Chapter 36

1.7K 162 44
                                    

Ingat-ingat gaiss, ini masih dalam mode flashback!

***

"Happy birthday Prilly... Happy birthday Prilly... Happy birthday... Happy birthday... happy birthday Prilly..."

Prilly yang baru saja terlelap dikejutkan dengan suara seseorang yang sangat dia kenal. Mencoba membuka matanya yang terasa berat dan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Begitu matanya sudah terbuka sempurna barulah ia dapat melihat dengan jelas seseorang yang mengganggu tidurnya. Seperti dugaannya, orang itu adalah Ali.

"Ali?" Tanya Prilly memastikan. Ali mendekat dengan sebuah kue di tangannya.

"Make a wish, sayang!" Pinta Ali sambil mengelus rambut Prilly singkat.

Walaupun masih bingung, Prilly tetap melakukan yang di perintahkan Ali. Tidak banyak doa yang ia panjatkan, Prilly hanya mengucap syukur karena masih diberi kesempatan untuk berada di usianya yang sekarang dan meminta untuk diberikan kesehatan serta yang paling penting adalah semoga diberi jalan untuk hubungannya dan Ali ke depannya.

"Huft..." Setelah memanjatkan doa, Prilly segera meniup lilin berangka 25 di atas kue itu.

"Aku bantu Aamiin kan semua doa kamu dan aku harap kamu selalu diberi kebahagiaan oleh Allah SWT. dan semoga aku menjadi salah satu dari bagian itu." Ucap Ali kemudian mengecup kening Prilly cukup lama.

"Terima kasih, Ali. I'm so lucky to have you!" Balas Prilly kemudian memberi satu kecupan singkat di pipi kekasihnya itu.

"Bangun yuk! Cuci muka dulu, setelah itu kita keluar. Mama, Papa, dan Raja udah nunggu kamu dari tadi." Ucap Ali yang langsung dituruti oleh Prilly.

Setelah lima menit menunggu, akhirnya Prilly keluar dengan wajah yang lebih segar walaupun kantung matanya masih sangat jelas terlihat. Mau bagaimana lagi? Ini hari spesialnya, tidak mungkin bukan jika Prilly tidak ikut merayakannya?

"Maaf ya lama!" Ucap Prilly merasa tak enak.

"Gapapa, sayang!" Balas Ali lalu menggandeng tangan Prilly untuk mengikuti langkahnya.

"Loh, kok kita ke lantai 4? Emang mereka dimana?" Tanya Prilly heran. Prilly kira keluarganya menunggu di ruang keluarga.

"Di rooftop, sayang!" Balas Ali kemudian berhenti di tengah jalan.

"Kok berhenti? Kasian mama sama papa kalo nunggu lebih lama, ini udah jam 1 malam." Ucap Prilly bingung.

"Pakai ini dulu, habis itu kita lanjut jalan." Balas Ali sambil mengeluarkan kain penutup mata dari saku celananya.

"Ngapain sih?" Tanya Prilly masih bingung.

"Pakai aja sayang! Nanti juga kamu tau." Ucap Ali kemudian memakaikan kain itu ke Prilly.

"Tapi jalannya pelan-pelan. Aku takut jatuh!" Rengek Prilly manja.

"Iya, sayang!" Balas Ali sambil mencubit pipi Prilly sekilas.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lebih pelan karena kondisi mata Prilly yang tertutup. Ali dengan sabar membantu Prilly menaiki tangga demi tangga hingga akhirnya mereka sampai di rooftop.

"Udah sampai?" Tanya Prilly saat Ali kembali menghentikan langkahnya.

"Iya!" Balas Ali singkat.

"Aku udah boleh buka mata sekarang?" Tanya Prilly tak sabar.

"Hitung sampai 10!" Ucap Ali kemudian meminta orang-orang yang ada di sana untuk mengatur posisi tentu saja hanya melalui isyarat bukan diucapkan.

MINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang