"Lo kenapa sih, Dan?"
Dana mengangkat kepalanya, kedua alisnya naik seakan balik bertanya karena kenyataannya ia tak tahu harus menjawab apa.
"Tau tuh, dari kemarin diem mulu."
Ucapan Dega membuatnya terkekeh, namun tak membalas dengan apa-apa. Dana malah mengusap rambutnya kasar. Dari penampilannya, cowok itu terlihat berantakkan sekali.
"Abis dari perpustakaan kemarin, jadi diem banget," kata Dega, "Kesambet kali, katanya kan perpustakaan itu ada gitu-gitunya."
Beberapa dari mereka yang berada di meja yang sama tertawa.
"Kenapa lo?" tanya lagi dari seorang cowok yang kini memainkan ponselnya, sesekali pandangannya beralih pada Dana seakan meminta jawaban.
Dana menggeleng. "Pusing," katanya bohong, "Kakak gue marah-marah lagi di rumah," lanjutnya lagi.
Kali ini tak sepenuhnya bohong, mendapati Tamara lagi-lagi menguarkan aura permusuhan membuatnya sedikit pening. Pertengkaran antara dirinya kan kakak satu-satunya itu memang terlampau sering, semua itu diawali oleh Dana sendiri yang selalu membuat onar lalu Tamara yang selalu menganggapnya kekanakan. Pada kenyataannya, Dana tak sepenuhnya berniat membuat Tamara jengkel. Namun segala tuduhan Tamara terhadapnya itu membuatnya melakukan hal bodoh lagi, lagi, dan lagi. Membuat kakaknya kesal karena ulahnya seakan sudah menjadi tradisi semenjak kedua orang tua mereka tak ada lagi, semenjak kakaknya telah mempunyai keluarga kecilnya sendiri, semenjak dirinya berpikir bisa mengurus hidupnya sendiri tanpa membebani orang lain.
Di samping kakaknya yang kini ia pikirkan, nama Mara juga berputar melingkupi isi kepalanya. Wajah asing cewek itu, nama yang tak pernah ia dengar, sikap jutek dan sok menantangnya membuat bagian dalam dirinya merasakan sesuatu. Dana bisa katakan, cewek itu membuatnya penasaran. Ia mengira-ngira apa ada dari sebagian temannya yang mengenal cewek itu.
Dan satu pertanyaan pun keluar dari mulutnya, "Ada yang kenal Mara, nggak?"
Semua teman-temannya mengernyit.
"Mara... Amara Dian? Anak IPA?" sahut Genta.
Dana menggeleng.
"Raisa Amara?" sahut yang lainnya.
Dana lagi-lagi menggeleng.
"Mara banyak. Mara mana nih?" tanya Dega, "Kenapa emang, mau dideketin? Gue bantuin sini," katanya lagi sambil tertawa.
Dana menggeleng lagi, kali ini sambil tertawa. "Mara anak IPS 2," jawabnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu ketika menatap salah satu temannya. "Vin, lo IPS 2 kan?"
Yang dipanggil Vin mengangguk, tiba-tiba matanya melotot menyadari suatu hal. "Mara yang itu?"
Dana mengernyit. "Yang itu? Yang itu apaan?"
Cowok bernama lengkap Malvin itu mengedikkan bahu, kembali mengaduk jus jambunya. "Anaknya freak," katanya, matanya kembali terangkat pada Dana, "Kenapa? Lo suka sama dia? Ngapain sih, freak sumpah."
Sebagian dari mereka langsung memasang tampang penasaran, hingga Dega yang mulai mempertanyakannya. "Freak kenapa?"
Sementara Dana menyipitkan mata ketika mendengar jawaban Malvin. "Freak deh pokoknya, udah lah ngapain sih yang kayak gitu dideketin. Kayak nggak ada cewek lain aja," begitu katanya sebelum kembali meminum jus jambunya.
Dega berbalik memandang Dana, alisnya bertaut penuh pertanyaan. "Freak, Dan?"
Dana mengedikkan bahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trust
Teen FictionHidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk me...
