"Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba, tapi kamu juga harus berjanji kalau jari manismu tidak boleh memakai apapun yang bukan pemberianku,dan hatimu jangan sampai ada yang memiliki selain aku."
.
...
"sini dulu kamunya!" Setelah menaruh piring-piring kotor, aku segera kembali ke ruang makan.
"Kamu mau kuliah dimana?" Tanya mamah ketika aku kembali.
"Hm... aku udah nyoba jalur beasiswa sih mah dibeberapa universitas." Jawabku yang duduk di samping kak Nathan.
"Kamu langsung kerja aja di perusahaan papah." Suara papah yang baritone terdengar.
Yaps, papah gue emang punya satu perusahaan walau tidak sebesar milik keluarga Mahendra, dan Lia.bisa dibilang proses.
"Kan udah ada kak Nathan."Aku menunjuk kak Nathan.
"Kamu jadi bawahan gue dek."Katanya dengan menyunggingkan senyum.
"Ish, pokoknya aku mau kuliah." Jawabku keras kepala.
"Kan bisa kerja sambil kuliah, kayak kakak kamu." Papah terus membujukku.
Tapi kan gue mau kuliahnya diluar kota sama Varrel, mana bisa.... Lagian pengumuman beasiswanya masih beberapa minggu lagi, gue gak bisa kepedean buat ngasih tau mamah sama papah duluan. Apalagi kak Nathan bisa-bisa gue diejek tiap hari~ Aku memikirkan banyak hal.
"Aku ke kamar duluan yak, Ngantuk."Aku beranjak dari kursiku, dan pergi begitu saja.
Sebulan berlalu, dan selama itu aku menunggu pengumuman beasiswa di universitas yang sama dengan Varrel, tetapi yang datang justru dari universitas yang lain.
Hari ini adalah hari yang berbahagia untuk Lia, yaps... hari ini adalah hari pernikahannya dengan Ryan, umur mereka terpaut 9 tahun. Tapi Ryan terlihat tampan tidak seperti orang-orang berumur 28 tahun pada umumnya.
"Lama amat lu...." Kak Nathan terdiam setelah membuka pintu kamarku.
"Sebentar lagi." Jawabku yang merapihkan sedikit rambutku.
"Woi, ngapain lu cantik-cantik? Yang nikah kan Lia temen lu."
"emang berlebihan yak? Padahal gue gak pake make up yang aneh-aneh." Tanyaku menatap pantulan diriku di cermin.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Udah ayo, mamah sama papah udah sampe tapi lu sendiri masih di kamar aja." Kak Nathan menarikku.
"Iya, jangan cepet-cepet gue pake highheels nih." Jawabku yang cukup kesusahan memakai sepatu hak.
"Biar apa pake itu kalo gak bisa?" Tanyanya ketika kami sudah di dalam mobil, memulai perjalanan ke hotel White swan tempat acara diselenggarakan.
"Biar tinggi kalo jalan deket lu." Jawabku asal, walau memang kenyataanya begitu sih.
"Pfftt..." Kak Nathan pun tertawa, dan ia tak berhenti mengejekku soal tinggi badanku yang tak terlalu tinggi.
Di aula hotel White swan, Kami bertemu Varrel dia bersama seorang wanita yang berumur 40an. Varrel tersenyum dan mengenalkan kami kepada wanita tersebut yang ternyata adalah ibunya.
"Halo tante." Ucapku sopan, sedangkan kak Nathan hanya tersenyum.
"Jadi dia wanita yang selalu kau bicarakan?" Tante Rosa melirikku sekilas, lalu menatap Varrel.
"Iya mah, Acha cantikkan?" Mata Varrel tidak berpaling dariku.
Tanpa menjawab tante Rosa menarik Varrel menjauh, membuatku terdiam.
"Gak usah dipikirin, kita ke temen lu dulu yuk!" Kak Nathan membuyarkan lamunanku.
"Oke."
Lalu kami menuju tempat Lia dan Ryan bersanding dengan balutan serba putih, mereka tak henti-hentinya tersenyum menyapa para tamu yang menyalami mereka.
Hingga tiba giliranku.
"Selamat ya, gue tunggu debaynya." Aku mengedipkan mataku pada Lia yang terlihat sangat anggun.
"Waw, lu beneran Acha temen gue?" Tanya Lia, secara tidak langsung mengalihkan pembicaraan.
"Menurut lu?"
"Lu tinggian, Lia melihat ke arah sepatu yang ku kenakan, "sejak kapan lu belajar pake hells?"
"Special buat lu, biar kalo poto tingginya sama." Aku mengeluarkan hp ku, lalu kami poto selfie.
"Macet nih." Terdengar nada sindiran dari kak Nathan.
"Gue tunggu cerita lu besok."Bisikku lalu pergi dengan tersenyum jahil.
"Selamat ya, hm... kak Ryan." Aku sedikit bingung memanggilnya apa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Terimakasih, kamu pasti Acha sahabatnya Lia."
Kalau bukan jodoh sahabat gue, gue embat nih cowok. Ya ampun mikir apaan lu ca, dia udah nikah. Kasian Varrel~
"Jagain Lia yak, dia tukang gosip." Kataku memelankan suara agar tidak didengar Lia.
"Pasti."Jawab Ryan disertai senyuman.
Cakepnya jodoh orang~ Ucapku dalam hati, sembari melangkah turun dari sana.
"Hayoo!" Seseorang menoel pipiku.
"Habis dari sana kok senyum-senyum?" Varrel berdiri di hadapanku.