"Makasih tumpangannya, Dev," ucap Anneth sembari memberikan helmnya ke Deven. Lelaki itu mengangguk sebagai respon. Tak lupa, ia mengacak rambut Anneth yang malah membuat empunya tersipu.
"Masuk gih."
Anneth mengangguk seraya tersenyum. Memperlihatkan lesung pipi nya. Setelah melambaikan tangannya, Anneth segera berjalan memasuki pekarangan rumah. Namun, tepat sebelum Deven menancapkan gasnya, terdengar teriakan Anneth.
"Semangat pdkt-nya, Dev!"
Seutas senyum terbentuk di wajah Deven. Lagi-lagi, Anneth berhasil membuat pipinya panas hanya dengan cara sederhana.
Begitu Anneth sudah masuk rumah, Deven melajukan motornya di jalanan. Sungguh, hatinya sedang bimbang sekarang. Bagaimana caranya agar mendapatkan Charisa?
Untuk menyegarkan pikirannya itu, Deven mampir ke sebuah Cafe. Mungkin secangkir kopi dingin mampu memberikan ide untuk memperjuangkan gadis yang disayanginya itu.
Ia memilih kursi di dekat jendela. Ditatapnya pemandangan jalan raya yang sedang padat-padatnya karena memang sedang jam pulang kantor. Namun netranya menangkap sesosok wanita yang sangat ia kenali. Tunggu, sedang apa wanita itu? Ya ampun, benarkah? Ia sedang bermesraan?
Dengan langkah tergesa-gesa ia mengambil kunci motornya. Tak lupa sebelumnya ia menaruh sejumlah uang dimeja. Rahangnya yang mengeras, serta tangan yang dikepal kuat, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bagaimana Deven berusaha keras menahan emosinya.
Jaraknya kini sudah dekat. Hatinya begitu hancur meliha wanita yang selama ini sangat ia sayangi, ternyata mengecewakannya.
"Mama!"
***
"Anneth itu ada teman kamu, turun cepat."
Anneth menggerutu sebal begitu mendengar panggilan maminya dari lantai bawah. Dengan langkah gontai ia turun dari kamarnya. Berjalan menuju ruang tamu. Tak lupa dengan sebungkus chiki yang ia bawa dari dapur.
"Siapa sih-"
Nafas Anneth tercekat. Chiki yang ia genggam, jatuh berserakan. Kakinya seketika lemas. Mami Anneth tak menyadari perubahan anaknya itu. Beliau melanjutkan tugas rumah yang sempat terhenti karena suara bel dari teman Anneth.
"Hai, Delliecia."
Senyuman itu, Anneth hafal betul. Tanpa sadar, Anneth menggenggam lengan kanannya. Tempat dimana orang dihadapannya selalu membuat luka dengan menggunakan benda tajam. Tanpa merasa bersalah, ia duduk di sofa. Menyenderkan punggungnya dengan nyaman. Lantas tersenyum miring sembari menatap Anneth dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kamu tak pernah berubah, Neth," kekehnya.
Anneth menghela nafas kasar. Sibuk mengatur degup jantungnya yang terasa begitu kencang. Ia pun ikut duduk di sofa. Berusaha bersikap senormal mungkin.
"Ngapain disini?"
Sekuat mungkin Anneth menahan suaranya agar tak bergetar. Lelaki dihadapannya kini tertawa kecil. "Santai saja, Neth, gue ga bermaksud jahat kok."
"Kamu ngapain disini, Aland?" Anneth mengulang pertanyaannya. Ia memberanikan diri menatap netra lelaki itu.
"Hey, jangan galak-galak, sayang," kekeh Aland. Tangannya meraih minuman yang sebelumnya sudah disiapkan oleh mami Anneth.
Mendengar jawaban Aland, Anneth memutar bola matanya. Jengah. "Pergi."
Aland tersedak begitu mendengar pernyataan Anneth. "Sejak kapan kau tak punya sopan santun, Delliecia?"
"Aku bilang pergi." Dengan tatapan dingin, Anneth berdiri. Tangannya membuka pintu rumahnya. Mempersilahkan Aland pergi. Meski awalnya Aland tak terima, akhirnya ia mengalah. Kakinya melangkah keluar. Ketika dirinya berpapasan dengan Anneth, ia menghentikan langkahnya. Sementara Anneth menunduk. Berharap agar Aland cepat pergi.
"See you, Delliecia." Tangan Aland terangkat. Diacaknya rambut gadis itu. Tersenyum. Lantas berlalu. Meninggalkan Anneth serta luka lamanya yang kini terbuka lebar. Usahanya selama ini untuk menyembuhkan luka tersebut, sia-sia.
Dengan sisa kekuatannya, Anneth memutuskan menghubungi seseorang yang ia percaya. Berhasil, panggilan sudah tersambung.
"C-cha, tolong..."
Disinilah mereka berada. Rumah Charisa dengan kedua sahabatnya yang menemani. Anneth akhirnya bercerita. Semuanya. Mulai dari pindahannya ke Florida, hingga kejadian Aland yang mempermalukannya saat acara kelulusan.
Tunggu, sepertinya itu belum diceritakan. Mungkin chapter selanjutnya kalian akan mendapatkan jawabannya.
"Nethi..."
Anneth menoleh ke arah Joa yang memanggilnya. Melihat tatapan sayu sahabatnya, Joa segera mendekap tubuh Anneth erat. Diikuti Charisa yang sedari tadi menahan sesak atas kejadian malang yang dialami Anneth.
"Cha." Panggil bunda Charisa dari luar kamar.
Dengan cekatan, Charisa membuka pintu kamarnya. Terlihat diluar bundanya serta seorang lelaki dengan penampilan yang sangat berantakan. Serta luka dimana-mana. Charisa tercekat. Ia menatap Deven prihatin.
"Deven kenapa? Kok bisa gini?"
Deven tak mengidahkan pertanyaan Charisa. Ia hanya menarik lengan gadis itu keluar rumahnya. Mengajak Charisa kesuatu tempat. Meninggalkan Anneth dan Joa yang tak paham dengan apa yang terjadi sekarang.
"Deven..."
Joa yang mengar lirihan Anneth, menoleh. "Neth? Kenapa?"
"Deven sukanya sama aku kan, Jo?"
Terdengar helaan nafas Joa. Ia memeluk Anneth untuk yang kesekian kalinya. Sungguh, ia tak begitu yakin akan perasaan Deven sebenanrnya ditujukan ke siapa. Namun ia berharap, Anneth segera mendapatkan kebahagiaannya.
"Iya Neth, Iya."
______________________________
HAI KALIANNN !
Makasi banyak yah yang udah setia baca ini cerita, padahal digantung terus sama author wkwk
love u all !
- 10/02/2021 -
KAMU SEDANG MEMBACA
The One And Only [END]
FanfictionKisah tentang 2 manusia yang terjebak dalam kesalahpahaman dan tidak mau mengakui keadaan. Cerita tentang 2 manusia yang bimbang dalam memilih keputusan. Mencintai atau dicintai? Mana yang lebih baik? . . . Story about Neth.Dev.Cha ________________...
![The One And Only [END]](https://img.wattpad.com/cover/171964547-64-k566937.jpg)