Point of view || Author
"Cukup."
Canna terengah-engah. Degup jantungnya masih berpacu dengan cepat. Beberapa kali ia mencoba menenangkan dirinya. Victor memang susah ditebak. Tiba-tiba Canna sudah dibawa kembali. Memang, waktu sama sekali tak terasa di Rygel. Ia pergi berkelana lama namun ternyata dia masih sama di hadapan Victor.
Dengan kesal ia menyahut, "kau gila."
"Kembalilah ke asrama." Victor meninggalkan Canna yang masih mematung di tempatnya, kelelahan. Sekaligus masih syok dengan apa yang ia lihat. Di umurnya yang masih 17 tahun, Canna tak pernah melihat adegan penerkaman segila itu.
Canna mencoba mengatur napasnya. Ia berlari kecil menuju asrama, namun di tengah jalan Blaire menghampirinya. Dari kejauhan gadis itu melambai-lambai kecil. "Canna! Bagaimana kelasmu hari ini?"
"Buruk." Hanya itu yang bisa Canna katakan. Toh, memang buruk. Ia tak berbohong sama sekali. Pertama adalah saat di kelas Prof. Elysius, Damian brengsek mengganggu ketenangannya belajar. Lalu, saat kelas Mrs. Naiola tentu saja, berdiri 15 menit tanpa memperlihatkan apapun sangat ironis bagi Canna--karena dia termasuk siswi pintar yang jarang sekali dipermalukan.
"Ahhh, mengapa begitu?" Blaire mengernyit. Canna menebak pasti temannya itu berhasil melewati kelas sepanjang hari ini dengan baik dan memuaskan. Tak ada tanda-tanda tak enak seperti dirinya. Blaire seorang penyihir--yang pintar. Canna mengakui itu.
"Sudah kubilang, kekuatanku belum muncul. Aku tak mengerti." Canna mendekus kesal.
"Hmm, aku sebenarnya punya ide. Tapi aku membutuhkan persetujuanmu dan Lucy tentu saja," cetus Blaire.
"Apa itu? Tak apa, aku akan mendengarkannya." Canna mengendikkan bahu. Dia senang temannya mau membantu kesulitannya.
"Cobalah sedikit-sedikit seperti menyihir, atau mengendalikan dengan pikiran seperti apa yang dilakukan pengendali. Lalu jika kau yakin dan mau, kau bisa mencoba teknik berubah wujud. Tak ada salahnya, bukan?" tutur Blaire panjang lebar.
Canna berubah senang. Tak terpikirkan olehnya cara itu. Benar, dia belum pernah mencoba. Jangankan mencoba, selama ini sepertinya Canna tak acuh. "Baiklah. Tapi aku butuh bantuanmu dan Lucy."
"Boleh. Dengan senang hati aku membantumu." Blaire tersenyum lebar. "Ah ya, aku melihatmu saat melintasi lorong. Kau ... dengan lelaki berambut perak. Oh dan ya sepertinya kau terlihat terganggu. Benar begitu?" tanya Blaire. Langsung mengingatkan Canna akan Ares si lelaki tak jelas itu.
"Ya. Dia mengataiku payah." Canna berdecih. "Dia bertanya apa kekuatan yang kupunya. Dan meremehkanku."
Blaire menepuk bahunya pelan. Ia tersenyum kecut. "Abaikan saja. Kau masih punya teman, kok."
Canna tersenyum. Membalas perkataan itu. Benar, tak masalah jika di Rygel tak banyak teman yang ingin berkenalan dengannya. Tapi setidaknya ia punya Lucy dan Blaire.
"Blaire, di mana Mooshle? Bukankah mereka sudah tak ada di kamar kita?" tanya Canna. Sesungguhnya Canna hanya menjadikan pembahasan Mooshle agar Blaire tak terus-terusan membahas tentang Ares dan kelasnya hari ini yang tak berjalan lancar. Tapi ... memang benar bukan kah makhluk itu aneh sekali. Suka muncul dan hilang seenak sendiri, Canna pikir mereka akan terus membantu. Ia sendiri tak keberatan jika makhluk seimut itu selalu membantunya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Siver Crown
FantasyMenjadi remaja terpilih tak membuat Canna berbangga diri dan menjalani kehidupan sekolah di Rygel dengan tenang. Dia yang tak punya kekuatan istimewa disulitkan menghadapi berbagai situasi aneh yang terjadi. Namun, setelah rangkaian kejadian yang...