DUA PULUH EMPAT

134 26 5
                                        

Selesai makan malam, seperti biasa Rara akan membereskan meja makan dan mencuci piring

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selesai makan malam, seperti biasa Rara akan membereskan meja makan dan mencuci piring.

Sejak pulang sekolah, dirinya sama sekali belum mengobrol banyak dengan Seno. Entahlah, tidak seharusnya ia terus-terusan bersikap seperti ini kepada laki-laki itu, karena Seno sama sekali tidak salah.

Rara hanya kepikiran dengan semua yang terjadi di sekolah hari ini. Ia takut omongan Deka tidak dapat dipercaya, bagaimana jika cowok itu menyebarkan berita tentang pernikahan Rara dan Seno? Bagaimana jika dirinya dikeluarkan dari sekolah karena hal itu?

Ayolah, tidak adakah yang bisa membantunya? Ia merasa sendirian. Rara merasa tidak ada yang dapat memberinya solusi, termasuk Seno. Suaminya itu hanya terus-terusan menenangkannya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Rara jadi kesal, bagaimana bisa Seno menyuruhnya untuk tenang dalam kondisi seperti ini?

"Hati-hati dong, Ra. Untung gak pecah." Seno menangkap gelas yang barusan di senggol oleh Rara. Untung saja Seno cepat menghampirinya, jika tidak mungkin gelas itu sudah pecah.

"Gak sengaja, maaf."

"Jangan melamun, nanti kalo piring atau gelasnya pecah, terus kena kamu gimana? Nanti kamu luka."

"Aku kan udah bilang, gak sengaja. Kamu kenapa sih cerewet banget? Bisa gak sehari aja kamu gak berisik?" Rara menatap Seno dengan raut wajah kesal. "Aku tuh capek, Kak. Jangan ganggu dulu. Gak usah ngomel-ngomel."

"Siapa yang ngomelin kamu? Kamu pikir sopan bicara kayak gitu ke aku?"

Rara tidak memperdulikan Seno, ia melanjutkan kegiatan mencuci piringnya hingga selesai kemudian ia segera berjalan masuk ke kamar.

"Kalau ditanya tuh dijawab."

Seno duduk di tepi kasur, ia memperhatikan setiap gerak-gerik Rara. Gadis itu kini sedang berbaring dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya mulai dari kaki hingga ke kepala, seakan tidak ingin melihat wajah Seno.

"Kamu denger aku gak sih?"

"Denger. Aku kan gak budek."

"Kenapa dari tadi siang kamu marah-marah terus? Aku kan udah bilang, kalau ada yang mau diceritain, cerita aja."

"Gak mau, Kak Seno gak ngerti."

Seno ingin membuka selimut yang menutupi wajah Rara, namun tidak bisa karena Rara tahan, "buka selimutnya, nanti kamu gak bisa nafas."

"Bisa."

"Enggak."

"Bisa!"

Setengah mati Seno berusaha menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi Rara saat ini juga. Melihat gadis itu ngambek begini, Seno benar-benar merasa gemas.

"Kenapa sih mukanya ditutup kayak gini?"

"Gak mau liat Kak Seno."

"Kok gitu?"

"Muka Kakak ngeselin! Apalagi kalo lagi ngomel, muka Kakak jelek banget!"

"Perasaan kamu ngatain aku terus dari tadi. Aku tidur di kamar sebelah aja ah, biarin kamu sendirian disini."

Saat Seno beranjak dari kasur, Rara segera membuka selimutnya dan menahan lengan laki-laki itu.

"Tuh kan, tangan aku langsung ditahan. Gaya-gayaan ngambek segala. Takut ya tidur sendiri?" Seno tersenyum jahil.

"Dasar jahat."

"Lho, kok malah aku yang dibilang jahat?" Seno mengernyitkan keningnya, "kamu tuh yang jahat, dari tadi marahin aku terus."

"Abisnya Kakak berisik."

"Ngomong kayak gitu sekali lagi aku cium kamu, ya?"

"Makanya Kakak minta maaf dulu ke aku."

"Minta maaf buat apa?" tanya Seno. "Kan kamu yang salah, kamu dong yang harusnya minta maaf."

"Ya udah, maaf."

"Yang bener minta maafnya, mentang-mentang aku gak pernah marahin kamu, kamunya jadi berani sama aku."

"Maaf..." ujar Rara pelan, bibirnya sudah melengkung ke bawah karena takut Seno marah.

"Iya, iya aku maafin." Seno menangkup wajah Rara dan mengecup pipi kanan dan kiri gadis itu. "Kamu kalau kayak gini gemesin banget ih."

"Aku ngantuk..." Rara mengucek matanya, "tidur yuk, nyet."

"Kamu manggil aku apa tadi? Monyet? Tega banget!"

"Bercanda Kak, ya Allah." Rara tertawa melihat wajah kesal Seno. "Tadi kan kita udah maaf-maafan, masa mau marahan lagi?"

"Tidur sendiri sana."

"Gak mau!"

"Kenapa?"

"Nanti kalo Kak Seno tidur di kamar sebelah, aku gak ada yang meluk," jawab Rara.

"Halah, bohong kan, kamu? Aku gak percaya."

"Ya udah sih, cuma minta peluk doang pake diomelin segala."

"Ngomong yang baik dulu, baru aku turutin," kata Seno. "Kalau kamu gak mau, aku tidur di kamar sebelah beneran. Kamu minta peluk si Deka aja."

Mau tidak mau Rara menuruti perintah Seno daripada dirinya beneran ditinggal tidur sendirian. "Kak ... tidurnya disini aja, ya? Nanti di kamar sebelah ada hantunya, mending disini bareng Rara."

Seno tertawa gemas lalu mencubit pipi Rara. "Oke, aku tidurnya disini."

☁️☁️☁️

Cerita aku gaje banget ya, sampe² kalian gamau ngevote....

Only You | Suho X JisooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang