TIGA PULUH DUA

156 19 1
                                        

Sesampainya di kelas, keduanya -Charisa dan Deven- dikejutkan dengan Anneth dan seorang lelaki yang bukan merupakan siswa di kelas mereka. Hanya berdua. Mengingat sekarang jam baru menunjukkan pukul 06.00 tak mengherankan kebanyakan siswa masih belum hadir.

Charisa menatap lelaki itu penasaran. Sementara Deven sudah mengepalkan tangannya. Merasa kesal dengan pemandangan di depannya ini. Namun sebisa mungkin ia tutupi kekesalan tersebut dengan menggandeng tangan Charisa masuk ke kelas.

"Pagi, Neth!" Charisa menyapa. Sukses membuat Anneth menoleh pada dua insan yang baru saja datang.

Anneth hanya membalas dengan senyuman. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan. Tak bisa membalas sapaan Charisa dengan perkataan. 

"Nanti tukar kursi lagi ya, Neth? Gue mau sama Clinton, boleh ya?" pinta Charisa seraya menggoyang-goyangkan lengan Anneth. Tak peduli dengan lelaki di hadapan Anneth yang sedang menatapnya bingung. Hey siapa gadis ini yang seenaknya mengganggu kegiatan sarapan sahabat kesayangannya?

"Iya-iya, Cha. Aman," balas Anneth kemudian. Ia terkekeh pelan. Sesaat kemudian, ia meminum air putih yang sudah ia bawa dari rumah. Menyudahi kegiatan sarapannya.

"Aku balik ya, Neth. Belajar yang benar. Ambil lagi posisi siswa teladan kamu," pamit lelaki itu. Ia mengacak rambut Anneth pelan. Tersenyum.

"Iya, hati hati, Ndrew!" Anneth melambaikan tangannya. Andrew membalas lambaian tangan Anneth. Lalu berlalu meninggalkan sekolah sahabatnya.

Sepeninggalan Andrew, Deven berjalan menuju bangku kosong di sebelah Anneth. Duduk di sana. Bertukar posisi dengan Charisa. 

"Ketemu lagi kita, Dev," kekeh Anneth ketika melihat wajah kusut Deven. Tangannya  terangkat untuk merapikan rambut Deven yang sudah berantakan. "Masih pagi loh, Dev, kok sudah nggak rapi?"

Deven mengangkat bahunya. Moodnya sedang buruk sekarang. Jangan tanya kenapa. Tentu saja karena Charisa memilih duduk bersama Clinton. Haha, Deven masih tidak sadar. Alasan moodnya buruk yang sebenarnya adalah karena kekesalan ia ketika melihat Anneth bersama Andrew tadi.

"Tau tuh, ketua kelas padahal, tapi nggak ada wibawanya," sarkas Charisa diikuti tawa gadis berlesung pipi di sebelah Deven. 

Mendengarnya, Deven mendengus. Lihatlah, pujaan hatinya bahkan memperburuk suasana hatinya. Ingatkan Deven untuk mencueki Charisa setelah ini. Itu pun jika ia sanggup.

Setelahnya suasana kelas itu hening. Deven yang menelungkupkan kepalanya di meja, berusaha menormalkan moodnya. Anneth yang sedang mengatur detak jantungnya yang mulai tak beraturan. Serta Charisa yang -lagi lagi- sedang memikirkan perkataan Clinton kemaren.

"Ucha!"

Ketiganya reflek menoleh ke arah pintu. Terlihat Friden yang sedang mengatur nafasnya. Celingak-celinguk ke kelas mereka. Seolah mencari seseorang.

"Joa belum datang, Den." Anneth memberitahu Friden. Tau betul apa yang dicari oleh lelaki itu.

Friden menghela nafas. Ia melangkah masuk. Mendekati meja Joa. Lalu meletakkan kotak belak ke dalam lacinya. 

"Bilangin dia jangan lupa dimakan." Charisa mengangguk paham mendengar pesan Friden. Melihat respon Charisa, Friden tersenyum. Ia pun keluar kelas. Meninggalkan ketiga manusia itu di dalam kelas mereka yang masih sepi itu.

"Joa tumben belum datang."

Anneth mengangguk setuju. Tangannya meraih handphonenya. Berniat menghubungi Joa. "Coba aku telfon deh."

Namun napas Anneth tercekat ketika melihat sebuah pesan dari nomor tak dikenal. 

'Hai Delliecia. Pertemuan kita kemaren tidak menyenangkan bukan? Bagaimana jika kita bertemu lagi hm? Ku rasa akan menyenangkan. Ku tunggu kau di taman dekat rumah mu. Pukul 15.00'

The One And Only [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang