Hai hai readers!
Author kembali! Kali ini di lapak ANTARA.
Maaf ya udah buat lama nunggu. Soalnya mau nuntasin NARASI UTARI.
Yeayyy NARASI UTARI udah lengkap episode lho. Yang belum baca mampir kesana ya!
Sekarang, cuusss kabar-kabaran sama Mikha dan David.
Berpisah bukan berarti ingin jauh
Semuanya hanya untuk sementara
Mungkin untuk menguji setia
Tahun 2012
Hari itu kota Pekanbaru diguyur hujan, deras. Anginnya juga kencang. Namun, seorang remaja lelaki yang meranjak dewasa tetap bergeming di sebuah halte. Ia duduk dengan tatapan kosong. Motornya sudah basah. Ia terpaksa menghentikan perjalanannya karena jas hujannya tertinggal di rumah.
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Seorang remaja wanita duduk di sebuah bangku yang ada di taman kota. Ia duduk sendirian. Sesekali ia melihat sekelilingnya, mencari-cari seseorang. Matahari sudah tidak menunjukkan cahayanya, berganti dengan mendung. Mungkin sebentar lagi hujan sampai disana.
Sudah beberapa menit remaja cantik itu menunggu, tetapi seseorang itu belum muncul juga. Wajahnya menunjukkan raut gelisah. Hari sudah hampir petang. Ia ingin beranjak tetapi ragu. Hingga akhirnya gerimis mulai turun. Gadis itu tidak beranjak, entah apa yang menahannya. Kini ia tertunduk dan air langit mulai membasahi tubuhnya.
"Kenapa enggak berteduh?" Suara seorang pria dari arah belakang membuatnya menoleh.
Lelaki dengan payung ditangannya, lelaki yang ditunggu gadis itu sedari tadi. Mereka sudah berdiri berhadapan dibatasi bangku taman.
"Kenapa seneng sekali menyiksa diri sendiri?" tanya David.
Mikha hanya diam seribu bahasa. Lelaki dihadapannya masih sempat memarahinya. Padahal ia begitu karena ulahnya yang datang sangat terlambat.
"Ayo!" David memberi isyarat agar Mikha beranjak mengikutinya.
"Kenapa kakak lama sekali?" tanya Mikha yang tidak mengikuti langkah David.
David yang mendengar menghentikan langkahnya, menyadari bahwa Mikha masih berdiri diam. Ia kembali menghampiri. Kali ini David berdiri lebih dekat. Tidak lagi dihalangi bangku taman.
"Nanti aja bahasnya, sekarang ayo cari tempat berteduh. Kamu hampir kuyup, Dek." David berbicara dengan serius.
Mikha diam saja. Ia pun membiarkan David menggandengnya. Tidak tidak, lebih tepat menariknya. Sampai keduanya sudah berjalan sejajar. Sepayung berdua. Selang sesaat kemudian mereka sudah sampai di sebuah gazebo yang ada di taman.
"Tuh 'kan jadi basah begini," ucap David sambil mengusap kepala Mikha yang sempat terkena hujan.
"Kenapa sih suka kali begini, Dek? 'Kan harusnya berteduh." David masih sibuk mengusap bahu dan lengan Mikha yang sedikit basah.
Mikha masih diam, ia sampai tidak mengedipkan matanya melihat perlakuan David kepada dirinya. David lalu melepas jaketnya, mengenakannya pada Mikha. Sekali lagi, David mengusap lembut kepala Mikha. Lalu mengelap sisa air hujan diwajah Mikha.
"Kakak belum jawab pertanyaan aku," ucap Mikha.
David langsung menghentikan aktivitas mengelap wajah Mikha.
"Maaf, Dek. Tadi dari kampus kakak langsung kesini tapi terus hujan. Kakak berhenti di halte mau pakai mantel, ternyata mantelnya ketinggalan. Jadi nunggu hujan agak reda baru kesini, eehh pas baru sampe malah disini yang gantian hujan. Untungnya ada payung," jelas David.
Mikha tidak memberikan tanggapan. Penjelasan panjang David hanya disambut anggukan kecil.
"Kamu marah?" tanya David.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARA
Fiksi UmumKita adalah Antara. Antara adalah sebuah pembatas dari setiap pilihan yang ada. Kita adalah pembatas itu, berada di tengah. Terkadang bingung mau ke kiri atau ke kanan, ke atas atau ke bawah. Pergi atau tetap tinggal. Seperti Mikha, yang awalnya pe...
