Hitam Putih pt. 2

239 40 10
                                        
















.















Jennie terdiam di kursinya sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya. Sama sekali tidak ingin mengalihkan pandangannya. Gadis itu hampir saja mengeluarkan air matanya, lagi.





Jennie baru saja keluar dari toilet ,di detik yang sama tubuhnya langsung merasakaan sakit saat menghantam tembok dingin pembatas toilet ulah dua orang gadis dan dua lainnya yang menatapnya sinis sembari melipat tangan. "Udah bagus kita gak apa apain lo! Tapi lo malah ngelunjak!". Ucap gadis berambut merah terang yang memiliki postur tubuh paling tinggi.

Gadis yang lainnya langsung meletakkan kaki jenjangnya ke tembok membatasi pergerakan Jennie dengan ekspresi datar dengan sorot tajam. "Lo sebaiknya gausah deket deket sama Bomin atau Seunghun". Ucapannya terdengar klise seperti di salah satu adegan dalam novel.

"Sadar gak sih lo tuh benalu! Cewek gak tau diri! Lo bisanya nyusahin mereka. Caper banget sih lo!". Ucap Si gadis berambut merah membuat Jennie membisu hanya menatap nanar keduanya."Udahlah ayo kita cabut. Ini tempat umum asal kalian inget". Ucap gadis yang sedari tadi yang menjaga pintu. Si gadis berambut merah menghembuskan nafas kasar kemudian keempat gadis itu meninggalkannya sendirian dengan keadaan masih bersandar di tembok.




Sebenarnya mereka itu tidak pernah macam macam dengan Jennie walaupun diketahui mereka memang murid perisak tapi tidak pernah sampai merundung teman sekelasnya. Jennie tentu terkejut. Namun lontaran perkataan yang berulang ulang berputar dikepalanya. Situasi dimana diamnya Jennie seakan membenarkan. Selama ini dia selalu menyusahkan Bomin dan Seunghun. Mereka terlalu memanjakan Jennie sampai Jennie lupa diri. Mentang mentang Jennie tidak punya teman jadi bisa seenaknya berlaku pada dua pria itu. Jennie menarik nafas panjang dan menghembuskannya, gadis itu berjalan keluar dan pergerakannya itu tak lepas dari si pengamat.



"Dor!". Bomin muncul di balik pintu dan membuat Jennie terhenyak, suasana bergulir cepat saat kesadarannya mengudara. "Cieee kaget ya? Jantungnya ga copot kan?". Bomin melontarkan gurauan seperti biasa.



"Bisa gak sih lo gak ngerjain gue sehari aja!". Mengendurkan ekspresinya, senyum Bomin luntur seketika. Atmosfer disekitarnya berubah cepat, rasanya aneh. Dia merasa asing. Apalagi ketika kini mereka menjadi pusat perhatian. "Lo lagi bete?". Mencoba mengenyahkan aura negatifnya.


"Lo selalu ganggu gue! Selama ini gue selalu diem aja. Lo pikir semua candaan lo itu lucu?". Bomin semakin serius. "Lo marah sama gue?"

"Jauhin gue!". Setelah itu Jennie berlalu meninggalkan Bomin yang terdiam.





















Jennie berjalan tergesa gesa menuju taman sekolah. Merasa hidupnya penuh drama picisan yang sering jadi konsumsinya. Mulai mengeluarkan earphone hendak menyumpalkan benda kecil itu namun kalah cepat dengan pergerakan seseorang yang sudah duduk di sampingnya ,Seunghun meraih salah satu earphone dan menyumpalkan langsung ke telinganya "Nyalain dong lagunya". Perintahnya enteng.


Jennie melempar tatapan tajam membuat Seunghun memundurkan wajahnya mengangkat sebelah alisnya kemudian memiringkan kepala dan menyernyitkan dahinya heran. Merasa asing dengan arti sorot gadis itu.


Gelagapan saat gadis itu nampak suram wajahnya dan beranjak dari tempatnya."Jennie!"

"Jennie lo kenapa lagi sih? Gue ada salah sama lo nyuet?"

"Jenong!". Langkah Jennie terhenti, bibirnya terkatup namun saat itu juga air matanya jatuh menetes ke rerumputan. Jennie menunduk dan mulai menangis tanpa suara. Seunghun datang perlahan meraih bahunya merangkul Jennie. "Lah dipanggil jenong baru aja-

Jennie Kim ; series Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang