"Berhenti senyum-senyum!"
"Salah kamu, makanya berhenti bikin aku senyum!"
_____________________________________________
Buat kamu yang nemuin cerita sederhana ini dan nyempetin buat baca, makasih ya!💗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Reza Zioooooo Lotarawih gak? Gw baru beli petasan nih Main skuy
Gw tarawih bareng Papa Aduh, gimana ya Pengen main petasan jugaaaaa
Tinggal kabur aje apa susahnya sih
Kasian deh lo( ´◡‿ゝ◡')
Ada siapa aja?
Rame pokoknya Ntar gw bantuin kabur deh
Berdosa lu njir Gw ngeri ketahuan Males banget gw dihukum nyuci piring
Bodo amat, gw gak maksa
Kalo mau ikut Samperin aja gw di belakang masjid
Oghey
"Hayo, mau ngapain kamu?"
Zio tersentak kaget mendengar suara Seno. Entah sejak kapan Papanya itu sudah duduk di sampingnya. Zio semakin panik, ia yakin isi percakapannya dengan Reza tadi juga sudah dibaca oleh Papanya itu. Aduh, gawat.
Zio menyengir lebar. "M-mau ... ambil peci di kamar, Pa."
"Gak usah banyak alasan. Mau main sama anaknya Om Fahri, ya?"
"Astagfirullah, Pa. Gak baik suudzon sama anak sendiri." Zio memegangi dadanya mendramatisir keadaan, "Emang susah ya jadi orang ganteng. Selalu tersakiti."
"Jangan nakal ya, kamu. Udah SMP kok makin bandel."
"Yah, Papa gak seru ih. Kok malah marah-marahin Zio?"
"Papa gak marah, kamunya aja yang nakal," elak Seno. "Papa aduin ke Mama kamu ya? Biar kamu dihukum nyuci piring lagi kayak kemaren pas kamu ketahuan ngilangin Tupperware Mama kamu."
"Jangan dong, Pa," ujar Zio dengan wajah memelas. "Ngancem mulu kerjaannya. Hobi banget ngeliat Zio dihukum."
Seno mengurut pelipisnya karena pusing dengan tingkah Zio. Dia sendiri juga bingung, sifat bandelnya Zio ini menurun dari siapa. Seingat Seno, ia tidak seperti ini waktu remaja dulu. Astaga, mungkin saja ini menurun dari Rara.
"Ma, liat nih anak kamu!" teriak Seno kearah dapur.
"Kenapaaaa?" Rara balas berteriak. Ia menghampiri ayah dan anak yang sedang duduk di ruang tamu tersebut.
"Zio mau main petasan sama anaknya Fahri. Dia sama Reza udah janjian mau kabur pas tarawih nanti."
Rara beralih menatap putra sulungnya. "Bener? Kamu mau main petasan, terus kabur pas tarawih bareng Reza?"