang katanya 'pacar' tapi suka sama cewek lain juga."

"Udah gue bilang, kan? Kalo gue sama Lia udah selesai," tegas Galen membuat Doni mengatupkan tangannya di depan dada.

"Wuishh! Ampun bang jago," kata Doni.

Gilang menepuk bahu Galen. "Lo fokus aja buat nanti malem, Gal. Lepasin Naya dari pikiran lo sebentar. Inget! Lo udah latihan full buat pertandingan ini. Jangan sampe usaha lo sia-sia," ujarnya. Galen mengangguk.

"Eh, itu mulut emang enak sih, ngomongnya. Tapi gak tau yee, itu dalem hati Galen gimana," sahut Mario. "Pasalnya, lisan, akal, perasaan susah sinkron-nya."

"Bener tuh." Doni mengibaskan tangannya. "Tapi ya, Gal. Harusnya, pertandingan malem ini, ada Naya yang nontonin lo. Kasi lo semangat. Tapi yang ada malah ... dududu, bau-bau ada yang mau kandas nih."

Galen tiba-tiba ikut berpikir, benar juga apa yang Doni katakan. Harusnya, malam ini Naya ada bersamanya. Naya yang pertama ia lihat ketika pertarungan dimulai. Naya yang akan menyorakinya penuh semangat, dengan senyun lebar yang berhasil membuat Galen mabuk kepayang. Galen mendesah frustasi. Kenapa Naya malah berusaha menghindarinya? Padahal, ia akan menjelaskan semuanya, tentang siapa Lia dan bagaimana perasaannya. Secara logika, Galen sudah tahu jawabannya. Mana ada, seorang cewek mempertahankan sebuah hubungan, di saat pasangannya malah lebih dekat dengan cewek lain. Sekalipun itu sahabat, yang jelas siapapun pasti cemburu, karena sama-sama perempuannya.

"Latihan lagi gak, Gal?" Jordan bertanya. Di tempat ini, masih ada Panji dan beberapa seniornya terdahulu yang akan melatih Galen.

Galen sebenarnya malas untuk latihan lagi. Namun, memikirkan tentang komunitasnya, ia harus bisa membagi pikiran. Saat ini, Galen harus fokus demi pertarungan nanti malam.

"Inget, Gal! Fokus. Gue yakin, kalo Naya sayang sama lo, dia bakal maafin lo dan balik lagi sama lo." Perkataan Gilang seperti memberi harapan bagi Galen. Tidak tahu kenapa, Galen sekarang sadar, kehadiran Naya benar-benar berarti untuknya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 05, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

EPIPHANY (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang