Mengenai hati yang telah kau hancurkan, aku ingin mengabarkan sesuatu padamu.
Dia, si hati keras kepala kerap kali menghasut ku untuk memberimu kabar. Dia, yang selalu tersakiti dengan kenyataan seputar mu.
Pernahkah kau merindukan hatiku? Merindukan kelembutannya saat bersungguh- sungguh menyayangi mu?
Mungkin, kau rindu, bahwa akhirnya perempuan yang sedang kau gandeng tangannya tidak sesabar aku.
Ah iya, kau kan baru bersama dia. Pasti kau sedang bahagia bahagianya :).
Lihat, hatiku selalu menangis hanya karena merindukan lelaki yang tidak menginginkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah Epilog
PoetryKehilangan itu tidak perlu sebuah kalimat pamitan, kehilangan akan terus meninggalkan sayatan. Yang namanya ditinggal pergi tidak semenyenangkan saat mengingat sebuah janji Kau memilih putar arah lalu pergi Padahal cerita kita masih banyak lembar...
