"Liat kan, anak orang kena batunya gara-gara kelakuan kamu. Masih untung satu, gimana kalo sepuluh? Sepuluh-sepuluhnya juga kamu bawa ke sini?"
Dana memejamkan mata bosan, "Udah kenapa sih? Capek dengernya."
"Ya kalo gitu kamu harusnya juga capek ngelakuin hal-hal nggak guna kayak gini."
"Udah dong, kalian tuh adek kakak nggak ada akurnya sama sekali lho," Dokter yang menangani cewek yang kini terbaring di atas tempat tidur bangkit. Menghela napas pada keduanya, memaklumi dengan kelakuan Tamara yang cerewet terhadap adik satu-satunya dan Dana yang memang keras kepala.
"Ya nggak bisa sesantai itu lah, Mbak. Coba kalo yang jadi korban kenakalannya nggak Cuma perempuan ini, apa Dana mau tanggung jawab gitu aja? Nggak mungkin. Tipe-tipe kayak Dana gitu, nggak ada yang bisa diandelin dari dia."
Dana menaikkan alis mendengar cibiran kakaknya. Ia tak memperdulikan, dan kembali memandang tempat tidurnya yang penuh. "Jadi dia gimana?"
Dokter Nita—selaku kakak ipar mereka, atau tepatnya kakak kandung dari Dimas yang berstatus suami Tamara kembali menatap Mara yang terbaring damai. sebuah luka di dahi cewek itu kini telah diobati, perban putih menempel di sana. "Dia baik-baik aja kok, luka di dahinya Cuma luka kecil jadi nggak perlu di jahit."
Dokter Nita beralih membereskan perlengkapan yang sebelumnya ia bawa. "Ya udah kalo gitu, aku balik ke rumah sakit ya? nggak pa-pa kan ditinggal? Kamu jagain dia ya Dan,"
Dana mengangguk dan ikut bangkit dari duduknya.
"Makasih ya, Mbak. Aku anter ke depan," Tamara juga mengangguk, mengikuti Dokter Nita dari belakang keluar kamar Dana.
Dana menghela napas, ia kembali menghempaskan tubuhnya di atas sofa kamar yang ia tempati tadi. menopang kepala dengan sebelah tangannya, mata cowok itu memandang Mara yang terbaring di atas ranjangnya. Dana terbayang kembali kejadian sore tadi, kalau saja teman-temannya tidak cepat datang membantunya dan mengcover dirinya, mungkin dia dan Mara tidak dengan keadaan baik-baik aja selain lebam-lebam yang mungkin lebih parah dari yang Dana dapat sekarang.
Tapi, Mara yang lebih parah. Jatuh pingsan dengan sobekan di dahi.
Sedikit rasa bersalah muncul karena sadar akan omongan kakaknya ada benarnya. Tapi, kenapa Mara bisa ada di gang itu? Apa cewek ini nggak tau ada tawuran di sekitar sekolahnya?
Dana mendecak lagi, menghela napasnya lagi. Bahkan hampir memejamkan mata untuk ikut tidur, sebelum matanya menangkap pergerakan dari Mara. Dana lantas bangkit dari rebahannya dan duduk semestinya untuk memperhatikan Mara.
Mara mengerjapkan matanya dengan alis berkerut. Menatap ke sekeliling kamar yang asing di matanya, bukan kamar rapi berwarna biru langit yang dimilikinya, melainkan kamar bercat abu-abu yang cukup berantakan dengan pakaian-pakaian dan buku-buku yang berserakan.
Mara mengernyit, ia dimana?
Dan semakin mengeryit lagi ketika merasakan beban ringan di dahinya. Tangannya naik untuk memastikan apa yang menempel dan ia menemukan perban kecil di sana.
"Lo di rumah gue. Di kamar gue tepatnya," ucap satu suara yang lantas membuat matanya melebar dan berputar-putar ke sekeliling ruangan. Hingga menemukan Dana duduk di sofa sebelah ranjang yang ia tempati.
Dana?
Mara melotot seketika. Cewek itu buru-buru bangkit dari tidurnya, dan seketika merasakan sakit menjalari punggungnya. Bangunnya tertahan, ia meringis pelan sambil memegangi punggungnya.
Dana yang melihat itu sedikit mengernyit ngilu, ia bisa merasakan apa yang Mara rasakan karena Dana sudah biasa. tapi, untuk ukuran Mara yang berjenis kelamin cewek, yang katanya cewek itu klemer-klemer. Hal barusan pasti lumayan sakit.

KAMU SEDANG MEMBACA
Trust
Teen FictionHidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk me...