Hai readers!
Episode Kali ini agak panjang flashback-nya ya!
Semoga enggak pada bosen!
Flashback-nya dari sudut pandang David ya readers!
Happy reading!
Duhai kamu
Aku senang melihat senyummu
Meski aku tak tahu
Kau anggap apa aku dalam hidupmu
Tahun 2010
David
Hari itu genap sudah tiga bulan aku dekat dengannya. Perasaanku semakin kuat untuknya. Aku sempat mengira apa yang aku rasakan hanya bertahan sesaat. Namun, aku telah salah. Sejak pertama aku melihatnya di pagar sekolah, waktu itu dia masih berseragam putih-biru, hatiku bergetar, detak jantungku berdegup lebih cepat. Kibasan lembut dari rambutnya yang tidak terikat, membelai pipinya yang tidak tirus. Aku suka sekali melihatnya. Kukira aku hanya terpesona. Ternyata, ada keinginan untuk mengenalnya. Lama aku menyimpan semua rasa untuknya. Sepertinya takdir baik berpihak padaku.
Tiga bulan yang lalu aku duduk sebangku dengannya. Ya, dengannya ketika ia telah memakai seragam yang sama denganku. Sejak hari itu aku percaya, Tuhan punya caranya sendiri agar aku bisa dekat dengannya.
"Mikha ...." sapaku saat ia.melintas di depan kelasku.
"Eh, kak David." Ia balik menyebut namaku.
"Nanti pulang bareng, yuk!" ajakku.
"Aku kan bawa sepeda, kak." Mikha memberitahu hal yang jelas aku ketahui.
"Ya enggak apa, mau kan pulang bareng?" tanyaku lagi.
"Heeemm .... oke dech," jawab Mikha kemudian lanjut berjalan menyusuri koridor sekolah.
Untuk pertama kalinya aku mengajak Mikha pulang bersama. Kami memang sudah cukup dekat tetapi sebatas di sekolah. Itu pun bukan berarti kami sering bersama di sekolah. Kedekatan kami hanya kami juga yang tahu. Mikha anak yang pintar, berprestasi sejak SMP, maka dari itu aku tidak mau ia kehilangan semua hal yang berharga karena aku.
Bel pulang sekolah sudah mengisi seluruh sudut ruangan kelas. Semua murid berhamburan. Aku menuju parkir motor, lalu menuju ke tempat Mikha biasanya memarkir sepeda, di samping pos satpam. Namun, aku tidak melihat Mikha disana. Sepedanya pun sudah tidak ada. Aku kecewa. Aku menarik gas motor keluar gerbang. Motorku sudah melaju dijalanan. Dari kejauhan aku melihat Mikha, benar memang Mikha yang sedang mengayuh sepeda.
"Kok enggak nunggu?" tanyaku ketika motorku dan sepeda Mikha telah bersisian.
Mikha terkejut dan menghentikan laju sepedanya.
"Eh, ma'af Mikha." Aku merasa bersalah karena sepedanya menjadi oleng, untung tidak jatuh.
Mikha tetap tersenyum. Ia tidak marah denganku.
"Tadi katanya kamu mau pulang bareng kakak, kok duluan?" tanyaku lagi setelah menggeser motor lebih ke pinggir jalan.
"Mikha kira kakak udah duluan," jawabnya.
"Ya udah, sekarang kita pulang bareng ya!" ajakku.
Mikha menunjukkan muka bertanya-tanya, tapi tetap cantik.
"Kamu di depan bawa sepedanya. Kakak ikuti kamu dari belakang." Aku menjelaskan agar ia tidak bingung.
"Motor kakak lambat donk, nanti telat sampe rumahnya." Mikha seperti keberatan.
"Enggak apa, kan mau pulang bukan mau berangkat sekolah, jadi enggak bakal dihukum kalau telat," candaku.
Dan kalimat itu berhasil membuat Mikha menyimpulkan senyumnya.
Mikha pun mulai mengayuh sepedanya kembali. Mesin motorku pun menyala dan siap membawaku menjadi pengawal Mikha, hehehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARA
Fiksi UmumKita adalah Antara. Antara adalah sebuah pembatas dari setiap pilihan yang ada. Kita adalah pembatas itu, berada di tengah. Terkadang bingung mau ke kiri atau ke kanan, ke atas atau ke bawah. Pergi atau tetap tinggal. Seperti Mikha, yang awalnya pe...
