"Oh, jadi ini yang namanya Friden.."
Friden mengangguk patah-patah. Sementara Joa memainkan jarinya, canggung.
"Jaga Joa baik-baik, ya?"
Seketika, wajah Friden sumringah. "Iya, om. Pasti."
Joa pun bisa menghembuskan nafas lega melihat ayahnya bisa menerima Friden dengan baik.
"Aku tegang banget loh, ya ampun."
Joa terkekeh mendengar keluhan Friden, "Iya-iya, paham kok. Aku juga tegang tau, papa galak banget mukanya."
Friden menepuk pelan tangan Joa. "Nggak boleh gitu sama papa sendiri, sayang..."
Joa yang sedang menatap rerumputan di sekeliling mereka, terkesiap. Tadi Friden memanggilnya apa? 'Sayang'?
"Eh, muka kamu kenapa merah, Jo?"
Joa tak menjawab, ia memukul lengan Friden kasar. "Gara gara kamu tuh!"
"Lah, Jo? Mau kemana?" Friden segera mengejar Joa yang sudah memasuki rumahnya terlebih dahulu.
Sementara Joa tak menghiraukan panggilan Friden, ia tetep berjalan sembari menutupi semburat merah di pipinya dengan tangannya.
"Kenapa balik lagi, Jo? Katanya tadi mau ngobrol di taman belakang," tanya mama Joa begitu melihat Joa kembali ke rumahnya, dengan Friden yang mengerjarnya di belakang.
"Itu ma, Friden ngeselin...." adu Joa bersamaan dengan tibanya Friden disamping gadis itu.
Friden yang mendengar namanya disebut, segera menolehkan kepalanya. Menatap gadisnya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Aku salah apa, Jo?"
Joa mendelik mendengar pertanyaan Friden, sementara mama Joa hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua remaja yang sedang jatuh cinta ini. "Jo, jangan gini dong, bicarain baik-baik, oke?"
Joa menatap mamanya, lantas mengangguk. Kemudian ia mengajak Friden untuk kembali ke bangku taman yang tadi mereka duduki. Lima menit pertama, diisi oleh keheningan, Joa yang tak tahan dengan kesunyian tersebut pun buka suara.
"Tadi maksud kamu manggil 'sayang' apaan?"
Sontak Friden cengo mendengar pertanyaan Joa. Ya ampun, jadi karena itu?
Friden terkekeh, lantas mengacak rambut Joa pelan. "Emang ga boleh, Jo? Kita udah official juga kan?"
Joa mengangguk kecil, yang langsung dibalas senyuman gemas dari pria disampingnya.
"Kamu nih ada-ada aja, Jo. Salting ya? Ih lucu banget sih, pacar siapa ini..." Friden menguyel-uyel pipi Joa yang malah semakin merah karena malu.
Joa menghempaskan tangan Friden pelan. "Jangan gitu, aku malu."
Friden tertawa kecil, lantas mengangguk patuh. "Siap ibu negara!"
"Dasar," kekeh Joa.
***
"Gimana kemaren jalan-jalannya?"
Anneth mengherdikkan bahu, tak ingin membahas pertemuan itu.
Charisa memicingkan matanya, curiga. "Deven ngomong apa sampai lo nggak mau bahas ini, Neth?"
Anneth menoleh, terdiam. Otaknya sibuk memikirkan alasan. Sementara di depannya, Charisa sudah menatapnya tajam, menunggu jawaban.
"Kami nggak ngebahas sesuatu yang penting juga sih, Cha. Makanya aku nggak mau cerita, nggak ada yang menarik soalnya," kekeh Anneth disertai cengirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The One And Only [END]
FanfictionKisah tentang 2 manusia yang terjebak dalam kesalahpahaman dan tidak mau mengakui keadaan. Cerita tentang 2 manusia yang bimbang dalam memilih keputusan. Mencintai atau dicintai? Mana yang lebih baik? . . . Story about Neth.Dev.Cha ________________...
![The One And Only [END]](https://img.wattpad.com/cover/171964547-64-k566937.jpg)