Sequel - Past and Present

781 77 9
                                        

—20 tahun yang lalu—








Bulan memancarkan sinar benderangnya, memecah kegelapan di langit kelabu. Cahayanya yang terang menembus sampai ke tirai-tirai tipis. 

"Bodoh!" Bentak seorang wanita dengan gaun menjuntai.

"Ma-maaf, Baginda Ratu..." Mohon seorang wanita dengan pakaian lusuh yang sedang berlutut di lantai, di kanan dan kirinya, terdapat keranjang bayi dengan selimut berwarna biru dan merah.


"Kau tidak dengar? Anak perempuan sudah cukup! Dia hanya minta satu! Kenapa turut kau bawakan anak laki-laki?" Hardik wanita yang dipanggil 'Baginda Ratu' itu.

"Sungguh, maafkan aku, Baginda... tolong ampuni aku..."

"Anakku, harus dia yang jadi penerusnya! Kau tidak mengerti?!"

"Maafkan aku, Bagind--"



Wanita yang dipanggil Ratu itu melemparkan vas bunga kaca ke wajah wanita yang berlutut, "Kurang ajar! Apa kamu berambisi untuk menjadi seorang permaisuri?! Kamu ingin anak harammu itu yang menggantikan suamiku?!" Cecarnya memotong ucapan yang berlutut.




Vas itu pecah, serpihannya berterbangan sampai ke keranjang para bayi, "A-aku tidak pernah memiliki pikiran seperti itu..." Ungkapnya sambil membersihkan pecahan-pecahan kaca yang kasat mata dari para bayinya.

"Buang anak laki-laki itu." Perintah wanita yang dipanggil Ratu, meninggalkan wanita yang berlutut dengan air mata berlinang sambil mencoba menenangkan bayi laki-lakinya yang mulai menangis.
























































"Sunghoon... maafkan ibu, ya? Tenang saja, kamu akan hidup dengan damai juga seperti kakakmu." Ucap wanita dengan pakaian lusuh itu membawa bayi laki-lakinya ke tengah hutan.

Dia tau dia tidak akan mungkin, dan tidak bisa merawat bayi-bayinya, terutama yang laki-laki.

Dia berencana untuk menyusupkan bayi laki-lakinya ke kereta kuda yang lewat, sedangkan yang perempuan akan dia berikan kepada Ratu untuk dijadikan anak.





















Seakan tau apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Dia menuliskan surat untuk kedua anaknya. Sebisa mungkin, dengan segala keminiman ilmu yang ia dapat.

Untuk yang laki-laki, diselipkannya surat itu ke dalam keranjang berselimut biru.

Untuk yang perempuan, dia menitipkannya kepada seorang teman sejawat, yang tau segalanya, untuk diberikan nanti kepada anak yang perempuan.

Dia sudah menulis segala petunjuk yang barangkali si gadis butuhkan—karena hidup seorang putri kerajaan tentulah akan lebih beruntung dari anak yang diseludupkan ke kereta kuda sembarang orang.






















Setelah menyerahkan anak perempuannya, Chaeryeong, perempuan muda yang setiap hari memakai pakaian lusuh itu ditemukan mati keracunan.











































Kedua surat sampai dengan selamat, si anak laki-laki lebih dulu diberikan catatan tentang hal-hal yang perlu ia ketahui.

Dia diasuh oleh istri seorang penjagal daging, yang kemudian memberikannya pekerjaan sebagai pengantar koran saat kanak-kanak.

BreakthroughTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang