Hujan semakin deras saat lelaki disampingku mengemudikan mobilnya setelah tadi menjemputku di kedai kopi. Ku usap lenganku yang mulai terasa dingin membuat lelaki disampingku menoleh.
Lelaki itu meraih jemari tanganku, mengisi sela-sela jariku dengan jemarinya, kemudian menarik tanganku menuju bibirnya. Dia mendaratkan kecupan lembut dipunggung tanganku.
"Dingin, Yang?" Tanyanya padaku.
"Lumayan. Mas kedinginan juga?"
"Enggak. Mas mau peluk kamu, tapi harus fokus lihat jalan."
Hujan membuat jarak pandang kami terbatas, hingga Mas Arya harus menekan lampu hazard agar kendaraan dibelakang kami berhati-hati.
"Ya sudah, ditahan dulu peluknya, Mas. Nanti tiba dirumah baru peluk-peluk."
"Mau peluk gimana? Mama pasti ngajak ngobrol." Keluhnya.
Aku cuma tertawa mendengar keluhannya. Gimana gak tertawa? Tiap Mas Arya ke rumah, Mama selalu mendominasi Mas Arya dengan semua ceritanya. Mas Arya seolah datang ke rumah hanya untuk bertemu Mama. Padahal Mas Arya selalu memberiku kode agar aku menyelamatkan hidupnya dari jeratan Mama. Tapi, aku hanya menikmati dirinya yang tersiksa.
Mama begitu menyayangi lelaki yang bertubuh nacho disampingku. Lelaki yang sudah sabar menemaniku selama tiga tahun ini.
Andai bukan karena kecelakaan motor waktu itu, aku tak mungkin bisa bertemu dengan lelaki sebaik dia. Lelaki yang menabrak sekaligus mengobati luka-luka di tubuhku dengan telaten. Lelaki dengan suara lembut tapi tegas, mampu menyihir indera pendengaranku.
Naluri ingin disayang oleh lalaki berjas putih itu pun timbul dengan sendirinya. Walau tetap, dibagian hati lain, aku masih menyimpan rapat nama lelaki lain yang sudah menghuninya lebih dulu.
Sebenarnya, Mas Arya lebih cocok menjadi model L-Men, susu buat lelaki yang bertubuh atletis. Sangat disayangkan, tubuh atletisnya tidak dipamerkan ke hadapan publik. Tapi jangankan publik, aku saja tidak sering kok melihat dia half naked.
Namun, sekalinya dia membuka baju, membuatku terkena serangan jantung mendadak, sesak nafas dan mataku tak bisa berkedip. Pokoknya, tiap dia bertelanjang dada aku harus bersabar, ini ujian.
Tapi aku lebih suka dia memelukku. Didalam kungkungan ototnya yang liat, belum lagi wangi parfumnya yang manjakan hidungku. Rasanya aku tak mau lepas dari lelaki ganteng ini.
Aku bahkan tak tahu, kenapa lelaki setampan dia bisa menyukaiku? Padahal aku yang jatuh waktu itu, apa kepala dia terbentur setir mobil, sampai-sampai dia bisa menjadi pacarku?
"Jadi besok, Pemred baru mulai ke kantor kamu?" Tanyanya
Aku menghela nafas lelah, "iya. Belum ketemu saja, aku harus udah lembur siapin laporan. Gak kebayang, resenya kayak apa nanti kalau ketemu! Acara kencan kita juga jadi berantakan. maaf ya, Mas." Aku mengusap rahangnya yang mulai ditumbuhi five o'clock shaddow.
"It's oke. Masih ada hari lain, sayang."
"Hari lain apa? Mas kan sibuknya ngalahin Presiden."
"Sibuk banget sih enggak. Cuma kerja Mas kan shifting. Kamu tidur, Mas ngalong. Kamu kerja, Mas tidur."
Aku menghela nafas panjang. Sabar. Sabar. Demi jadi ibu dokter, eh maksudnya istri dokter.
Tangan Mas Arya terulur mengelus puncak kepalaku. "Sabar ya. Namanya juga kerja. Kalau gak kerjaanya yang bikin pusing, bosnya yang bikin pusing. Gak ada yang mulus, sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Do You Remember?
RomanceKalau ada yang bilang, pertemanan dua orang yang berbeda jenis kelamin tanpa ada "rasa" sedikitpun diantara mereka, itu bohong. Contohnya, aku. Arabella Putri, yang masih terjebak dengan perasaan masa lalu. Dan dia, lelaki berwajah menggemaskan itu...
