Entah jam berapa ini sepertinya masih tengah malam. Terbukti dengan sunyinya keadaan dan hawa dingin yang menusuk tulang Melody terbangun dari lelapnya. Sesuatu di bawah sana mengusik tidurnya. Mendongak ke atas menatap Rakka yang masih terlelap sembari memeluknya posesiv.
"Kamu menahannya ya dari tadi? " ucapnya pelan sembari mengusap rambut hitam milik Rakka.
"Jangan menatapku seperti itu kamu membuatku semakin tidak bisa menahannya, "
Glek...
Melody menelan ludahnya susah payah. Bagaimana bisa laki-laki yang masih nampak nyenyak terpejam itu mendengar suaranya. Yang bahkan ia sangat yakin suaranya sangatlah pelan. Memerhatikan dengan detail sepasang kelopak mata yang masih terpejam itu.
Hingga perlahan bulu mata lentik itu bergerak-gerak membuka. Perlahan-lahan menyamankan dengan cahaya benderang dari penerangan di dalam kamar ini. Wajah pias Melody sontak saja menjadi pemandangan pertamanya.
"Kamu merasakannya? " tanyanya tanpa basa-basi. Ia memutar tubuhnya dari menghadap Melody menjadi terlentang menghadap langit-langit kamar.
Melody masih tak merespon apapun otaknya masih bekerja keras mengumpulkan berbagai macam tanda tanya. Ia hanya bisa memandang Rakka dari samping dengan tatapan tak mengerti.
"Maaf aku membuat tidurmu terganggu, " lanjut Rakka bangkit dari tidurnya.
Sedang Melody semakin bingung. Apa yang akan pria ini lakukan. Wajahnya juga nampak kusut berantakan. Ia tau betul kabut gairah jelas terpancar dari kedua mata elang ini. Tapi mengapa laki-laki itu seolah malah membuat jarak dengannya.
"Mau kemana? " tanyanya saat Rakka bergerak bangkit dari tidurnya. Reflek tangannya menahan lengan pria itu agar tetap berada di posisi yang sama.
"Tidurlah, masih tengah malam. Aku akan menyelesaikannya sendiri. " ucap Rakka tersenyum hangat mengusap lembut pipi chubby milik Melody. Meminta perempuan itu untuk lekas kembali tidur.
"Mas, " bukannya menuruti perintah Rakka untuk lekas memejamkan mata dan kembali tidur. Melody malah beralih menangkup tangan yang semulah mengusap lembut pipinya itu. Mengenggamnya dengan sedikit remasan. "Lakukanlah, " lanjutnya sebelum akhirnya dirinya masuk menyusup ke dalam dada bidang berlapis kemeja tidur itu.
Sedangkan Rakka laki-laki beralis tebal itu sempat tertegun dan tak percaya dengan apa yang baru saja telinganya dengar. Seperti mimpi namun sangat nyata sangat membuat bahagia. Ia terkekeh sembari mendekap erat tubuh mungil yang memeluknya ini. Ahh nyaman sekali.
Menghujaninya dengan kecupan-kecupan ringan pada wajah cantik itu setelah sebelumnya membuat sedikit jarak tanpa melepas pelukan. Senyumnya tak bisa pudar. Bahagia benar-benar bahagia. Bahkan hanya dengan memeluk dan menatapi wajah cantik di depannya ini. Rasa berdebar yang bahkan sebelumnya tak pernah ia rasakan. Rasa gugup yang membuat otaknya seakan tak mau lagi bekerja untuknya. Ia tak pernah menyangka ternyata beginilah rasa yang mengatas namakan cinta. Jika ia tau akan semembahagiakan ini. Sepertinya dari dulu-dulu dirinya sudah memulai semuanya. Bukan malah sengaja menjebak dengan sebua permainan.
"Aku akan melakuannya dengan pelan-pelan, maaf setelah membuatmu kesakitan kemarin-kemarin. " ucapnya sebelum akhirnya dirinya menyesap bibir ranum yang nampak indah menggodanya itu.
Perlahan matanya terpejam menikamati perpaduan rasa yang ia dapat. Tangannya mulai bergerak dengan sangat ringan menyentuh tiap inci tubuh di dalam dekapannya ini. Membuka satu persatu kacing piyama yang Melody kenakan. Bersamaan dengan dirinya yang mendapat balasan lumatan dari mulut mungil ini.
Melody sendiri baru memejamkan matanya bertepatan saat laki-laki tampan yang mendekapnya ini berhasil menyingkirkan piyamanya. Setelah sebelumnya ia puas-puaskan menatap sosok yang menjadi peran utama dalam kisah kasihnya ini. Ia memejam sembari tersenyum. Mungkin ini bukan kali pertama tubuhnya dijamah Rakka. Tapi jujur saja ini adalah kali pertama ia merasakan pria itu menyentuhnya dengan rasa. Bahkan saat kecupannya perlahan turun hingga bersarang pada ceruk lehernya. Gelenyar aneh mulai ia rasakan yang berujung pada basah pada bagian intinya. Tubuhnya benar-benar meremang saat tangan besar itu menyentuhnya dengan sangat ringan. Seringan kapas yang terhempas angin. Lalu membuatnya melayang-layang. Seperti itulah dirinya saat ini. Setitik air matanya kembali terjatuh pada percintaan ini seperti sebelum-sebelummya. Hanya saja kali ini bukan air kebencian yang ia teteskan. Melainkan air kebahagian yang ia tampakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Taste
Romantik📢 ... PERINGATAN KAWASAN DEWASA❗️ AUTHOR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEGALA EFEK SAMPING YANG DIDAPAT❗️ BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA❗️ *** "Aahhhh.... Tuan tolong hentikaaannn! " Jeritan seorang maid menggema di dalam sebua kamar. "Tidak akan sayan...
