"Kita tetap masuk melalui pintu?" Aku mengangguk menanggapi Flo, "Kuharap pintu masuknya tidak terkunci." jawabku.
"Biar kuperiksa."
Gadis pemberani itu meninggalkanku dan El yang berada pada sisi terdekat hutan Clandestine Game. Kami berada di samping kanan asrama biru, bersembunyi dengan berlutut di balik bangku taman.
"Bukankah Ia terlalu berani?"
Aku menggeleng, "Dia memang seperti itu. Untunglah kita bersama dengannya."
Flo terlihat bersembunyi dengan menempelkan tubuh seerat mungkin di sisi kanan asrama biru. Setelahnya Ia menghilang untuk mengecek pintu asrama. Cukup singkat, perempuan ini mengintip dan memberi kode lingkaran dengan kedua tangannya yang diangkat. Ia menyuruh kami bergerak cepat dengan isyarat tangannya.
Aku berlari dengan El yang mengikuti di belakangku. Dengan derap langkah sepelan mungkin, kami berhasil masuk ke dalam asrama biru melalui pintu utama. Aku dapat melihat tim kedua masuk melalui salah satu jendela asrama oranye.
Flo mendorong pintu asrama hingga tertutup, "Agar mereka tidak menyadari keberadaan kita."
Aku menatap ruang makan asrama biru. Tempat tinggalku selama tiga bulan yang kini terasa sangat asing. Lampu utama dipadamkan, hanya lampu-lampu penerang sederhana yang tertempel rapi di banyak sisi dinding juga pilar yang menampakkan sinar kecilnya, membuat asrama biru tampak seperti diterangi oleh cahaya puluhan lilin.
"Kau memimpin dari sini."
Flo berdiri di sampingku, terlihat menunggu pergerakan yang kubuat. Aku meyakinkan diri untuk terakhir kalinya, sebelum pada akhirnya mengambil langkah pertama. Selangkah demi selangkah sembari menoleh ke kanan dan kiri, melewati bangku panjang ruang makan, mendekat ke tangga yang akan membawa kami menuju lantai dua.
El berjaga di belakang kami. Lelaki itu berbisik, "Tidakkah ini semua terlalu mudah?"
Aku menjejakkan kaki satu per satu di setiap anak tangga. El benar, kenapa ini terasa sangat mudah untuk dilalui? Tidak ada satu pun penjaga di depan asrama biru, bahkan pintunya tidak terkunci.
"Mungkin keberuntungan berpihak pada kita." ucap Flo sembari terus naik. Di lantai kedua, lampu-lampu neon putih dalam beberapa ruangan terlihat menyala. Aku menunduk di beberapa anak tangga terakhir saat melihat salah satu lampu di ruang komputer sempat mati, lalu kembali menyala.
El menarik tanganku untuk berdiri, "Memang selalu seperti itu. Bukan sesuatu untuk dicurigai."
Aku menatapnya dengan ragu. El menjelaskan, "Aku sering bermain bersama yang lain saat akhir minggu." Aku mengangguk mengerti. Ruangan komputer yang ada di asrama biru memang dibuka pada hari libur, dan yang kudengar, semua permainan yang ada di dalam perangkatnya tidak menggunakan sambungan internet.
Memang ketinggalan zaman, tapi setidaknya masih ada sesuatu untuk dimainkan.
Kutatap El untuk terakhir kalinya dan aku bangkit mengikuti perintah lelaki itu. Perlahan kulangkahkan kaki menuju sebuah lorong yang terletak tepat di sebelah kanan pintu besar perpustakaan asrama biru.
"Disini?" Aku mengangguk menjawab pertanyaan El sembari menunjuk sebuah pintu di ujung lorong. Pintu yang sama, sangat akrab dengan hari-hari awalku di asrama. Lorong 5 meter yang kami susuri terasa semakin gelap. Bias cahaya yang didapatkan dari penerang ruangan lain semakin minim.
Inilah dia!
Kuhentikan langkahku tepat di depan pintu kayu, pintu hitam yang disebut oleh Cliff. Aku bertatapan dengan Flo saat telapak tangan gadis itu menyentuh kenop pintu. Aku mengangguk dan setelahnya Flo mendorong pintu hingga terbuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Genetics
FantasySelamat datang, The Genetics! Program Genetics terkenal dengan kesempurnaannya dalam memaksimalkan kualitas setiap peserta dari tahun ke tahun. Perlakuan adil adalah prinsip yang selalu kami junjung. Sikap tegas akan diterapkan pada setiap orang ya...
