Zella mengetuk ngetuk kepalanya sambil memikirkan bagaimana ia bisa membantu Ryan.
Zella menghela nafas, sontak para sahabat nya menatap Zella. "Yang sabar Zell, Dylan ga akan bunuh Ryan kok" Kata Luna.
Yang benar saja setelah Dylan mengucapkan kata laknat itu, Dylan kembali menyeret Ryan dan pergi entah kemana.
"Bisa gila gua kalau terus sama Dylan"
Zella berdiri lalu melihat lihat buku yang ada di perpustakaan, mereka sedang ada di perpustakaan dan tidak menghabiskan makanan nya.
Bagaimana jika benda benda tajam di bawah kasur Dylan, untuk membunuh orang. Bagaimana jika alat alat besi itu untuk meny-
Zella menggeleng gelengkan kepalanya, dan berusaha tenang lalu keluar dari perpustakaan tanpa sepengetahuan Luna dan Citra.
Zella berlari tak tentu arah untuk menemukan Dylan. Sampai Zella berada di taman belakang yang sepi dan tenang.
Disana ada sebuah ruangan kecil yang sangat gelap, ia tidak berpikir bahwa Dylan ada disana, namun Zella akan coba mengacak ngacak teman ini.
Dari semak semak, ruang penyimpanan, ruang yang berisi debu debu, sampai ruangan yang paling pojok dan gelap.
Zella menelan saliva nya dan berjalan pelan ke arah ruangan itu. Lalu membuka sedikit pintunya.
Benar benar tidak punya otak, disana ada Ryan yang sedang tergeletak lemah dengan darah di sisi tertentu.
Zella menghela nafas gusar, lalu menepuk pipi Ryan untuk menyadarkan nya. "Ryan"
"Ryan"
"Bangun"
"Berani banget yaa nolongin dia?" Kata Dylan sambil menatap Zella tajam.
"Ini ya kerjaan lu?" Dylan mengangguk bangga, lalu menjauh kan tangan Zella dari pipi Ryan.
Zella memegang pangkal hidung nya lalu menatap Dylan datar. Lalu memukul dada bidang nya.
Sedangkan Dylan hanya menatap datar Zella sambil memasukkan kedua tangan nya di saku celana.
"Telpon ambulan!" Dylan menggeleng pelan.
Zella meraba saku celana nya dan menghela nafas ketika tau ponsel nya ada di kelas.
Namun Zella melebar kan matanya melihat Ponsel milik nya ada di tangan Dylan dan sudah tidak berbentuk.
Dylan menjatuhkan ponsel milik Zella lalu menginjak nya. "Ga bisa telpon ambulan" Kata Dylan datar.
Zella seperti nya akan menangis sekarang, ponsel satu satu nya dan ia beli dengan uang nya sendiri sudah hancur, apa lagi sekarang teman nya hampir sekarat.
"Masih mau nolongin selingkuhan lu?" Zella menatap tajam ke arah Dylan, yang hanya di balas tatapan remeh.
"Gua benci sama lu!"
***
Zella meminta Luna untuk menelpon ambulan sehabis keluar dari ruangan gelap dan sekarang Ryan sudah di bawa kerumah sakit.
Zella tidak pernah main main dengan kata katanya, Ia mengatakan 'benci' karena benar sekarang ia benci kepada Dylan.
Dylan masuk ke dalam kelas Zella dengan sangat buru buru lalu dengan segera menarik tangan Zella yang sedang tertidur di meja.
Dylan sangat marah ketika Zella membenci nya, Dylan sangat marah ketika Zella mengacuhkan nya. Dylan sangat marah ketika Zella mengkhawatirkan orang lain.
Dylan hanya mau, Zella menjadikan Dylan sebagai dunianya.
"Dylan!" Dylan tetap membawa Zella keluar sekolah dengan Zella yang susah payah menyamakan langkah kaki Dylan.
Dylan membawa Zella ke taman di dekat sekolah, lebih tepatnya di samping gedung sekolah.
Disana banyak anak kecil yang bermain, banyak akang kaki lima dan banyak permainan kecil yang bisa di coba.
"Tarik kata kata itu" Zella mengerutkan dahi nya.
"Tarik Zella!" Zella tidak mengerti, ia tidak mengatakan apa apa sekarang.
"Tarik kata kata apa?" Dylan menatap dingin ke arah Zella lalu memegang erat lengan Zella.
"Lu benci sama gua?"
"Lu mau ninggalin gua?"
"Lu mau lanjut pacaran sama selingkuhan lu?"
"Dan ninggalin gua sendirian?"
"Lu beneran mau putus ya sama gua?" Lirih Dylan sambil menatap mata Zella.
Di satu sisi Zella benci dengan sifat Dylan, Namun di satu sisi Zella masih menyayangi Dylan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
D Y L A N ✓
Teen FictionFollow terlebih dahulu ❤ 'possesive & psychopath' "kamu mau ninggalin aku, aku akan bunuh diri" Dylan sosok laki laki yang menaruh semua perhatian nya pada satu perempuan yang sabar menghadapi sikap aneh dari diri Dylan. merasa sudah sangat tidak...
