21. Mishaps II

612 116 35
                                        

⚠️ Content Warning / Peringatan Konten ⚠️

⚠️ Menyebutkan darah dan tragedi ⚠️


























Sinar remang dari bulan menyinari malam sepi di kamar yang biasanya penuh dengan suara manusia atau pun benda mati yang masih bekerja sampai larut.

Sinarnya tidak terlalu terang, tapi cukup untuk menerangi wajah yang sedang murung. Cahaya tampak lembut jatuh di hidungnya yang mancung dan matanya yang berair. Cahaya itu pula yang memperlihatkan dengan jelas jejak air mata yang mengering di pipi anak itu.


Sudah tujuh hari kembarannya menghilang tanpa kabar. Tujuh hari pula dia tidak sekolah, menginjakkan kakinya ke tempat penuh kenangan bersama orang yang disayangnya itu pun tidak, hatinya sakit.

Setiap pagi dan sore hanya ada ucapan maaf dari para perwira yang gagal menemukan saudaranya.

Untuk pertama kalinya, dia ingin marah, ingin membalikkan seluruh isi dunia dan mencari kemana saudaranya.

Dia tidak suka ditatap menyedihkan, alasan kenapa dia hanya keluar untuk makan. Tidak tahan. Bahkan seorang Hamada Asahi rela mengantarnya ke kamar, pasti karena iba, dia tidak suka diperlakukan seperti itu.




Tadi sore, Ryujin beserta kekasih dan kakak-kakaknya kembali pulang ke kerajaan mereka. 

Jake harus berpisah lagi. Meski Ryujin sudah berjanji untuk mengunjungi Jake tiga bulan sekali, serta rutin mengiriminya surat, lagi-lagi Jake merasa kosong.

Mengapa semua orang meninggalkannya?




Netranya menangkap sosok Sunghoon yang mengacak rambut frustasi sambil berkacak pinggang. Suara Sunghoon berubah lantang namun tertahan kalau sedang kesal, menurut pengamatan Jake selama enam bulan terhadap Sunghoon.

"Menemukan anak kecil saja tidak bisa? Sudah seminggu, aku tidak tahan melihat anak yang lain mengurung dirinya sendiri di dalam kamar. Kalian semua tau kalau dia suka berlarian di luar, kan?" Teriak Sunghoon lantang, angin membawa suaranya terdengar jelas ke telinga Jake.

Jake terharu, air matanya turun lagi. Dia akhirnya menutup jendela karena tidak mau berlarut sedih. Sudah cukup Jay, jangan Sunghoon turut jadi alasan air matanya jatuh.






























Ibunya? Ibunya sakit. Beberapa kali dia jenguk dan kondisinya tetap sama. Seusai bangun langsung menangis sampai tertidur kembali.

Sebelum pulang, Ryujin meminta Jake untuk mencoba memeluk ibunya, barangkali dia berhenti menangis.







Jadilah seusai makan malam, Jake mengunjungi ibunya, masih menangis dan memeluk mainan yang ia jahit untuk Jay dan dia, saat mereka bayi.

Jake kira memeluk ibunya akan membuat wanita itu membaik, nyatanya tangisnya malah semakin kencang, bahkan beberapa kali mengetuk kepalanya dengan keras.

"Ibu, sudah, jangan menyakiti diri sendiri..." Ucap Jake sambil menahan kedua tangan kurus ibunya. Kukunya yang pucat memperlihatkan dengan jelas adanya bercak darah, "Ibu, aku bilang sudah!" Teriak Jake tidak tahan.

Beberapa perawat yang diminta untuk berjaga mencoba membantu Jake menahan tangan selir muda itu. Jake kemudian menarik dasinya, mengikat tangan ibunya yang sekarang penuh dengan darah ke tiang tempat tidur.

BreakthroughTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang