Teman Sekelas dan Awal yang Melelahkan

286 34 6
                                        

“Jika kita memasuki ruangannya bersamaan, hanya perlu menggunakan satu kali kode akses bukan?” tanya Nic kepadaku. Aku yang juga tidak tahu hanya dapat membalas, “Kalau kau bertanya padaku, kepada siapa aku harus bertanya, Nic?”

Hanya sebentar setelahnya, dapat kudengar suara seseorang di belakangku, “Kalian harus masuk bergantian untuk absen. Kode akses setiap orang berbeda.”

Itu El!

“Darimana kau tahu?” Nic membalas El dengan pertanyaan. Tetapi El malah menyipitkan matanya sembari menatapku, “Kau benar-benar sibuk dengan dunia pergosipanmu.” Ia melanjutkan perkataannya, mengabaikanku yang sekarang merasa tidak terima, “Sir France memberikan informasi tersebut kemarin. Temanmu ini terlalu banyak bicara.”

“Kau menyebalkan seperti temanmu!”

“Sudahlah, aku duluan.” Nic memotong percekcokan dan menekan kode akses serta melakukan sensor sidik jari, pintu kayu dua daun itu membuka setelahnya, dan tertutup dengan segera. Lalu aku menekan kodeku dan memindai sidik jari. Pintu itu terbuka lagi dan aku masuk ke dalamnya.

Ruangan bagian dalamnya juga berwarna coklat, ada loker-loker di bagian belakang entah untuk apa, dan dapat kulihat bangku dan meja kayu tunggal untuk setiap anak. Ada 12 buah di kelas ini dengan tiga lajur dan empat baris. Papan tulis yang ada tampak putih bersih, papan baru sepertinya. Dapat kulihat proyektor terpasang di bagian langit-langit.

“Bergerak masuklah, mulut banyak.”

“Apa kau bilang?” Dia benar-benar menyebalkan! Aku tak tahu harus mengatainya apalagi selain menyebalkan. “Kau berdiri di depan pintu ini! Bagaimana aku bisa masuk, hah?”

Aku berdecak kesal mendengar dirinya yang tak henti-hentinya mengkritikku sejak kemarin. Kakiku melangkah masuk dengan gusar. Tetapi sepertinya karena adu mulut barusan, seluruh pusat perhatian terarah pada kami.

Umm... hai.” ucapku canggung sambil melambai kecil pada orang-orang yang telah duduk di bangkunya masing-masing. Bahkan Nic, entah sejak kapan, telah memilih duduk di barisan pojok kiri belakang, dekat dengan jendela luar yang tertutup. Tersisa dua kursi yang berarti aku datang paling akhir.

“Duduklah disini, Keira!”

Flo! Gadis itu berada di kelas ini juga! Ia mengangkat tangannya dan menunjuk bangku kosong di samping kirinya, tepat di depan Nic. Sedangkan dapat kurasakan El melewatiku dan duduk di lajur kiri paling depan.

Dingin! Kenapa saat melewatiku, tubuh El terasa dingin? Aku pun melangkah dan dengan sengaja mencoba merasakan hawa di sekitar El saat menuju ke bangkuku. Benar saja, suhu di sekitarnya terasa dingin. Aku hendak bertanya padanya, saat seorang perempuan dengan kacamata sepertiku menepuk pelan punggung El,

“Suhu tubuhmu seakan merasuk hingga tulangku. Apa kau perlu ke dokter?”

El menatap perempuan berambut gelombang itu sekilas dan menggeleng, “Hanya perasaanmu saja.”

Aku duduk dan memanggil perempuan yang berposisi di depanku, “Hei..”

Perempuan itu langsung berbalik dan dialah yang mulai membuka pembicaraan, “Kau juga merasakannya? Tubuhnya dingin! Barusan tanganku seperti menyentuh mata air pegunungan.” Ia tampak berpikir sejenak, "Aku Ve."

“Aku merasakannya. Justru aku ingin bertanya apa kau juga merasakannya.” balasku pada perempuan itu.

Lalu kudengar dengusan diikuti tawa ringan seseorang yang duduk di samping kanan El. Perempuan yang sangat cantik dengan penampilan khas kalangan atas. Jam tangan mewah dan rambut lurus hitam berkilau. Terlihat jelas bahwa ia menggunakan lensa kontak coklat terang dan wajahnya sangat mulus. Hasil perawatan yang sangat menakjubkan.

The GeneticsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang