Langit sudah teramat gelap. Udara dingin pun semakin erat mendekap. Namun perempuan dengan surai terurai ini enggan terlelap. Tertunduk menatap kosong ujung kakinya. Angin malam yang begitu dingin menembus kemeja tipisnya. Menusuk-nusuk hingga tulang. Namun lagi-lagi ia tidak perduli. Tubuhnya seakan mati rasa. Mungkin akibat rasa takut kehilangan yang semakin beranak pinak membesar di dalam aliran darahnya. Hingga sebua tepukan halus pada pundak sebelah Kirinya memaksanya kembali ke alam sadar. Sadar di mana semua mimpinya tetap akan menjadi mimpi.
"Kenapa belum tidur. Sudah lewat tengah malam? Apa tidak dingin di luar begini? "
Suara bariton yang sumpah demi Tuhan ingin membuatnya menangis sejadi-jadinya itu menyapa indra pendengarannya. Belum lagi wajah tampan dengan alis tebal dan mata yang selalu membuat jatuh cinta lagi, lagi dan lagi tanpa henti itu nampak jelas di depannya. Ia hanya menggeleng. Lidahnya terlalu keluh untuk sekedar berkata tidak.
"Mel kau baik-baik saja kan? " pertanyaan kedua kembali terlontar namun gelengan kedua juga kembali menjadi jawaban. Tentu saja Rakka tau ini bukanlah pertanda baik. Dirinya juga sangat tau bahwa perempuan di depannya ini tidak sedang baik-baik saja. Tanda dan besar di dalam otaknya kembali beranak pinak. Setelah tanda tanya besar sebelumnya muncul ketika dirinya tidak sengaja terbangun dari tidur dan tidak menemukan sosok ini di sampingnya. Bahkan dirinya ingat jelas sebelum terpejam pun perempuan ini masih berada di dalam rengkuhannya. Lalu saat ia terbangun rengkuhannya hanya menjadi ruang kosong. Katakan siapa yang tak panik.
"Masuklah," memilih mengalah tidak bertanya lebih. Rakka memutuskan mengajak Melody untuk kembali masuk.
"Tuan! " sebelum mengiyakan ajakan Rakka, Melody menahan sebentar dengan panggilan yang telah lama tak ia lontarkan. Tentu daja ulahnya itu membuat laki-laki yang merangkul pundaknya ini menatapnya tak mengerti dengan kerutan-kerutan di dahinya.
"Mel kenapa memanggilku seperti itu? Bukankah... Bukankah kita sepasang kekasih dan bukan lagi Maid dan Majikan?" tanya Rakka nampak linglung. Dadanya terasa sesak begitu saja. Ada batu besar bergerigi yang menyumbat di sana. Panik tentu saja. Coba katakan siapa yang tak merasa panik ketika pasanganmu memanggilmu layaknya orang yang tak saling memiliki rasa.
"Bolehkah saya meminta satu permintaan Tuan? " tak menghiraukan pertanyaan Rakka. Melody membalasnya dengan kalimat tanya juga. Bahkan dirinya juga sama sekali tidak perduli dengan ekspresi wajah lelaki di depannya ini. Ia tetap menatapnya dengan penuh permohonan. Ia tidak sedang bercanda ia serius. Serius tentang apa yang akan ia ucapkan.
Menghelah nafas berat Rakka mengangguk tak yakin. Firasatnya mendadak menjadi tak enak.
"Bolehkan saya meminta jangan biarkan semua ini hanya menjadi kenangan." lirihnya. Ia bahkan tak sanggup membuka mata saat mengucapkan kalimat ini. Menunduk dalam-dalam sebelum akhirnya tubuhnya terduduk melemas di atas rerumputan. Dadanya memanas menghasilkan isakan demi isakan yang disusul gerombolan bening sialan ini. Ia benar-benar takut semuanya hanya akan menjadi kenangan. Tak berbohong dirinya juga teramat takut kalah sendirian.
Melihat ini tentu saja dada Rakka juga ikut menyesak tersumbat cairan yang sama sialannya. Ia tak pernah berfikir Melody mempunyai pikiran seperti itu. Ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh perempuandi depannya ini. Mengusap pelan air mata yang terus mengalir itu dengan lembut. Lalu menangkup wajah cantik itu dengan tangan dinginnya. Tidak langsung berkata ia terpejam sebentar. Dadanya teramat sesak. Bahkan kini juga mulai terasa begitu sakit.
"Aku sudah pernah bilang padamu Mel. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Tapi aku selalu berusaha. Berusaha menjadikan semua jadi kenyataan bukan hanya menjadi kenangan. Asal kau tau Mel aku bahkan tidak pernah siap kehilangan semuanya. Semua tentang kamu. Aku mohon bersabarlah, temani diri ini berusa untuk mencapai semuanya. " tutur Rakka bersamaan dengam air matanya yang perlahan mengalir dari mata elangnya. Ini bukan air mata buaya dan ia juga tidak sedang berbohong atau apapun itu jenisnya. Ia benar-benar takut kehilangan. Apapun caranya akan ia lakukan agar perempuan yang kini ada dalam dekapannya tidak akan meninggalkannya ya apapun itu caranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Taste
Romance📢 ... PERINGATAN KAWASAN DEWASA❗️ AUTHOR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEGALA EFEK SAMPING YANG DIDAPAT❗️ BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA❗️ *** "Aahhhh.... Tuan tolong hentikaaannn! " Jeritan seorang maid menggema di dalam sebua kamar. "Tidak akan sayan...
