31 • [Terjebak]

33 6 0
                                    

Sebelumnya ....

"Ares? Bagaimana kalau kita tunggu sampai aku ...." Kalimatku terputus. Suaraku melemah. Tidak menyangka dengan apa yang Ares lakukan saat ini.

Ia menyerahkannya pada Ketua Akademi, bahkan sebelum aku mengutarakan maksud. Benar-benar menyerahkan bukti yang berharga.

Astaga, aku akan marah pada Ares sebentar lagi. Apa pun alasannya, jika dia melakukan ini tanpa mendengar pendapatku, adalah tindakan yang tidak adil.

_______________________________

Derap langkah dua pasang kaki di koridor sepi itu terdengar nyaring. Memecah keheningan suasana kastil pengurus Rygel yang letaknya tepat berada di samping aula utama. Salah satu dari mereka berkali-kali mengepalkan tangan, tampak tak sabar dengan berbagai pertanyaan atas apa yang baru saja terjadi.

"Apa, sih, yang kaupikirkan?" Gadis yang berjalan di sebelah si pemuda bermata hazel mengerutkan dahi, menampakkan ekspresi kesal yang kentara. Ia tak lagi berusaha menyembunyikannya, bahkan kalau bisa, sekalian saja agar Ares tahu dan sadar akan apa yang sudah dilakukannya.

Apa sekarang aku menyesal? Canna membatin resah. Tangannya beralih memegang kedua sisi kepala sejenak lalu meraih lengan Ares tanpa berbasa-basi, menuntut si 'biang masalah' untuk menatap matanya. Meminta penjelasan, karena sejak tadi ia hanya mendapatkan keheningan dan suasana aneh di antara mereka.

Ares terkesiap. Seolah-olah baru saja tertangkap basah. Berkali-kali sorot mata cemerlang miliknya tidak mampu bertahan menatap mata Canna. "Kau harusnya mengerti jika yang kulakukan adalah hal paling benar yang bisa kita pilih untuk saat ini, Canna. Benar kata Helda, sebentar lagi kita akan menghadapi—"

"Ujian?" Canna memotong ucapan Ares. Ia menghela napas pasrah lalu melepaskan cengkeraman pada lengan lelaki itu dengan pelan. "Namun tidakkah kau tau seberapa penting bukti itu untukku, Ares? Dan lagi, kau tau pada siapa kau menyerahkannya?"

Tarikkan napas panjang menyudahi pertanyaan retorik Canna. Raut wajahnya semakin masam. Namun cepat-cepat ia melanjutkan perkataan sebelum Ares kembali membantah.

"Helda menahannya entah sampai kapan. Aku percaya ini tak ada sangkut-pautnya dengan ujian itu. Bahkan aku ragu jika setelah ujian nanti, kertas itu akan dikembalikan sesuai janji. Tidakkah kau mengerti? Aku sekali lagi bertanya padamu."

"Cann—"

"Sudahlah. Ini salahku mengapa harus mempercayaimu secepat itu." Canna menjauh, meninggalkan Ares yang sudah menunduk dan meremas rambutnya.

"Maafkan aku."

Permintaan maaf dari Ares membuat Canna kembali menoleh. Netra gelapnya memandang serius kepada seseorang yang sudah membuat lelah pikirannya.

Sejenak hening. Dengan posisi mereka yang saling berpandangan dalam jarak beberapa langkah. Kekehan kecil Canna memecah suasana canggung. Membuat Ares mengernyit.

"Kau tidak seperti kau, ya, hari ini. Tapi ... aku memaafkanmu," balas Canna sebelum benar-benar melangkah menjauh.

Sementara itu ... di atas tempat Ares berada, seseorang diam-diam mengamati mereka sejak tadi melalui menara pengurus Rygel, tersenyum mengejek dan mendengus puas melihat interaksi dua orang murid oleh karena masalah barang bukti 'sepele'.

****

Makan malam di aula utama telah dimulai seperti biasa. Kebanyakan murid Rygel dan para pengurus sudah menyelesaikan makanan utama mereka. Berbagai suara obrolan terdengar seperti dengungan lebah yang kian nyaring karena hampir seluruh orang melakukannya. Kepak sayap ratusan peri yang berada tak jauh dari seluruh meja juga mewarnai suasana.

The Siver CrownTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang