DUA PULUH TIGA

127 18 7
                                        

"Buruan, Ra gue udah laper." Kata Jena sambil berkacak pinggang menunggu Rara yang masih sibuk memasukkan bukunya ke dalam tas. Sekarang sudah jam istirahat dan Jena sudah sangat kelaparan.

"Sabar, dong. Lo kira cuma lo doang yang laper, gue juga kali."

Begitu melihat Rara selesai memasukkan bukunya, Jena segara menarik lengan sahabatnya itu keluar kelas dan menuju ke kantin.

Namun, baru sampai di depan kelas langkah mereka terhenti karena melihat seorang cowok yang berdiri disana. Itu Deka.

"Mau ke kantin, Ra?" Tanyanya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Iya."

"Bareng, ya?"

Rara mengangguk kemudian mereka melanjutkan langkahnya menuju kantin. Deka berjalan di belakang Rara dan Jena. Jadi, cowok itu tidak akan mendengar jelas ketika Rara dan Jena mengobrol.

"Mampus lo disamperin sama Deka." Bisik Jena membuat Rara mendelik tajam kearahnya.

"Gue juga gak tahu tuh cowok mau ngapain, ngeselin banget anjir. Gue kira dia udah nyerah karena pernah gue tolak buat pulang bareng. Ternyata enggak."

"Cuekin aja, gak usah ditanggepin."

"Oke, gue bakal berusaha untuk bersikap cuek ke Deka." Jawab Rara dengan sorot mata yang serius.

Berbanding terbalik dengan ucapannya barusan, Rara seakan melupakan yang dikatakannya tentang bersikap cuek kepada Deka.

Buktinya, Rara malah diam saja dengan semua yang Deka lakukan. Mulai dari memesankan makanan, membayar makanannya, hingga mengantar gadis itu kembali ke kelas. Dan jangan lupakan, Rara juga menanggapi semua yang Deka katakan sampai-sampai Jena merasa diabaikan.

Omongannya Rara bener-bener kagak bisa dipegang. Batin Jena sambil memperhatikan Rara yang masih mengobrol dengan Deka di depan kelas.

***

"Udah ada niatan buat nambah laki nih, Ra?" Tanya Bobi setelah mendengar semua cerita dari Jena tentang Rara dan Deka.

"Ngaco aja, lo!" Rara memukul lengan cowok itu cukup keras. "Gue cuma gak enak sama si Deka, bersikap cuek tuh ternyata susah. Gue kira mudah."

Bobi hanya melengos seakan tidak percaya dengan jawaban Rara.

"Cewek lo mana, Han?" Rara mengalihkan pembicaraan. "Gak lo ajak pulang bareng?"

"Dia udah dijemput," Rehan kemudian mengalihkan pandangannya kearah Jena. "Mau nebeng gak, Na?"

Jena menggeleng, "gak usah, gue sama Bobi aja."

"Ya udah, kalo gitu gue duluan ya." Pamit Rehan sebelum berlalu meninggalkan ketiga sahabatnya. Bobi dan Jena pun sama, mereka juga pamit pulang kepada Rara.

Rara sekarang tengah berjalan menuju tempat Seno berdiri. Suaminya itu melambaikan tangannya sambil tersenyum, membuat Rara tertawa gemas.

"Gimana sekolahnya?" Pertanyaan pertama yang Seno lontarkan begitu Rara tiba dihadapannya.

"Biasa aja, Kak. Gak ada yang gimana-gimana."

"Mau pulang sekarang?"

Rara mengangguk. "Iya, aku udah capek."

"Bentar," Seno toleh kanan-kiri mengamati keadaan sekolah yang sudah sepi. Karena posisi mereka yang terhalang oleh mobil, dengan cepat Seno mengecup pipi Rara. "Oke, ayo pulang."

"Apaan sih, Kak! Kalo ada yang liat kan bahaya!" Rara memukul lengan Seno sementara laki-laki itu terkekeh kecil.

"Gak akan ada yang liat, kan udah sepi. Kamu tenang aja."

"Terserah."

Saat Seno hendak membukakan pintu mobil untuk Rara, laki-laki itu tersentak kaget melihat ada orang yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Melihat Seno yang tak kunjung membukakannya pintu mobil, Rara berbalik mengikuti arah pandang Seno. Matanya terbelalak begitu mengetahui bahwa ada orang yang memperhatikan dirinya dan Seno sejak tadi, dan orang itu adalah... Deka.

Cowok itu berjalan mendekat ke tempat mereka berdiri saat ini.

"Ra, ada yang mau lo jelasin ke gue, gak?" Tanya Deka masih dengan senyumnya yang khas seakan tidak terjadi apa-apa, sementara Rara menunduk karena takut. "Ini alasan lo selalu ngejauhin gue, ya?"

"Kenapa gak bilang kalo lo udah punya ... pacar, eh, atau suami?" Deka masih menunggu Rara untuk menjawab semua pertanyaannya. "Kenapa juga lo harus bohong kalo dia Kakak sepupu lo?"

Rara mendongak menatap Deka dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, "gue cuma takut. Gue takut, nanti ada yang tahu kalo ternyata gue udah nikah, terus gue dikeluarin dari sekolah."

"Gue gak kayak gitu kok, Ra." Deka menghela nafas panjang, "lo seharusnya jelasin apa alasan lo selalu nolak dan ngejauh dari gue. Biar gue gak berharap lebih..."

Deka tertawa, menertawakan kebodohannya selama ini yang ternyata mencintai istri orang. Ini juga salahnya, kenapa dia sama sekali tidak menyadari semua tingkah laku Rara saat bersamanya.

"Maaf, gue harusnya ngerti kenapa selama ini lo selalu keliatan gak nyaman setiap ada gue." Deka beralih menatap Seno yang sedari tadi mengamati. "Maafin saya ya, Kak. Saya gak bakal ganggu Rara kok, saya yakin dia lebih bahagia sama laki-laki seperti anda dibanding saya. Saya pamit."

Begitu Deka pergi, Rara langsung berjongkok sambil menangis. Ia merasa bersalah karena tidak mencoba untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Seno kepada Deka. Rara sadar, ia sudah memberi harapan kepada Deka selama ini.

Seno menepuk-nepuk punggung Rara. "Udah ya, gak usah nangis. Sekarang kita pulang."

Rara berdiri, ia membuka pintu mobil tanpa menghiraukan tatapan khawatir Seno kepadanya.

"Kamu gak papa kan? Kalo ada yang mau diceritain, cerita aja sama aku." Seno mengusap lembut rambut Rara. "Tentang Deka, sebaiknya kamu gak usah pikirin lagi. Lagipula dia udah ngerti kalo kamu itu istri aku. Jangan—"

"Diem. Aku capek." Jawab Rara datar.

Seno mengangguk paham, ia mulai menjalankan mobilnya keluar dari sekolah. Semoga saja Rara tidak terus-terusan bersikap dingin seperti ini kepadanya.

☁️☁️☁️

Nulis apaan coba aku iniiiiii🦖

Only You | Suho X JisooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang