Mara mengusap-usap lengannya karena dingin. Beberapa kali cewek itu meringis kedinginan karena cuaca sekarang ini. Hujan deras, ditambah dirinya yang tak membawa payung. Lengkap sudah. Tentang kelas yang selalu dikunci seusai bel pulang hingga tak bisa dijadikan tempat berteduh, ataupun aula yang ramai akan siswa-siswi Garda—dan jangan lupa predikat Mara yang baru hingga akhir-akhir ini dirinya menjadi bulan-bulanan siswa. Mara hanya berharap, tak lebih dari seminggu, semua gosip yang beredar mereda.
Hingga akhirnya, ia memilih untuk berteduh di halte samping sekolah. Menunggu hujan reda ataupun menunggu angkutan umum. Namun, siapapun tak akan tahu kapan hujan reda, bisa saja ketika dirinya berada dalam angkutan hujan telah usai atau malah sebaliknya dan makin menderas hingga Mara akan tetap basah kuyup sesampainya di rumah. Untuk mengantisipasi resiko terakhir, cewek itu memilih tetap di halte hingga hujan reda.
Matanya menyipit ketika mobil sport putih berhenti di depannya dengan suara mesin yang menderu bercampur derasnya hujan juga air yang mengalir di bawahnya. Hingga kaca mobil terbuka perlahan, dan Mara mengernyit hebat dengan bibir sedikit terbuka.
Dana.
"Mara?" Mara bisa mendengarnya samar-samar berlainan dengan matanya yang dapat melihat jelas ketika Dana membuka pintu mobil dan keluar dari sana hanya berbekal jaket abu-abu, berlari ke halte hingga menimbulkan suara cipratan air yang bahkan tak Mara hiraukan, apa lagi ketika cowok itu benar-benar sudah ada di sebelahnya. "Lo ngapain?"
Mara menaikkan alisnya dengan pandangan menurut lo-nya.
Dana mendecak sambil menggaruk tenguk. "Oh oke, gue salah pertanyaan—lo pasti lagi nungguin hujan reda. Mau bareng gue nggak?"
Lirikan yang hampir melotot dilontarkan Mara. Cewek itu menggeleng dan perlahan menggeser diri sedikit menjauh. "Nggak usah. Makasih."
Dana menaikkan sebelah alis. "Enggak?"
Sayangnya, Dana nggak pernah ditolak.
Mara menggeleng lagi. "Nggak, makasih."
"Serius?" Dana tambah mengerutkan dahinya. Dalam hati berpikir betapa bodoh dirinya yang sok mau menawarkan diri sebagai pahlawan di tengah hujan deras dan taunya... ditolak? Ok, untuk target cewek yang lain mungkin dengan senang hati menerima disertai malu-malu kucing. Tapi dengan yang ini... kenapa susah banget sih?! Ada ada dengan seorang Mara?
"Emang lo mau nungguin sampe kapan sih? Sampe reda?" tanyanya lagi seakan kurang jelas penyataan Mara dengan kata tidak itu berarti tidak.
"Oke, gue tau mau gue ngomong apapun lagi pasti lo nggak bakal peduli. Tapi.., kalo lo masih marah sama gue soal tadi pagi gue minta maaf. Banget. Gue minta maaf lo kelempar bola gara-gara gue. Makanya sebagai permintaan maaf—ya, anggep aja gitu—gue mau nganterin lo pulang." Dana menghembuskan napasnya ketika mengucapkan banyak kalimat tadi. "Gimana?"
Mara berkedip setelah satu kata tanya tadi. ia menghembuskan napas pelan, melirik jalanan atau tepatnya melirik seberapa deras hujan kali ini sambil meninbang-nimbang tawaran dari cowok di hadapannya dengan banyak persepsi di otaknya. Kenapa Dana? Kalaupun yang lain, nggak akan sebersikeras ini, dan Mara akan mengatakan 'nggak, makasih' hingga mereka akan pulang lebih dulu dibanding dirinya.
Itu pun kalau ada yang pernah menawarinya, sejauh yang Mara ingat, semua dari mereka bahkan mendahuluinya tanpa melihat ke belakang sama sekali.
"Lo tau, hujan kayak gini biasanya suka sampe malem."
Hal itu membuat Mara melirikan matanya sekilas, menemukan Dana menaikkan alisnya sekaan menunggu jawaban.
Kadang, Mara berpikir kalau cowok ini bisa dikategorikan baik atau malah sangat baik sebagai seorang cowok. Namun, di sisi lain, atau hanya karena pandangannya sendiri, ia berpikir Dana itu menyebalkan. Contohnya dengan sikap keras kepala cowok itu, seperti sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trust
Teen FictionHidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk me...
