"Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba, tapi kamu juga harus berjanji kalau jari manismu tidak boleh memakai apapun yang bukan pemberianku,dan hatimu jangan sampai ada yang memiliki selain aku."
.
...
Aku melihat sebuah cahaya putih di ujung sana, aku berlari ke sana tanpa mempedulikan seseorang yang memanggilku dari belakang.
"Jangan pernah tinggalin aku Acha!Itu...itu permintaanku yang terakhir." Suara Aldi terus memanggilku dari arah belakang yang gelap.
Aku berlari ke sisi gelap,"Kalau aku tidak bisa memilikimu maka dia juga harus kehilanganmu..."
Aku terdiam itu suara Varrel, "Acha bangun nak,papah hanya ingin yang terbaik buat kamu." Papah menangis.
"Kemari kamu!Kamu harus ikut aku sekarang!" Suara Varrel semakin terdengar keras,badanku bergetar karena takut.
Aku berlari ke asal suara papah,ke tempat yang lebih terang itu,dibelakang ku suara Varrel terus mengejar ku.
Aku membuka kedua mataku,dengan nafas yang terengah-engah,papah yang terkejut langsung memencet tombol di sisi ranjang,kedua mataku memperhatikan sekitar dengan bingung.
Aku di rumah sakit? Apa artinya aku masih hidup?
"Acha,ini papah nak." Papah tersenyum bahagia dan menghapus air matanya.
"Pa...pah...." Aku ingin langsung memeluk papah.
Tetapi apa dayaku seluruh tubuhku berasa sangat lemah,bahkan aku kesusahan untuk menggerakkan tanganku.
Tak beberapa lama kemudian seseorang dokter menghampiriku,diikuti beberapa perawat, mereka memeriksaku secara detail dan menghembuskan nafas lega.
"Saudari Aurellia dalam kondisi stabil,jangan khawatir dia berhasil melewati masa sulitnya, sekarang kita hanya menunggu dia menjalani tahap penyembuhan." Jelas Dokter,setelah itu dokter pamit pergi.
Aku langsung menoleh ke arah papah yang terus menunduk.
Kalau perjodohan gagal,gue bakal sama Varrel psikopat dong~
"Papah sih,Acha jadi kepikiran lagi tuh." Mamah memukul lengan papah pelan.
Aku hanya tersenyum karena bisa melihat mereka lagi, " Memangnya apa yang terjadi?" Tanyaku masih dengan suara yang lemah.
"Waktu itu setelah makan malam,kamu berlari keluar rumah begitu aja kami kehilangan jejak kamu,tapi ternyata kamu pergi sama Varrel." Mamah kembali menangis.
Aku mengusap tangan mamah lembut, "Acha nggak apa-apa kok."
"Waktu itu kalian masuk ke jurang, kebesokkanya kepolisian mencari Varrel karena dia membunuh orang tuanya di malam yang sama ketika kalian masuk ke jurang." Jelas papah.
Hnnggg........
Kepalaku berdenyut dan terasa sakit,tiba-tiba sekelebat bayangan terlintas di pikiranku.
"Varrel apa-apaan kamu?"
Varrel mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi,dia mengacuhkan ku yang mencoba menahannya,awalnya dia akan mengantarku pulang tetapi dia membawaku pergi jauh.
"Karena kamu akan dijodohin sama keluarga kamu,maka kita kabur aja sekarang." Kata Varrel.
"Kita ...kita bisa nikah di luar negri mungkin,atau bagaimana terserah kamu yang penting kita bersama selamanya."
"Aku gak mau kabur begini Varrel." Aku mencoba menahan Varrel.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada yang boleh memilikimu lagi." Tiba-tiba Varrel membanting stir dan membiarkan mobilnya terjatuh dengan kami di dalamnya.
"Acha?" Panggil mamah.
Nafasku terengah-engah, "Acha ingat malam itu mah." Ucapku.
"Varrel... dimana dia sekarang?" Tanyaku.
Papah berdecak kesal, "Untuk apa kamu mencarinya lagi?"
"Bukan gitu, dimana dia sekarang?"
"Varrel langsung diurus sama kepolisian sayang." Jelas mamah,mamah terus-terusan mengelus kepalaku lembut.
Syukurlah... apa aku bisa bernafas lega sekarang~
"Sayang...kenapa?" Tanya mamah.
"Aku senang bisa ketemu kalian lagi aku...aku takut kehilangan kalian lagi." Aku menangis bahagia.
Berarti ini bukan mimpi aku masih hidup,terus selama ini aku hidup di mana?~
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan kak Nathan yang dibalut jas diikuti seseorang yang lebih pendek dari kak Nathan,tanpa sadar aku tersenyum lebar melihat wajah datar pria itu.
"Putri tidur akhirnya bangun juga."Kak Nathan menjitak keningku pelan.
"Apa-apaan sih?" Aku mengusap keningku, sedangkan kak Nathan dijewer mamah.kak Nathan hanya bisa cekikikan.
"Gue kangen berat sama lu,sebulan kerjaan lu tidur mulu tapi gak gendut-gendut juga." Kak Nathan menoel pipiku.
"Ish,diem!" Aku meliriknya sinis.
Pria itu hanya melihat interaksi ku dengan kak Nathan,pria itu atau sekarang aku panggil mas Aldi,dia terus menatapku dengan wajah datar nan dinginnya,tetapi entah kenapa aku bisa menebak ada raut kecemasan di pandangannya.
"Nih, gue bawa calon lu." Kak Nathan mengedipkan sebelah matanya,seolah menunjuk ke arah pria di sampingnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dia juga suka nungguin lu selama lu koma." Bisik kak Nathan.
Blush...
Tatapan itu seolah tidak pernah berubah,tetapi kau tau dibalik tatapannya yang dingin itu,dia memiliki hati yang sangat hangat.
Walaupun aku tidak terlalu mengerti apa yang terjadi,tetapi perasaan senang ini muncul begitu saja,andai tubuh ini tidak selemah sekarang ingin sekali aku memeluk pria itu,dasar pria bodoh.
"Tunggu!" "Kuliah Acha gimana, apa aku ketinggalan juga?" Tanyaku panik.
...The End...
Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca cerita ini sampai akhir,Semoga kalian menikmatinya,have a nice day.