Hello hello readers!
Langsung aja capcus ya!
Happy reading!
Jangan ada rahasia
Hubungan ini bukan milik bocah
Apapun itu, rasa percaya tetap menggema
David yang sudah berada di dapur bersama nenek tengah berbincang hal-hal ringan. Nenek sedang menyiapkan masakannya, sementara David duduk meleseh di dapur. Ia mudah akrab dengan nenek, terlihat dari beberapa kali tawa yang renyah dari mereka berdua. Bahkan David tidak sungkan untuk balik bergurau dengan nenek.
"Mikha iku yo ngono, Le. Senenge kok yo nesu," cerita nenek tentang Mikha.
"Hehehe iya, Nek. Tapi ya saya tetap cinta." Dengan polosnya David menjawab.
"Walah, jadi koe karo Mikha yo enggak sekedar konco toh?" tanya nenek memastikan.
"Ehh, aduh saya keceplosan ya, Nek." David menjawab dengan wajah yang dibuat-buat risau.
"Hahaha pinter tenan koe ekting, koyok bintang pilem," tawa nenek menyambut ucapan David.
"Hehehe keliatan ya, Nek aktingnya?" David bertanya balik.
"Yo jelas keliatan. Tapi kok yo koe dari tadi ngomonge nasional yo." Nenek berbicara sambil mengingat.
"Hehehe iya, Nek. Saya enggak bisa ngomong Jawa. Tapi, sedikit-sedikit ngerti kalau denger orang ngomong Jawa," jelas David.
"Ngono toh. Wong opo awakmu Le?" tanya Nenek.
"Ibu saya orang Jawa, Nek. Tapi ayah orang Melayu. Dari kecil memang terbiasa berbahasa Indonesia." David menjelaskan lagi.
Nenek mengangguk-anggukkan kepala.
"Udah selesai, Nek? Saya bantu ya!" David menawarkan diri.
Ia kemudian mendekati nenek.
"Wes enggak usah, koe kan tamu, Le." Nenek menolak.
"Enggak apa-apa, Nek. Biar saya aja yang cuci, Nek!" Kali ini bukan menawarkan lagi.
David langsung mengambil alih di dekat westafel saat melihat nenek hendak mencuci piring.
Sementara itu Mikha yang sedang berada di pinggiran sawah belakang rumah nenek, berdiri menatap kosong hamparan padi yang masih hijau. Ia tersenyum getir mengingat tingkahnya terhadap David tadi. Sudah lama, bahkan sangat lama ia tidak berlaku demikian. Sifat kekanak-kanakan yang sudah ia tinggalkan begitu lama. Hari itu ia kembali berulah. Tanpa alasan yang jelas, ia kesal dengan David.
"Aku mencintaimu, kak David." Mikha bergumam.
Masih dengan tatapan yang sama. Tanpa aba-aba air matanya turun. Kabar perselingkuhan yang ia dapat dari Tania kembali terputar kasetnya. Mikha memang tidak percaya begitu saja, ia bahkan menolak untuk mempercayai berita itu. Namun, hari ini ia mulai ragu. Tidak seperti saat pertama Tania memberitahu. Mikha khawatir jika David benar-benar berselingkuh.
Segera Mikha menepis pikirannya. Tidak seharusnya ia ragu dengan kesetiaan David. Lelaki itu kini ada di dekatnya. Mengunjungi, memberikan waktunya untuk Mikha.
Langit masih biru tapi matahari sudah mulai condong ke barat. Mikha menghapus air matanya. Kemudian melangkah berbalik ke rumah nenek.
Mikha mendapati David masih sibuk berdiri di dekat westafel. Sedangkan nenek sedang duduk mendengarkan radio di dekat jendela yang letaknya tidak terlalu jauh dari westafel.
"Nenek, suka dengerin radio?" tanya David sambil membilas piring yang sudah ia sabun.
"Iyo, jam segini biosone acara tembang campur sari, iso inget jaman biyen," jawab nenek.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARA
Fiksyen UmumKita adalah Antara. Antara adalah sebuah pembatas dari setiap pilihan yang ada. Kita adalah pembatas itu, berada di tengah. Terkadang bingung mau ke kiri atau ke kanan, ke atas atau ke bawah. Pergi atau tetap tinggal. Seperti Mikha, yang awalnya pe...
