Apa makanan yang disukai anak-anak pada umumnya? Apa saja yang manis dan menarik mata mereka.
Seperti hari ini, Yedam membawa banyak cupcake untuk dinikmati Jake dan Jay.
Kedua anak kembar sangat lucu, menurutnya, terutama Jake. Yedam gemas sendiri dibuatnya.
Gemas juga, dengan fakta Asahi ternyata tidak menyukai kedua Jake dan Jay. Meski Jay lebih pendiam, anak itu sama lucunya dengan Jake.
"Kakak suka merah muda, ya?" Tanya Jake saat menyantap taburan meses diatas cupcake yang Yedam bawa.
"Kakak suka semua warna. Bagaimana? Enak?" Tanya Yedam.
Jake mengangguk, "Tidak terlalu manis, aku suka." Ucap Jay singkat.
Baru hendak Yedam memulai kembali pelajaran yang tertunda karena cupcake, datang Asahi dengan tumpukan buku di tangannya, melempar buku-buku berat itu dengan kasar di meja tempat Jay dan Jake belajar.
"Bagaimana mau memimpin kerajaan kalau belajar sambil makan." Ucap Asahi/
"Ah, ini agar mereka lebih tenang belajarnya..." Bela Yedam, tidak tega melihat raut wajah Jake berubah masam. Jay santai saja, tampaknya sudah mulai terbiasa dengan Asahi.
"Pesan di mana?" Tanya Asahi mengangkat salah satu cupcake
"Aku membuatnya sendiri."
"Kamu? Bisa membuat cupcake? Kalau begitu, besok aku minta 20 cupcake, warna-warni, terserah mau bagaimana." Perintah Asahi, lalu meninggalkan ruangan dengan Yedam yang masih termenung perkara perintah mendadak Asahi.
Seingat Yedam, istana ini punya puluhan, mungkin ribuan, juru masak yang bisa disuruh saat itu juga... kenapa dirinya?
"Kenapa kakak jadi seperti tukang kue?" Tanya Jake setelah melihat gurunya termenung sebentar.
Yedam hanya tersenyum menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, meminta kedua anak itu untuk lanjut belajar dan tidak menghiraukan Asahi.
"Asa!" Panggil suara ringan, Asahi tau betul itu suara siapa.
"Hm?" Respon Asahi singkat, tak melepaskan matanya dari paragraf-paragraf mengenai sejarah, sambil membayangkan bagaimana orang-orang akan menulis sejarah tentang dirinya.
"Sedang apa?" Tanya Sunghoon yang hari ini datang dengan pakaian yang rapih dan bersih.
"Aku terlihat sedang membersihkan taman, ya?" Tanya Asahi
"Ah... andaikan aku boleh memukul kepalamu."
"Pukul saja, bukan pangeran lagi."
Sunghoon menatap Asahi aneh sambil bertolak pinggang, "Astaga, kamu selalu saja berlebihan... Semua orang diluar kastil juga lebih tau Hamada Asahi, bukan Hamada Jay atau Hamada Jake."
"Jangan sebut nama anak kembar itu. Nama yang tidak kreatif, menyontek nama orang barat."
"Lihat, sejak kapan Hamada Asahi akan memperdulikan nama orang? Wajar saja, ibu mereka peranakan barat."
"Entah siapa yang bodoh jatuh cinta dengan wanita berdarah peranakan. Mana bisa dia bersanding untuk jadi permaisuri."
"Sa, tetap saja ini bukan salah kedua anak itu."
"Kamu menyalahkan ayahku? Mau aku laporkan sekarang?"
Sunghoon memukul kepala Asahi, "Lalu aku akan digantung di balai kota, lalu kamu yang harus memimpin bagian militer, kamu yang harus pergi berperang."
Asahi mematung, baru pertama kali kepalanya dipukul, "Rasanya begini?"
Sunghoon tertawa melihat reaksi Asahi, begitupun Asahi yang menertawakan dirinya sendiri.
Yedam merasa bersyukur setidaknya pernah melihat tawa Hamada Asahi secara langsung sebelum dia mati.
