TIGA PULUH

172 19 1
                                        

"Cha, kamu kenapa?"

Kekhawatiran tergambar jelas di wajah Anneth. Bagaimana tidak? Sejak jam pelajaran pertama Charisa sudah tampak lesu.

Untuk menenangkan Anneth, gadis itu hanya menggeleng disertai senyumannya. Pertanda bahwa ia tak apa-apa. "Aku ngga papa, Neth."

Anneth memicingkan matanya. Menatap Charisa curiga. "Bohong."

"Anneth..." Charisa menghembuskan napasnya.

Namun Anneth tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak mempercayai bahwa Charisa sedang baik-baik saja.

"Iya aku lagi ngga baik-baik aja," jelas Charisa mengalah. Ia menelungkupkan kepalanya diantara kedua tangannya di meja. Mengistirahatkan kepalanya yang sedikit pusing.

Anneth manggut-manggut paham. "Ya sudah, kamu istirahat dulu aja. Nanti cerita ya?"

Pertanyaan Anneth hanya dibalas anggukan kecil dari Sahabatnya itu. Mengerti akan kondisi, Anneth pun beranjak menuju kantin. Tak ingin mengusik Charisa yang sedang beristirahat.

***

"Nashwa gimana, Den?"

Friden menoleh pada kekasihnya yang berada di depannya itu.

"Baik-baik aja kok. Kenapa, Jo?"

Joa menggelengkan kepalanya. Tersenyum. "Ngga apa-apa," jawabnya sambil mengaduk-aduk bubur yang baru ia pesan. Sepertinya nafsu makannya sudah hilang.

Melihat tingkah Joa yang seketika berubah, Friden menyentuh tangan gadis itu. "Kenapa, hm?"

"Ngga mood aja," ketus Joa sembari menjauhkan makanannya.

"Jo..., nanti kamu sakit."

Joa menggeleng kuat. "Nggak mau!"

Friden tersentak. Ia tak pernah melihat Joa membentak seperti ini.

"Joa, kamu kenapa? Cerita sini," tenang Friden seraya pindah posisi menjadi disebelah kanan Joa.

Tak tahan dengan perlakuan Friden, Joa merobohkan pertahanannya. Tangisnya pecah begitu saja. Friden yang melihatnya kelagapan. Tak menyangka Joa akan seperti ini.

"Sst, tenang ya sayang..."

Friden menepuk-nepuk punggung Joa. Memberi ketenangan sebisanya.

Tak lama, tangis Joa mulai mereda. Ia sudah bisa menatap Friden yang sedari tadi tampak begitu khawatir akannya.

"Anneth..."

Dahi Friden menyerngit. "Anneth kenapa?"

"S-sepertinya aku sudah kasih harapan palsu ke dia," lirih Joa.

Awalnua Friden tak paham, namun akhirnya ia mengerti. Ini pasal Deven.

"Aku, aku, aku nggak maksud begitu, Den. Aku kira Deven beneran suka sama Anneth, tapi makin kesini sepertinya aku salah." Kepala Joa menunduk, ia sangat merasa bersalah pada sahabat baiknya itu.

Friden mengangguk paham, diangkatnya kepala Joa. Tersenyum hangat.

"Jo, nggak ada satu pun sahabat yang mau sahabatnya sakit hati," ungkapnya.

Mendengar hal itu, mata Joa kembali berkaca-kaca.

"Kamu tenang saja, aku yakin kok Deven suatu saat nanti akan puna perasaan yang sama dengan Anneth."

Mendengarnya, Joa mengangguk lemah. Jauh di lubuk hati nya, ia mengaminkan perkataan Friden barusan.

"Ya sudah, lanjut makan, ya?"

"Iya..."

***

"Makasih sudah mau dengar aku, Neth," ucap Deven tulus.

Anneth mengangguk sebagai jawaban. "Sama-sama, Dev."

Yup, baru saja Deven menceritakan kejadian kemarin yang membuatnya begitu merasa tersakiti.

Namun, ada hal yang tidak Deven ketahui. Anneth juga sedang tak baik-baik saja.

Pikiran Anneth berkali-kali mengulang kejadian di masa lalunya itu. Sepertinya kedatangan Aland sangat mempengaruhi kondisi mentalnya.

Flashback -

"Mari kita sambut, siswi teladan tahun ini, Anneth Delliecia!"

Tepuk tangan menggema di seluruh aula. Membuat jantung Anneth berdegup kencang. Dengan langkah gemetar, ia maju menaiki podium yang sudah disediakan. Diatas sana menunggu kepala sekolah serta wali kelasnya yang tampak begitu bangga.

"Selamat ya, nak," ucap kepala sekolah seraya tersenyum. Beliau menyelempangkan sebuah selempang di badan Anneth.

Begitu selempang bertuliskan 'Siswi Teladan' telah di pasang, tiba-tiba saja proyektor yang berada di sisi kanan dan kiri panggung mengalami glitch. Yang awalnya terdapat foto Anneth, berubah menjadi sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan dan lelaki dengan sang cewek disudutkan di tembok belakang sekolah. Tampak seperti sedang berciuman.

Tunggu, sepertinya Anneth mengenali sosok di foto tersebut.

Ya ampun! Seketika kaki Anneth terasa lemas. Badannya bergetar hebat. Mendengar bisik-bisik dari penonton yang sepertinya juga sudah mengetahui siapa sosok di foto tersebut.

Kepala sekolah tertegun. Beliau menyipitkan matanya, berusaha mengenali dua orang yang berada di foto itu.

"Anneth..., apakah benar itu kamu?"

Wajah Anneth pucat pasi. Luka bekas siletan Aland terasa perih. Ia hanya bisa menunduk. Anneth tak menyangka. Sungguh, ia kira Aland tak akan mengganggunya lagi.

Dengan rahang yang mengeras, kepala sekolah merampas selendang yang sudah terkalungkan di badan Anneth. Beliau menyimpan kembali selendang tersebut.

"Turun."

Anneth hanya bisa pasrah mendengar suruhan dari kepala sekolahnya. Ia turun dengan langkah gontai, diiringi seruan mengejek dari para penonton. Anneth hanya terdiam. Tak berani menjawab karena ruangan aula penuh akan penonton. Lagipula, apakah orang-orang akan mendengarkan pembelaannya?

Dari kursi penonton, Andrew sudah berusaha mati-matian menahan amarahnya. Aland yang berada tak jauh dari Andrew, melirik lelaki itu. Tersenyum miring.

"See? Gue bisa menjatuhkan dia, kan?"

Baru saja Andrew ingin menghajar lelaki tak tau adab itu, ia melihat Anneth yang berlari keluar aula. Merasa Anneth lebih penting, akhirnya ia memilih untuk menenangkan sahabatnya terlebih dahulu.

Flashback off-

"Eh, iya Dev?" Anneth tersadar dari lamunannya. Ia merutuki dirinya sendiri yang membiarkan kenangan buruk masa lalunya itu datang disaat seperti ini.

"Ada masalah?"

Gadis itu menggeleng, pertanda bahwa ia baik baik saja. Namun, didalam hatinya, tidak demikian.

Aku rapuh, Dev...

___________________________________

hai semuaa ! apa kabar nih?
kalian sudah mulai sekolah tatap muka ngga sih?
kalo aku udah mulai..
mager? pasti
mending online ga si :<
anw, makasii udah nunggu !

- 22/02/2021 -

The One And Only [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang