"Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba, tapi kamu juga harus berjanji kalau jari manismu tidak boleh memakai apapun yang bukan pemberianku,dan hatimu jangan sampai ada yang memiliki selain aku."
.
...
Setelah mereka berdua pergi berbelok di ujung lorong rumah sakit,aku langsung masuk ke ruangan VIP yang diisi Ian.
Aku terkejut melihat apa yang terjadi di hadapanku,seseorang dengan hoodie hitam menyuntikkan sesuatu ke infusan yang tersambung ke tubuh Ian.
Dengan mengumpulkan keberanian yang kupunya,aku langsung menepis kasar tangannya.
"Jangan lukai dia!" seruku.
Pria berhodie itu berbalik, "Va...Varrel?"
Varrel dibalut hoodie yang kebesaran dengan perban melingkari kepalanya,jalannya tertatih-tatih.
"Kita bertemu lagi." Varrel menyeringai.
"Apa yang kamu kasih ke kak Ian tadi?" Aku menarik suntikan yang masih menancap di infusan.
"Aku hanya menghilangkan pengganggu hubungan kita." Ucapnya.
"Apa-apaan kamu?kak Ian berarti buat aku." Aku mencoba memencet tombol untuk memanggil dokter tetapi dihadang oleh Varrel.
"Kamu juga sangat berarti buat aku,aku bahkan rela mengorbankan apapun untukmu." Suara dingin Varrel memenuhi ruangan.
"Apa maksud kamu?" Aku mundur dengan perlahan.
"Semuanya! Aku sudah melenyapkan mereka yang membenci hubungan kita." Varrel mendekatiku.
"Mamah yang selalu membencimu,papah yang tidak berani menentang titah mamah,orang tua kamu yang membenciku dan Nathan yang ikut-ikutan menjadi penghalang semuanya sudah pergi bukan?" Ucapnya perlahan.
Aku terdiam, "Ja...jadi ka...mu..." Kedua mataku memanas.
"Kamu seharusnya berterimakasih sama aku." Varrel membelai rambutku.
"Pergi dan tinggalkan laki-laki itu dan kita akan hidup berdua selamanya." Varrel menaikkan salah satu ujung bibirnya.
"Kamu... tau aku udah menikah?" Tanyaku sambil terus memberi jarak.
"Tentu saja,sebenarnya teleponku tidak bermasalah dan betapa bodohnya gadisku ini mempercayai semuanya." Varrel berjalan mendekati Ian.
"Jangan sentuh dia!" Aku menepis tangannya lagi,tetapi Varrel hanya tersenyum.
"Jangan khawatir dia akan mati dalam hitungan menit."
PLAK!
"Kamu gila Varrel, aku gak akan hidup bareng pembunuh kayak kamu,kamu udah membunuh banyak orang." Aku membentaknya.
"Kemana Varrel yang dulu? Aku benci kamu!"
"Ternyata bener kamu mulai jatuh cinta sama orang itu."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Varrel mendorongku hingga menabrak tembok, dia mengunci tubuhku dengan tangan dan kakinya kemudian dia berbisik.
"Ini balasan kamu?Aku gak mau kehilangan kamu sayang." Varrel membelai pipiku.
"Lepas!" aku mendorongnya dan berlari ke arah pintu.
BRUK!
Varrel menarik kakiku membuatku terjatuh,aku merasakan ada cairan yang keluar dari hidungku.
kemudian dia menarik ku dengan kencang, menyeret ku dengan sekali hentakan kuat hingga aku terbaring di bawahnya.
Dari arah ranjang aku mendengar suara erangan kesakitan diikuti ranjang yang bergetar hebat.
"Kamu dengar itu?" Bisik Varrel tepat di telingaku.
"Jangan sentuh aku!" Aku mulai menangis.
"Eits jangan menangis sayang." Varrel mendekatkan kepalanya ke arahku.
DUG!
Aku mengarahkan kepalaku kepadanya dengan keras,dia menggerang kesakitan.
Pandanganku kabur beberapa detik dan Varrel masih menindih tubuhku,dia mengeluarkan suntikan yang sama persis dengan yang dia berikan ke Ian.
"Bodoh!" Dia mengarahkannya kepadaku.
Aku menghindar dan betapa beruntungnya aku, sedetik kemudian tanganku berhasil menepis tangannya membuat dia melemparkan suntikan mematikan itu.
Aku memukul rahangnya sekuat yang kubisa,di saat itulah dia lengah dan duduk menjauh.
Aku langsung mengambil suntikan itu dan mengarahkannya ke arah Varrel." jangan mendekat!" Seruku.
Varrel menyeringai sedangkan kedua kakiku bergetar hebat, kepalaku terasa berdenyut nyeri, sesekali aku mengusap cairan yang keluar dari hidungku,hidungku berdarah karena terbentur lantai.
"Kamu mau membunuhku?" Tanya Varrel.
Aku melirik Ian yang sudah tertidur tenang di atas ranjangnya,tetapi aku tidak sadar kalau Ian tidak akan membuka kedua matanya lagi.
"Jangan mendekat kubilang!" Seruku.
"Aku sayang sama kamu Acha,kita harus menikah secepatnya." Varrel mendekatiku.
"Jangan harap!Kamu bukan Varrel yang kukenal." Aku masih mengacungkan suntikan itu ke depan.
Varrel tersenyum,untukku itu adalah senyuman yang menyeramkan.
Tangannya sibuk di dalam saku jaketnya,entah apa yang dipikirkannya.
"Acha!" Panggil seseorang dari arah pintu.
Bersamaan dengan teriakan itu Varrel berlari ke arahku dengan pisau bedah yang terarah kepadaku,aku merasakan benda itu menancap dan ditarik cepat hingga tiba-tiba saja rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhku.
Suntikan yang kupegang sudah tertanam di dada Varrel,lalu pisau itu jatuh bersamaan dengan Varrel yang kehilangan keseimbangan,benda itu berhasil menusuk dada bagian kiriku.
"Tenanglah!" Aldi langsung menangkap ku.
"Tatap mataku!Kamu pasti bisa." Aldi menahan aliran darah yang keluar karena tusukan tadi.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu maka dia juga harus kehilanganmu..."Kata Varrel yang mulai menggerang kesakitan dengan badan yang kejang-kejang hebat.
Aku terlihat menyedihkan,rasa sakit ini menyebar ke seluruh badan,bahkan aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.
"Acha lihat aku!" Aldi menatapku dengan air mata yang keluar dari kedua matanya.
Dia menangis?Karena aku...~
"Bertahanlah! Jangan tinggalkan aku..."
Tiba-tiba Jeykey datang diikuti dokter dan beberapa suster,mereka membawaku ke ranjang lalu mendorongnya menuju UGD,Aldi ikut menggiringku,aku menggenggam tangan Aldi erat.
"Ma...af...khuk..." Aku mengeluarkan darah dari mulutku.
Rasanya sangat lemah~
"Mas... aku... sa...yang...." Pandanganku mulai kabur ditambah dengan air mata yang terus mengalir.
"Acha,aku yang bodoh menutupi semua perasaanku sama kamu,jangan pergi..."
"Jangan pernah tinggalin aku Acha!Itu...itu permintaanku yang terakhir." Aldi mengenggamku erat.
Maaf~
Pandanganku mulai menghilang,Aldi meneteskan air mata dan meneriakan namaku,wajah Aldi yang telah hadir di hidupku juga perlahan menghilang,semuanya semakin hitam bahkan rasa sakit itu tidak terasa lagi.