DUA PULUH

163 19 6
                                        

"Buka pintunya, Ra!" Seno berteriak sambil mengetuk pintu kamar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Buka pintunya, Ra!" Seno berteriak sambil mengetuk pintu kamar.

"Gue gak mau! Malu tahu!"

"Ngapain kamu malu? Kan kamu yang nembak saya, kenapa harus malu?"

"Diem gak?! Lo tidur diluar aja kalo gangguin gue terus!"

"Iya, iya maaf." Seno mengalah, "buruan buka!"

"Iya, gue bukain!"

Rara memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamar. Begitu pintu kamar dibuka, ia berusaha mengontrol raut wajahnya dan berusaha terlihat setenang mungkin di depan Seno.

Seno tersenyum, "hai."

Rara menahan senyumnya. Ia benar-benar salah tingkah di hadapan Seno. Sia-sia saja usahanya untuk terlihat tenang, tapi pada akhirnya ia tetap salah tingkah juga.

Rara mendorong bahu Seno, "gue bener-bener malu, tahu gak?"

"Tapi, saya seneng banget," Seno menarik Rara masuk ke dalam pelukannya. "Akhirnya hari yang saya tunggu datang juga. Kamu udah cinta sama saya."

"Sama, gue juga seneng karena lo gak jadi ninggalin gue."

Seno melepas pelukannya, ia membawa Rara untuk duduk di tepi kasur. "Ra, bisa gak mulai sekarang kamu bicaranya jangan lo-gue lagi sama saya?"

"Hah?" Rara memasang raut wajah bingung, "aduh, susah nih."

"Gak susah. Cobain deh."

Rara mengalihkan pandangannya ke tembok. Ia malu untuk menatap Seno. "Aku ... mau bilang terima kasih ke kamu karena udah selalu sabar dengan semua tingkah aku selama ini. Jangan tinggalin aku, ya?"

Seno tertawa kemudian mencubit pipi Rara gemas. "Lucu!"

Ah, semua tingkah Rara malam ini sungguh menggemaskan di mata Seno. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah melepaskan Rara. Karena hatinya, cintanya, dan kebahagiannya ada pada gadis ini.

"Sakit."

"Maaf, abisnya aku gemes."

Rara melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. "Tidur, yuk? Udah malem."

Seno mengangguk kemudian berbaring lalu disusul oleh Rara. Seno kembali mendekap erat tubuh Rara seakan tidak ingin Rara pergi.

"Aku gak bisa tidur."

Seno terkekeh, "sama."

"Gue deg-degan banget, sumpah."

Seno menatap Rara yang perlahan membalas tatapannya. "Mulai pake lo-gue lagi..."

Gadis itu menyengir lebar, "sorry."

Mereka berdua sama-sama tidak bisa tidur sekarang. Rara yang tidak bisa tidur karena terlalu gugup, sedangkan Seno tidak bisa tidur karena begitu senang atas pernyataan cinta yang Rara ucapkan beberapa saat yang lalu. Malam itu mereka habiskan dengan obrolan-obrolan ringan sebelum akhirnya mereka benar-benar tertidur.

***

Rara berjalan masuk ke kelasnya dengan perasaan bahagia. Ia tersenyum sepanjang jalan setiap berpapasan dengan siswa-siswi yang ia temui. Semua ini tentu saja karena kejadian tadi malam.

"Abis ngelunasin utang ya, Ra? Cerah bener tuh muka!"

"Iya, nih. Tumben banget senyum-senyum gitu. Biasanya tuh muka lempeng banget, kayak banyak beban idup." Rehan ikut menimpali omongan Bobi.

Rara tidak peduli dengan ocehan dua makhluk itu. Ia meneruskan langkahnya menuju tempat duduk. Disana sudah ada Jena yang memberikan tatapan penuh tanya melihat ekspresi Rara yang berbeda dari biasanya hari ini.

"Kenapa lo senyum-senyum gitu?"

"Gue lagi seneng, tahu." Rara melemparkan tasnya ke bangku kemudian duduk. "Gue mau cerita ke lo, pokoknya! Dengerin!"

Jena menganggukkan kepalanya dengan antusias, "wih, apa nih?"

"Gue udah nyatain perasaan gue ke Kak Seno." Setelah mengatakan itu Rara memekik tertahan.

"Anjay, akhirnya! Selamat ya, nyet. Gak nyangka banget gue!" Jena berteriak heboh melebihi Rara. Ia sampai membuat beberapa anak yang ada di kelas menoleh.

"Ah, setan lo! Jangan gede-gede dong ngomongnya, nanti di denger orang bisa tamat riwayat gue!"

Bukannya meminta maaf, Jena malah memukul lengan Rara sambil tertawa. "Santai, gue gak bakal keceplosan."

"Semua ini gak bakal terjadi kalo gak ada Deka. Sumpah, karena dia gue jadi berani ngomong gitu ke Kak Seno."

"Oh iya, kemaren Deka nyamperin lo kan di parkiran?" Tanya Jena. "Gue sama Bobi udah deg-degan setengah mati, gue ngeri Deka yang kerempeng gitu di tonjok abis sama Kak Seno."

"Lo aja deg-degan, apalagi gue?" Rara menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Pas pulang Kak Seno ngambek. Dia cuekin gue sampe malem. Gila sih, gue sampe uring-uringan. Gue gak tahan di diemin sama Kak Seno."

Jena bergidik geli, "idih, jijik. Udah bisa ngebucin lo ya, sekarang..."

"Iri aja, lo!"

Jena mengerutkan hidungnya, "sape yang iri?"

Rara tidak menghiraukan ucapan Jena, ia malah meneruskan ceritanya, "nah, karena gue gak tahan dicuekin sama Kak Seno, akhirnya gue datengin dia terus ngomong."

"Berakhirlah dengan dirimu menyatakan cinta kepadanya." Jena melanjutkan kalimat Rara, membuat Rara mendengus kesal. Ia kira Jena akan ikut senang dengan apa yang ia alami sekarang, tapi ternyata tidak. Sahabatnya itu malah mengejeknya.

"Jena, tai! Gue tuh lagi seneng, malah lo ledekin!"

"Iya, deh. Gue ikut seneng." Jena terkekeh geli, "tumpengan dong, tumpengan!"

"Siapa yang mau tumpengan? Kok kagak ngajak-ngajak gue?" Bobi masuk ke kelas dan ikut nimbrung bersama Rara dan Jena.

"Jena noh, mau tumpengan," jawab Rara.

"Bener, Na?" tanya Bobi polos.

"Iya, bener. Sini pala lo gue pentung dulu baru kita tumpengan!"

☁️☁️☁️

Maapin yaaa kalo gaje, see you🦖

Only You | Suho X JisooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang