"Diamlah, tetaplah seperti ini aku menyukainya." ucap Rakka menahan Melody untuk tetap diam.
Sedang Melody sendiri mengernyit tak mengerti. Namun bodoh dirinya menurut saja. Ah bukan bukan seperti itu. Dia tidak benar-benar bodoh jelas dirinya tau maksud perkataan Rakka. Hanya saja dirinya lebih memilih berperan menjadi pemain bodoh dalam permainan ini.
"Menyukainya? " sengaja memancing biar saja laki-laki biadab ini unggul beberapa poin di atasnya sebelum dirinya memutar keadaan.
"Aku menyukai ini ini ini dan semuanya." ucap Rakka menyentuh dengan lembut bagian tubuh melody yang maksudnya. Tangannya bergerak lincah membuka satu per satu kancing piyama yang dikenakan perempuan itu. Lagi-lagi dirinya berdebar meski bukan yang pertama tapi bersama Melody ia merasakan berdebar untuk pertama kalinya.
"Mas... " penggil Melody memaksa Rakka berhenti pada butir kancing ke tiga.
Menatap mata elang itu dengan sayu memelas. Tangan kecilnya bergerak menangkup tangan kekar yang ingin segera melanjutkan pekerjaannya itu.
"Kenapa? " tanya Rakka begitu lembut ia sangat paham si licik keras kepala ini akan semakin keras jika dikasari.
"Kita salah melakukan ini Mas. Apa tidak disudahi saja sebelum. Semuanya semakin berantakan. Mas sudah punya tunangan dan sebentar lagi menikah. Dan aku tidak mau dicap sebagai pelakor seperti yang Nyonya bilang. " ucap Melody untuk saat ini dirinya berkata jujur. Hatinya begitu sakit. Matanya berkaca-kaca dadanya sesak. Terasa ada gumpalan besar yang menghambat rongga nafasnya. Tubuhnya sedikit bergetar saat dirinya mengucapkan itu.
"Aku tidak perduli Mel, karena yang aku tau aku mencintaimu. Dan satu lagi kamu bukan pelakor. Sedari awal aku tidak pernah mencintai Alona kau tau itu kan? " balas Rakka pelan namun meyakinkan. Ia mengurai genggaman tangan mungil Melody. Bertukar posisi dirinya yang menangkup tangan itu dengan hangat.
"Sekali lagi kutekankan kamu bukan pelakor karena memang sedari awal aku tidak pernah mencintai Alona." ulang Rakka menatap dalam mata sayu dengan genangan air kesakitan itu.
"Tapi... Tapi__"
"Tapi apa? Tapi mulut ini selalu mengelak ketika aku mengatakan aku mencintainya cups... " potong Rakka dengan satu kerlingan dan satu kecupan di bagian akhir.
Melody bahkan sampai tergelak kaget. Si iblis tak punya hati ini bisa seperti itu. Sedikit kehangatan kembali merambat antara dingin yang mulai menjerat. Wajahnya bersemu saat hidung nakal itu bersentuhan dengan pipinya. Beberapa kecupan ringan ia dapatkan di sana.
"Tidak ada yang bisa kupercayai darimu Tuan Rakka Calvian Rajendra yang terhormat..." balas Melody dengan wajah memerah menahan tawa geli akibat sentuhan-sentuhan sialan yang Rakka berikan.
"Jangan memanggilku seperti itu Melody Gladista..." balas Rakka tak mau kalah.
Suasana dingin nan kaku lenyap begitu saja. Saat cangkir-cangkir kehangatan mulai kembali menyapa.
Melody mendelik tak percaya. Bagaimana iblis itu tau nama panjangnya. Seingatnya dalam CV pun dirinya tidak menyantumkan nama panjangnya. Lalu dari mana pira ini tau?
"Aku tau nama panjangmu dari calon ibu mertuaku. " ucap Rakka mengerti tanda tanya besar telah terpampang di wajah perempuan yang ia tindih ini.
"Heh! Kalo ngomong jangan sembarangan." kesal Melody. Seenaknya saja Rakka mengakui ibunya adalah calon mertuanya. Tidak! Tidak bisa dibiarkan. Lagi pula siapa yang mau menikah dengan iblis tak punya perasaan itu. Cuih bisa makan hati setiap hari dirinya.
"Aku serius! Suatu saat entah kapanpun itu ibumu akan menjadi ibuku."
"Sudahlah jangan ngawur terus. Aku mau tidur." tutup Melody tak ingin melanjutkan bahasan menjijikan ini. Tangannya mendorong-ndorong bahu lelaki biadab di atasnya ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Taste
Romance📢 ... PERINGATAN KAWASAN DEWASA❗️ AUTHOR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEGALA EFEK SAMPING YANG DIDAPAT❗️ BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA❗️ *** "Aahhhh.... Tuan tolong hentikaaannn! " Jeritan seorang maid menggema di dalam sebua kamar. "Tidak akan sayan...
