Chapter 10

17 12 0
                                        

Malam yang semakin tampak larut, Dimas seorang diri yang menghabiskan malamnya tanpa kehadiran seorang Rendi, Hanya secangkir kopi dan bintang yang masih setia menemani malamnya, disisi lain Dimas yang merasa senang karena telah nampak jalan untuk cita-citanya, tetapi iapun khawatir akan adiknya yang belum memberi kabar lewat surat, rasa cemas yang dirasakannya bercampur dengan rasa bahagianya.

Kopi  yang tadinya panas mulai menjadi dingin, rasa kantuk yang mulai terasa oleh Dimas.
"Sepertinya aku harus segera tidur, mudah mudahan besok akan ada kabar baik dari Rendi. Aamiin..."
Dimaspun beranjak melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, lalu ia  segera masuk kedalam kamar dan merebahkan seluruh tubuhnya karena rasa kantuk yang sudah mulai menyelimutinya, dengan sedikit harapan, akan ada kabar baik besok pagi dari Rendi adiknya.

Waktu telah berlalu, udara sejuk dipagi hari mulai terasa, berbarengan dengan suara ayam yang berkokok dengan merdu, Dimas yang sudah terbiasa bangun subuh, mulai beraktivitas seperti biasa.

Tepat di jam 8 pagi, ketika hendak menjemur semua cuciannya, ada seseorang yang datang memakai sepeda ontel menuju kehalaman depan rumahnya.

"Permisi, apakah betul ini dengan rumahnya saudara Dimas," tanya orang yang memakai sepeda itu.
"Iya Pak, dengan saya sendiri, ada apa ya Pak?" jawab Dimas dengan tersenyum, berharap bahwa itu dari pihak Kantor Pos yang memberikan surat dari Rendi.
"Oiya, saya petugas dari Kantor Pos, mau memberikan surat untuk saudara Dimas"
"Oiyaa Pak," Dimaspun tersenyum dan mengambil surat itu," baik saya ambil ya Pak, terimakasih banyak sudah mengantarnya"
"Iya sama-sama hehe."

Dimaspun segera membereskan jemuran pakaiannya, lalu iapun duduk dikursi kayu di halaman depan rumah, wajah yang tersenyum karena penuh harap bahwa bingkisan surat itu dari adiknya Rendi. Dibukalah bingkisan surat itu, dan ternyata benar dari Adiknya Rendi.
"Alhamdulillah...." ucap Dimas dengan penuh kebahagiaan.
Dimas pun membaca surat dari Rendi itu.

Dear Ka Dimas....
Assalamu'alaikum....
Hallo Ka Dimas, ini aku Rendi Adikmu yang hebat dan Keren hahaha....
Aku tulis surat ini pada saat aku masih berada dalam kapal, dan sekarang aku sudah sampai di asramaku, Alhamdulillah.
Hmmm, Rendi disini baik-baik saja, karena banyak juga yang dari Indonesia se asrama dengan Rendi, orang-orangnya sangan baik dan ramah, jadi Ka Dimas tidak usah khawatirkan Rendi disini....
Oiya Ka, Kaka gimana kabarnya disana....?
Aku berharap Kaka baik-baik saja.
Hmmm, Rendi baru ingat juga, ternyata disini tidak ada batagor hehe, tadinya kalau ada, mau Rendi selipin di gulungan surat ini hahaha....
Sekian dan terimakasih Ka, aku tunggu surat balasan dari Kaka, atau biar lebih mudah Kaka bisa hubungi aku lewat telpon, ini nomornya Ka. (+31 20 570 5211).
Itu nomor telpon asramaku Ka.
Assalamu'alaikum....

Dimaspun tersenyum melihat dan membaca isu surat dari Adiknya Rendi, disisi lain iapun rindu akan kehadiran Rendi. Matahari mulai terasa terik, menandatakan hari memasuki siang, Dimaspun segera masuk kedalam rumahnya, Dimaspun segera menyimpan surat itu di ruangan gudung bekas Ayahnya, dan kini menjadi ruangan favorit Dimas untuk merenungkan nasibnya dan mencoba belajar untuk menjadi seseorang yang hebat seperti Ayahnya.

Teringat masa-masa terakhir dengan Rendi digudang ini membuat Dimas menjadi terbalut didalam rindu, tetapi Dimaspun selalu percaya akan keindahan rencana Tuhan yang lebih mengetahui sibalik semua ini, walaupun terkadang membuat Dimas seorang diri tak tahan akan semua ini.
"Heeeeh, waktu tidak terasa berlalu, harus bagaimana dengan diriku yang lemah ini, ya Tuhan berikanlah jalan untukku dan masa depan yang indah, karena hanya Engkaulah yang mengetahui segalanya."

Terbesit didalam hati Dimas yang terduduk diatas kursi kayu dengan kepala yang menunduk keatas meja, memikirkan bagaimana cara dia mencari dan mendapatkan masa depannya, walaupun Dimas sudah mengetahui bahwa ada seorang seniman dan sastrawan yang hebat juga diujung kulon sana, tapi Dimas masih merasa bingung dengan semua ini, sampai akhirnya Dimaspun hanya mengakhiri siangnya dengan rasa kantuk dan ketiduran diatas meja yang tadinya akan menulis balasan surat untuk Adiknya Rendi.

Didalam tidurnya Dimas bermimpi bertemu dengan Ayah dan Ibundanya, seraya Ayah dan Ibunya berkata memberikan nasehat kepada anaknya yang sedang merasa kebingungan, dan butuh sebuah asupan nasehat serta penguat untuk melangkahkan kakinya kedepan.

"Anakku Dimas, kamu jangan bersedih hati dan putus harapan, kamu harus mengejar semua mimpi-mimpi kamu dan mewujudkannya...." kata Ayahnya
"Iyaaa Dimas, anakku tercinta, kamu harus semangat jangan menyerah teruslah berjuang, disini Ayah dan Ibu selalu melindungi, dan mendo'akan Dimas dan Rendi, semangat...." kata Ibundanya yang menatap Dimas dengan sebuah senyuman yang indah, dan mereka berduapun merangkul Dimas dan memeluknya dengan erat.

Seketika itu Dimaspun terbangun dan kaget karena bermimpi bertemua dengan Ayah Bundanya, lalu Dimaspun beranjak dan berdiri ke dekat foto Ayah , Ibu, Rendi dan dirinya yang terpajang diatas dinding, dan Dimaspun mencoba mengambilnya.

Lalu Dimas kembali terduduk diatas kursi kembali, dipandangnya bingkai yang berisi foto keluarganya membuat Dimas semakin larut kedalam kerinduan yang sangat dalam, air mata yang seketika itu meleleh dan jatuh kebumi, seraya ia berkata.
"Andai saja Ayah dan Ibu masih ada, mungkin disaat hal seperti ini dirasakan, mereka akan selalu sekat denganku dan aku akan selalu ada didalam pelukannya, dan kamu juga Ren, tetapi bukan kesalahan kamu juga, katena ini adalah tugas dan sebuah cita-cita yang ingin kamu kejar serta wujudkan. Ayah, Ibu maafkan Dimas yang selalu mengeluh dan lemah ini, yang belum mampu menemukan jati diri Dimas untuk kedepannya, mungkin sudah saatnya sekarang Dimas bangkit kembali dari semua ini, setelah mendengar ucapan-ucapan Ayah dan Ibu didalam mimpi Dimas, Dimas merasa dikuatkan kembali dan akan bangkit kembali, Dimas janji."

Dimas memeluk bingkai foto itu dengan erat serta rasa yang bercampur aduk yang membuatnya menjadi lemah, waktupun berlalu begitu cepat, sore hari telah tiba dengan sedikit guyuran hujan yang memberikan sedikit kesejukan serta udara yang terasa dingin, Dimas mencoba untuk menyimpan foto itu diatas meja, karena dalam hatinya sudah bulat tekadnya untuk pergi merantau mencari sosok Pak Ismail, yang mungkin akan bisa belajar banyak darinya, dan menemukan jati diri yang sejatinya.

"Waktu sudah sore, tidak baik bagi diriku untuk hanya melamun dan bersemayam didalam kepedihan serta kerinduan ini, besok pagi saya harus berangkat dan memulai mengayuh perjalanan yang sangat panjang, mengejar harapan serta cita-cita untuk diwujudkan dan menjadi suatu acuan untuk dimasa depan yang lebih indah.
Ayah, Ibu, dan Rendi sekali lagi terimakasih telah menjadi penguat."

Dimaspun segera mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya untuk mengarungi dan menjelajahi dunia ini, terutama sebagai janji, Dimas akan selalu membawa bingakai foto yang terpajang 4 manusia yang diantaranya adalah dirinya sendiri, perjalanan menjelajah duniapun dimulai.

**********

Kupu-KupuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang