Simple

1.2K 75 0
                                    

______________________
Warning !!

Cerita ini hanyalah karangan penulis semata. Jika ada kesamaan nama, latar dan lain lain hanya sebuah kebetulan belaka.
Beberapa nama publik figur yang tercantum dalam cerita ini hanya dipakai untuk mengisi tokoh saja, sifat, sikap dan lain lain juga termasuk karangan penulis. Produk yang tertera dalam cerita bukan untuk promosi, melainkan hanya dipakai untuk menambah kepentingan cerita. Diharap bijak untuk memilih dan memilah hal buruk dan baik dalam cerita dan tidak untuk ditiru hal buruk yang terkandung

 ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄













.













Air matanya mengucur membasahi tulang pipinya saat hari sudah gelap gulita. Tidak tahu seberapa lama waktu yang dihabiskan hanya untuk duduk di tepian sembari mengeluarkan luapan emosionalnya dengan menangis.

Kebetulan saat itu Rose sedang melangkahkan tungkainya dan tanpa sengaja menemukan Jennie menangis tersedu sedu di tepian kolam, hanya mencelupkan kakinya sebatas betis disana. Seketika membuatnya mengusap kedua lengan atasnya bergidik ngeri, siapa juga yang mau merendam kakinya pada tengah malam? Udara begitu dingin menembus kulitnya sampai gadis itu harus terus mengusap kedua lengannya.

"Hey". Usapan di bahunya membuat Jennie sedikit terperanjat. Ternyata temannya masih terjaga, hampir saja melupakan fakta kalau Rose adalah tipe gadis penggila pesta Gadis berambut merah itu bisa saja berpesta sampai menjelang pagi. Jennie semakin menggerakkan kecil kakinya di bawah sana membuat gerakan acak. Dia tak bisa terlelap barang sedetikpun di villa itu. Sementara yang ada dalam kepala Rose adalah perbedaan sorot dan air muka Jennie yang jelas berbanding jauh sejak petang tadi. Gadis itu terlihat melompat ria di lantai dansa, tawa lebar yang tercetak jelas di wajahnya sembari mengacungkan coctail mengudara digenggamannya.

"Sedikit banyaknya aku minta maaf Rose untuk tidak terus terang padamu. Semua ini semata mata upaya untuk melupakan sejenak tentang si bodoh itu". Semua kata kata itu meluncur begitu saja tersaji dihadapan Rose. Terlalu sulit untuk menerima kenyataan, sesekali keretakan ini datang padanya disaat Jennie selalu dilimpahkan kebahagiaan. Jennie tanpa sadar membiarkan pemuda itu menyelami lautan hatinya lebih dalam sampai sampai dia sudah bergantung hanya pada mantan kekasihnya. Tidak dapat menampik rasa bahwa dia merasa kesepian saat ini, dunianya runtuh hanya dengan seseorang yang membawa pergi perasaannya.

Melupakannya bukan pilihan yang bagus, nampaknya malah menjadi boomerang baginya. Jennie malah semakin menapaki rindunya, terlalu dipaksakan. Apalagi mereka belum lama putus

"Apa yang terjadi Jane?". Tanya Rose dengan hati hati, peka terhadap situasi dan yakin Jennie menghadapi suatu hal yang besar, rasa penasarannya memuncak tapi dia tidak boleh melontarkan banyak banyak pertanyaan, takut dia malah menguak perasaan itu semakin naik kepermukaan. Melihat gadis itu selalu tegar dan mandiri dan kini saatnya melihat titik terendah Jennie. "Dia, Jaebum merasa lelah denganku. Itu salahku". Jennie menyeka air matanya yang terus menuruni pipinya. Rasanya sulit sekali mengendalikannya. Rose masih terus mengusap bahu Jennie memberikan sedikit kekuatan untuknya.

"Ayo Jane, kamu harus mengganti bajumu" Rose mulai bangkit beranjak dan meraih kedua tangan Jennie. Lebih memilih untuk mendorong gadis itu, menghiburnya daripada membiarkannya berlarut larut dalam suasana melankolis seperti ini. Kali ini Rose pastikan Jennie akan benar benar bersenang senang. Dengan sedikit bingung Jennie mengikut. "Kita akan kemana?"

"Kita akan bersenang senang hari ini" Ucapnya dengan nada bersemangat sambil menarik Jennie untuk ikut bersamanya. Setengah memaksanya

"Kamu yakin akan melewatkan malam di New York? Yang benar saja" Lanjutnya lagi.





Jennie Kim ; series Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang