"Cha, lo lagi suka sama seseorang, nggak?"
Charisa tersentak karena pertanyaan lelaki di sampingnya. Kepalanya sontak menoleh ke Deven, sahabat yang sedang membersamainya sekarang.
"Pertanyaan lo random banget deh, kenapa sih memangnya?"
Deven mendecak. "Jawab aja sih, susah bener."
Charisa menghela nafas mendengar ucapan Deven yang terkesan memaksa. Dia memang sudah mempunyai perasaan terhadap seseorang. Tapi Charisa takut untuk mengakuinya di depan Deven. Takut sahabatnya ini tidak menerimanya.
"Iya. Gue lagi suka sama seseorang sekarang." Akhirnya Charisa menjawabnya.
Deven tertegun. Bolehkah ia berharap orang yang disuka oleh Charisa adalah dirinya?
"Siapa?"
Gadis di sebelah Deven ini memutar bola matanya malas. "Kepo banget sih, lo!"
"Kan penasaran, Cha," bela Deven yang dibalas cibiran dari Charisa.
"Peduli amat lo ama gue! Suka ya lo?"
Niat Charisa hanya bercanda menanyakan hal itu. Namun, respon dari Deven membuat Charisa ingin memusnahkan saja sahabatnya ini.
"Iya. Gue suka sama lo."
Deg.
"Hah, Dev. Becanda lo nggak lucu, ih!" tawa Charisa canggung, ia menoyor bahu Deven cukup kencang. Sementara yang didorong sudah terjatuh dari kursi yang mereka duduki.
"Ampun, Cha! Gue becanda doang, elah!" sungut Deven sembari menepuk-nepuk bajunya yang kotor karena bertemu dengan pasir.
Seolah tak merasa bersalah, Charisa malah tertawa kencang. Puas akan apa yang menimpa pada sahabat cowoknya itu.
Namun ketika melihat Deven duduk di kursi dengan wajah kusut, Charisa pun berusaha menghentikan tawanya. Walaupun ia harus berusaha melakukan itu mati-matian. Maaf Dev.
"Lo mah bisanya ngetawain, doang."
"Iya-iya, maaf deh," pinta Charisa sembari tersenyum manis. Dimanis-maniskan, lebih tepatnya.
"Iya," balas Deven tanpa menghadap ke gadis itu. Bukan apa, tapi senyuman Charisa sukses membuat jantungnya berdebar.
"Dev, pulang yuk!"
Deven menoleh ke arah Charisa. Terlihat ia sedang melihat jam tangannya sambil sesekali melihat langit yang mulai menjingga. Deven tersenyum tipis.
Sepertinya ini bukan waktu yang tepat, tunggu ya Cha...
"Yuk!"
***
Pukul 17.30, dan Anneth masih tak ada niat untuk beranjak dari tempat ini. Taman yang tak jauh dari rumahnya. Bahkan seragam sekolahnya masih menempel di badannya. Ya, Anneth sudah berada di sini sejak pulang sekolah. Tanpa mampir ke rumah terlebih dahulu.
Alasannya sederhana, hanya ingin menenangkan pikirannya yang akhir-akhir ini lelah akibat mengingat kembali masa lalu kelamnya itu.
Anneth menghela nafas. Kakinya sibuk memainkan kerikil yang bertumpuk di tanah. Sementara pikirannya sibuk menerawang. Menembus waktu menuju masa lalu.
"Lo tahu kan, Neth? Gimana nggak sukanya gue ke lo?"
Lelaki itu menyeringai, sementara Anneth hanya menunduk takut. Hatinya sibuk berdoa agar Andrew segera datang. Sementara otaknya berpikir bagaimana caranya agar ia bebas.
KAMU SEDANG MEMBACA
The One And Only [END]
FanfictionKisah tentang 2 manusia yang terjebak dalam kesalahpahaman dan tidak mau mengakui keadaan. Cerita tentang 2 manusia yang bimbang dalam memilih keputusan. Mencintai atau dicintai? Mana yang lebih baik? . . . Story about Neth.Dev.Cha ________________...
![The One And Only [END]](https://img.wattpad.com/cover/171964547-64-k566937.jpg)