2 Satu

23 2 0
                                        

"Bunda!" Aku terdiam.

Bunda sedang memegangi figura foto pernikahanku dan Aldi, aku mencoba menutupi bawaan ku.

"Darimana kamu?" Suara bunda tidak selembut biasanya.

"A...." Aku terdiam, tidak bisa mencari jawaban.

"Jadi hubungan kalian seburuk itu, sampai kalian pisah rumah." Bunda menatapku sedih.

"Bunda benar-benar mengira kalau kalian baik-baik aja, karena hubungan kalian terlihat begitu apalagi pas hari pernikahan kalian, tapi bunda sekarang tau kalau kalian lagi retak."

"Cerita ke bunda, ada masalah apa?" Bunda menghampiriku.

"Aku minta maaf, ini salah Acha." Aku menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.

"Kamu gak salah Acha.... Bunda lupa kalau kalian menikah bukan karena keputusan kalian berdua." Bunda memelukku erat.

"Acha jujur ke bunda ada apa? Apa karena pertengkaran semalem?" Tanya bunda.

"Acha jujur ke bunda ada apa? Apa karena pertengkaran semalem?" Tanya bunda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bunda denger?" Tanyaku menatap bunda.

"Maaf, semalam bunda ingin memberikan selimut ke kalian tapi ternyata...."

"Maaf bunda...." Rengek ku.

"Udah ah jangan minta maaf dulu, ceritain ke bunda! Bunda gak akan marahin kalian berdua."

Aku menceritakan semuanya dari awal aku dijodohin dan menceritakan tentang Varrel dan janjinya itu, air mataku tumpah begitu saja. Bunda terus mengelus punggungku lembut.

"Jadi selama ini kamu memendam semua itu sendiri?" Tanya bunda.

"Sejak hari pernikahan itu, aku selalu merasa sendirian."

"Kamu wanita yang kuat sayang." Bunda memelukku sekilas.

Ting.......

Aku melihat layar Hp Ku yang bertuliskan panggilan masuk dari Aldi.

"Angkat aja! Loud Speaker bunda mau tau cara dia ngomong ke kamu."

Aku hanya menurutinya.

"Kamu udah di apartemen kan? "

"Iya aku udah sampe." Bunda mengisyaratkan agar aku tidak mengetahui keberadaanya.

"Baguslah! Saya sudah mempercepat rapatnya."

"Jangan sampe bunda duluan yang dateng."

"Memang kenapa kalau bunda yang dateng duluan." Bunda merebut HP ku.

"Bunda?" Aldi terdengar kaget.

"Cepet pulang!" Lalu bunda mematikan telponnya.

"Bunda gak nyangka dia ngomong begini ke istrinya." Bunda memijit pelipisnya pelan.

Aku hendak menghampiri bunda, tetapi bunda menahan ku dengan tangannya, untuk cari aman aku diam saja.

Beberapa menit kemudian Aldi membuka pintu dan langsung menghampiri kami, dia menatapku tajam.

"Jangan kamu marahi Acha." Ucap bunda, sontak Aldi menoleh ke bundanya.

"Bunda selalu bilang ke kamu buat jagain Acha."

"Bunda bilang gak akan marah ke.... Mas Aldi." Bibir ini masih kaku untuk menyebut kata itu.

Bunda membuang nafas kasar, lalu meraih tanganku dan Aldi serta menyatukan tangan kami, bunda menatapku dan Aldi bergantian.

"Pokoknya bunda gak mau kalian pisah, selesaikan semua masalah dengan kepala dingin, jangan kayak anak kecil kalian ini udah dewasa harus bisa menjaga rumah tangga kalian sendiri."

"Jadi malam ini kalian harus tidur di kamar, bicarakan baik-baik."

"Tapi bunda...." Bantah kami bersamaan.

"Bunda gak menerima penolakan." Tegas bunda.

Seharian aku selalu menghindari Aldi dan selalu menempel kepada bunda, Hingga malam tiba, Bunda menarik ku dan Aldi ke dalam kamar.

"Aldi belum ngantuk bunda." Aldi hendak keluar.

"Aku gak enak kalau bunda tidur di sofa, jadi biar aku aja yang di sana." Aku juga mencoba keluar dari sisi lainnya.

"Eits.... Pokoknya gak ada yang boleh keluar." Bunda menutup pintu dan menguncinya dari luar.

"Di sofa dingin lho bun...." Ucapku ketika pintu dikunci.

"Bunda udah ngambil selimut kok sayang, jadi selamat malam!" Seru bunda.

Aku menghembuskan napas kasar, aku berbalik untuk tidur dan melihat Aldi sudah tiduran di atas kasur sambil menatapku lama sebelum memalingkan wajahnya.

Apa lagi ini? Kenapa dia ngeliatinnya begitu? Cobaan apa lagi ini?~

"Pokoknya aku gak mau tidur di situ." Aku menarik selimut dan mengambil satu bantal.

Lalu menggelar selimut itu di lantai dan memposisikan diri, terdengar decakan dari atas kasur.

"Jangan buat saya dalam masalah." Suara dingin itu terdengar.

"Justru kalau aku ke sana aku dalam masalah." Jawabku yang langsung menyelimuti badanku.

"Ck."

Tak lama setelah decakan itu, sepasang tangan mendorong tubuhku sehingga berguling, lalu mengangkatku ke atas kasur.

"Tidur!" Perintahnya yang langsung membelakangiku.

"Gak akan bisa tidur kalo begini." Bantahku.

"Ssttt..."

Woi! gue kelilit selimut...~ Seruku dalam hati sembari mencoba meloloskan diri.

"Diamlah! Saya juga pria normal."

Deg....

Kok gue takut ya.....

###

SUDDENLY married {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang