Sebelumnya ....Mendadak tangan George memaksa Marie untuk kembali bersandar pada bangku. "Heh, bodoh. Jika kau terus-menerus bawel, buburnya akan dingin, kasihanilah Canna yang tidak jadi menikmati pengalaman berkesan pada suapan pertama bubur ini hanya karena mendengar penjelasanmu."
Mendengar teguran sekaligus ejekan kembarannya, Marie hanya mendengus dan memutar bola matanya dengan malas.
Canna terkekeh. Senang dengan interaksi mereka.
_______________________________
"Jadi kau ingin ke perpustakaan setelah ini?" Blaire bertanya pada Canna sambil mengikat rambutnya. Mereka sudah berada di kamar setelah makan malam.
"Ya, Marie dan George sudah menungguku di bawah, Blaire." Canna menyahuti dengan senyum menenangkan, berusaha membuat Blaire tenang. Ia tahu gadis itu sedang khawatir menyangkut hal yang berkaitan dengan perpustakaan mengingat kejadian-kejadian yang mereka alami kebanyakan bersumber dari sana. Namun kali ini Canna tak memiliki firasat apapun, dan yakin karena ia punya teman, jadi menurutnya tidak ada alasan untuk gelisah.
"Serius? Tidak mau kutemani?" Blaire bertanya lagi dengan kerutan jelas di dahinya.
Melihat sahabatnya yang bersikeras itu, Canna jadi gugup."Tidak perlu, Blaire. Sudah ada Marie dan George."
Gadis berambut pirang keemasan itu kembali menghela napas. "Baiklah. Hati-hati, oke? Berjanji padaku kau harus pulang sebelum malam, Canna."
Canna mengangguk senang. Ia merapatkan baju hangat dan menyelipkan anak rambut ke telinga. Rambut cokelatnya malam ini tergerai, dibiarkan menutup bahu sampai punggung begitu saja. Dengan pelan dirinya meninggalkan kamar setelah berpamitan sekali lagi lalu menutup pintu dan menyusuri koridor sepi. Dahinya mengernyit heran. Bukankah ini belum terlalu malam? Biasanya teman seasrama masih banyak yang berada di luar entah untuk ngobrol atau sekadar menikmati semilir angin yang tidak bisa mereka dapatkan di dalam kamar.
"Kau lama sekali, kami sudah menunggu sejak tadi." Suara pemuda berambut merah gelap menyapa telinga Canna. Ia tak menyangka jika George dan Marie sampai rela menyusulnya di ujung tangga seperti ini.
Apa aku mengecewakan mereka? Diam-diam Canna membatin resah. Namun seketika dugaannya dipatahkan dengan raut wajah Marie dan George yang ceria seperti biasa.
Oke, sepertinya aku hanya berlebihan.
Mereka berdiri bersama di ujung anak tangga, pemandangan yang sering terlihat karena sepertinya mereka berdua jarang terpisahkan. Canna tersenyum kecil dan menyusulnya sebelum ia bergabung dan meneruskan perjalanan ke perpus tanpa berbasa-basi lagi.
Gedung perpustakaan yang letaknya cukup jauh dari asrama tempat Canna berada saat ini membuat mereka terpaksa melewati halaman Rygel yang luas. Tak ada anak yang mau repot-repot memutar arah melewati kastil pengawas dan beberapa gedung lain, bukan? Apalagi saat ini sudah cukup gelap untuk bisa berkeliling terlalu lama.
Canna memperhatikan punggung dua bersaudara di hadapannya dengan seulas senyum. Saat ini Marie dan George sedang saling mengingat-ingat materi untuk ulangan kelas mereka besok pagi. Dua sosok Louvre itu memang sempurna, Canna sama sekali tak menampik itu. Selain kepribadian mereka yang baik pada orang lain walau awalnya Canna tak dihiraukan di kelas campuran, tapi melihat bagaimana akhirnya dia diterima jelas membuatnya senang. Marie dan George juga memiliki penampilan yang menarik, mereka adalah tipe orang yang membuat pandanganmu betah untuk terus mengamati wajah serta interaksi yang timbul.
"George, sepertinya kau punya banyak fans," Canna berceletuk saat ia menyadari beberapa anak yang masih di luar melirik George dengan terang-terangan.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Siver Crown
FantasyMenjadi remaja terpilih tak membuat Canna berbangga diri dan menjalani kehidupan sekolah di Rygel dengan tenang. Dia yang tak punya kekuatan istimewa disulitkan menghadapi berbagai situasi aneh yang terjadi. Namun, setelah rangkaian kejadian yang...