EMPAT BELAS

1.2K 92 4
                                        

Aku percaya ada pelangi setelah hujan reda. Namun aku belum bisa percaya ada senyuman setelah kenangan menyapa.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Anneth menatap langit-langit kamarnya nanar. Kejadian tadi sore berputar di memori ingatannya. Bagaimana Deven menarik tangannya menjauhi taman. Bagaimana Deven menghiburnya yang sedang terisak. Dan, bagaimana dia kembali membawa seluruh masa lalu yang sudah lama terlupakan.

"Andrew...," lirih Anneth.

Ia tau apa yang harus dilakukan sekarang. Memberi tahu Andrew.

"Halo, Drew."

***

"Halo juga, Cha. Kenapa?"

"Lo dimana?" tanya Charisa di seberang sana.

"Di rumah."

"Udah ngerjain PR nya?"

"Udah kelar kok. Tenang aja," balas Deven santai.

"Bagus deh. Fotoin ya," pinta Charisa yang mengundang decakan kesal Deven.

"Heh! Enak banget, lu!"

"Biarin," cibirnya.

"Ya udah, iya."

"Gitu dong. Makasih, Dev!"

"Eh, Cha-"

"Astaga! Di putus ama dia. Dasar, Ucha!" omel Deven yang menyadari sambungan telepon nya diputus secara sepihak.

Sementara di ujung dunia sana, Charisa sedang cekikikan membayangkan wajah Deven yang terlipat karena sedang kesal.

"Eh, kok gue penasaran apa yang Deven ama Anneth lakuin tadi? Apa gue tanya Nethi aja ya?"

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Charisa memutuskan menelpon Anneth. Sekalian curhat, katanya.

"Nomor yang anda tuju sedang sibuk."

"Lah, tumben Nethi telponnya sibuk," gumam Charisa heran.

Karena tak tau ingin melakukan apa, akhirnya Charisa memutuskan untuk tidur. Lumayan, daripada mikirin orang yang gak mikirin kita kan?

***

"Neth, sekarang kamu tenang, ya. Semua akan baik-baik aja kok."

"Tapi aku takut, Drew. Sekarang gak ada kamu disini. Gimana caranya aku tenang?"

"Aku bakal cari akal supaya dia gak apa-apain kamu. Aku gak bakal biarin dia nyakitin kamu untuk yang kesekian kalinya. Sekarang, jangan nangis."

"Iya, Drew. Makasih selalu ada buat aku."

"Itu gunanya sahabat, kan?"

Anneth menyunggingkan senyumnya.

"Tenang, ya. Jangan panik. Aku selalu lindungin kamu dari sini."

"Iya. Udah dulu ya, Drew."

"Iya, Neth. Kalau ada apa-apa, jangan lupa bilangin ya."

"Oke."

Anneth memutuskan telponnya. Ia menghela nafas gusar. Pikirannya berkecamuk sekarang.

Hey, bagaimana kalau dia membuatnya tersakiti lagi? Bagaimana kalau dia membuatnya bersedh lagi? Bagaimana kalau dia... menurunkan harga dirinya lagi?

***

"Gak bakal."

"Hah? Kok gak bakal?" tanya Joa penasaran.

"Ya iyalah! Kan gue ngerjain pr nya. Jadi gak bakal dihukum. Ya gak?" Charisa memperlihatkan cengirannya.

Joa memutar bola matanya malas. "Iya-iya. Semerdeka mu lah."

Ia kembali ke tempat duduknya.

Bersamaan dengan Anneth datang.

"Hai, Neth!" sapa Charisa.

Anneth hanya tersenyum tipis. Lantas, menduduki bangku nya.

Melihat itu, Charisa mengecek dahi Anneth. Tidak panas. Kenapa Anneth lemas? Pikiran Charisa sibuk menerka-nerka. Sementara Joa hanya bisa menatap Anneth prihatin.

"Anneth mana?"

Charisa dan Joa menoleh ke pintu. Di sana, terdapat seorang lelaki yang sedang berusaha menormalkan napasnya.

"Masuk dulu lah, Dev." ucap Joa.

Deven mengangguk. Lantas, berjalan menuju bangkunya.

"Tadi lo nanya Anneth, kan?" Charisa memastikan.

"Iya. Mana orangnya?"

"Tuh!" tunjuk Joa kepada Anneth yang sedang menelungkupkan kepalanya.

Deven mendekati bangku Charisa dan Anneth.

"Minggir bentar dong, Cha," pinta Deven.

Charisa bangkit, mempersilahkan Deven duduk di bangkunya.

"Sudah gak papa, kan?" tanya Deven lembut.

Anneth terdiam. Tidak menggubris pertanyaan Deven.

"Masih kebayang kejadian kemaren?"

Mendengar pertanyaan Deven, Anneth mengangkat kepalanya. "Jangan bahas itu ya, Dev?" pinta Anneth lirih.

Deven mengangguk paham. "Gak bakal lagi, deh. Tapi jangan lemas gitu. Kita khawatir," ucap Deven yang diikuti persetujuan Charisa dan Joa.

Anneth tersenyum. Setidaknya masih ada yang peduli dengannya.

***

"Ya iya lah!"

"Santai dong, Cha."

" Ya habis, kamu nanya nya gitu," sungut Charisa.

Joa menghela nafas.

Yang dihadapinya ini anak kelas 10 atau bocah sih? Hanya dengan pertanyaan sepele sudah kesal seperti anak kecil yang tak mendapat es krim. Dasar Charisa.

"Sore ini jalan-jalan, yuk!" ajak Joa yang langsung dibalas anggukan antusias dari Charisa.

"Ayo! Ajak Anneth sekalian."

"Boleh tuh."
______________________________________

Halo semua!
Terimakasih atas penantian berharganya ya....
Maafkan aku jarang banget update.
Lagi masa masa labil guys.
Jadiiii thank you so much ❣️
Oh ya, udah pada liat cover Joa Ama Sam kan?
Pengen tetap FriQuine atau ganti JoSam ? 😅
Dah ya....
Babay! See you later....

- Minggu, 17/03/2019

The One And Only [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang