Hai readers kesayangan.
Kali ini aku cepat kembali, hehehe
Seneng nggak? Seneng dong ya!
Happy reading!
Cinta memang tidak harus selalu diumumkan lewat sebuah pengakuan
Dia bisa saja tumbuh padahal kau tak menginginkannya
Kehadirannya mungkin saja tak kau sadari
Tidak sampai dua puluh empat jam, Mikha sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Memang tidak ada luka yang terlihat pada tubuhnya. Dia hanya syok atas hal yang telah menimpanya. Mikha nyaris dilecehkan. Dia hanya perlu menenangkan pikirannya. Melupakan hal yang hampir merenggut masa depannya.
Mikha dan orang tuanya sedang berjalan menuju luar rumah sakit. Langkahnya berhenti diikuti ayah dan ibunya.
"Kenapa, Nduk?" tanya ibu.
"Aku mau ke kamar Andri, Buk. Boleh 'kan?" ujar Mikha.
Ibu mengangguk lalu menemani putrinya menemui Andri. Sedangkan ayah lanjut ke luar. Menunggu di depan sambil mencari taksi.
"Andri, maaf ya sudah membuat kamu celaka. Aku bener-bener berterima kasih, kamu sudah nolongin aku," ucap Mikha.
"Sama-sama, Kha. Bukan kamu yang membuatku celaka, ini juga bakalan lekas sembuh." Andri sudah lebih membaik.
Berkat polisi yang datang tepat waktu, belati Yudha tidak berhasil menikam Andri. Meskipun sedikit menggores bagian perutnya.
"Kata Ayu, kamu yang menghubungi polisi, ya?" tanya Mikha.
"Iya, kebetulan waktu Ayu nelepon aku lagi sama om. Dia seorang polisi. Karena kata Ayu kamu lagi dalam bahaya, aku minta tolong om untuk siaga. Ya, saat mengikuti mobil yang bawa kamu aku minta Ayu mengirim pesan nomor plat mobil dan kemana arah mobil itu pergi." Andri menjelaskan.
Mikha mengangguk paham. Sebelum pamit dia kembali mengucapkan terima kasih kepada Andri.
"Terima kasih ya, Nak. Kamu sudah menolong anak ibuk. Semoga lekas sehat," ucap ibu Mikha pula.
Setelah itu Mikha dan ibunya pamit.
*****
"Baiklah, saya pikirkan dulu. Tetapi saya tidak berjanji tentang Aurel," ucap Jasmine.
"Baiklah, ini kartu nama saya. Jika bu Jasmine sudah memutuskan, ibu bisa menghubungi saya." David menyerahkan kartu namanya kemudian berpamitan.
Di lobi David melihat Aurel yang sedang berbincang dengan front office girl. Dia pun menghampiri Aurel.
"Aurel," sapa David.
Aurel sontak menoleh mendengar suara yang dia kenal menyebut namanya. Wajahnya seketika menjadi muram.
"Oh iya, aku mau keluar sebentar. Kalau bu Jasmine cari bilang saja aku ada urusan di luar," ucap Aurel kepada staff tersebut.
Kemudian dia meninggalkan David. Yang ditinggalkan pun segera mengejar.
"Aurel ... Rel ... Aurel ...."
Aurel tidak menghiraukan David. Dia terus saja berjalan keluar kantor.
"Aurel, please dengerin aku dulu." David tetap mengikuti Aurel.
"Aurel, aku tahu aku salah. Maafin aku, Rel. Please jangan begini."
Aurel menghentikan langkahnya saat tiba di parkiran. David yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langsung meraih tangan Aurel.
"Maafin aku ya, please!" David memohon.
"Kali ini apalagi alasan kamu? Kamu terus saja menyakitiku lalu minta maaf. Aku capek terus begini, Vid." Aurel tidak mau menatap David.
"Iya aku tahu, aku yang salah. Aku janji enggak akan begitu lagi sayang." David memelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARA
Narrativa generaleKita adalah Antara. Antara adalah sebuah pembatas dari setiap pilihan yang ada. Kita adalah pembatas itu, berada di tengah. Terkadang bingung mau ke kiri atau ke kanan, ke atas atau ke bawah. Pergi atau tetap tinggal. Seperti Mikha, yang awalnya pe...
