DUA PULUH SATU

134 21 7
                                        

Hari ini Seno berencana untuk mengajak Rara bertemu dengan Erin dan suaminya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari ini Seno berencana untuk mengajak Rara bertemu dengan Erin dan suaminya. Sejak Seno pulang kerja sore tadi, Rara sudah sangat tidak sabar untuk bertemu Erin padahal rencananya baru malam hari.

Gadis itu kini sedang sibuk di depan meja rias. Ia memperhatikan lagi dandanannya dan juga tatanan rambutnya. "Segini aja kali, ya?"

Seno berdiri di belakang Rara. "Udah selesai belum ngaca nya? Perasaan dari tadi kamu ngaca mulu kerjaannya."

"Gue tuh lagi mastiin udah cakep apa belum. Nanti lo malu kalo gue jelek."

"Jangan pake lo-gue lagi Rara..."

"Lupa, hehe."

Seno mengecup puncak kepala Rara sambil memperhatikan wajah gadis itu dari cermin. "Udah cantik, kok. Kamu mau diapain juga bakal tetep cantik, yang lain mah kalah. Istri aku yang paling cantik."

"Apaan sih, bisa banget ngegombal."

"Gak gombal, sayang. Kenyataannya emang kamu cantik."

Rara berdeham, "m-mau pergi sekarang?" Rara mendadak gugup setiap kali Seno memanggilnya dengan panggilan sayang.

Saat Rara hendak berdiri, Seno menahan bahunya. "Kamu kenapa jadi gugup gitu?"

"Siapa yang gugup?"

"Ya, kamu." Seno mencubit pipi Rara gemas, "biasain dong, kalo aku panggil sayang jangan malu-malu lagi."

"Jadi berangkat gak, nih?"

Seno mengecup pipi Rara singkat membuat Rara mematung. "Iya, jadi. Ayo."

"Kak Seno genit!"

***

"Udah gak pake lo-gue lagi ya, Ra?" Erin tertawa kecil menyadari perubahan antara Seno dan Rara. "Lucu banget kalian berdua."

Mereka sudah sampai di sebuah restoran sejak empat puluh menit yang lalu. Sekarang mereka sedang mengobrol sambil menikmati makanan.

Rara ikut tertawa. Namun sedetik kemudian, matanya terbelalak kaget saat melihat ada teman sekelasnya yang juga berada tidak jauh dari tempat duduknya saat ini.

Namanya Adel. Gadis berambut pendek dengan dress selutut itu tampaknya baru selesai makan dengan anak laki-laki yang Rara bisa tebak adalah adiknya.

Jantung Rara sudah berdegup kencang saat Adel hendak berjalan melewati mejanya. Dalam hati Rara berharap semoga Adel tidak menyadari keberadaannya. Rara takut Adel akan berpikir yang tidak-tidak saat melihat dirinya bersama Seno.

Sepertinya yang Rara harapkan tidak akan terjadi karena sekarang Adel sengaja berhenti di dekatnya.

"Eh, Rara kamu disini. Ya ampun, sama siapa? Kok tumben gak bareng Bobi, Rehan, sama Jena?" Tuh kan, Rara langsung disemprot dengan rentetan pertanyaan dari Adel.

Rara tersenyum tipis, "g-gue diajak makan sama dia," Rara menunjuk Seno dengan dagunya. Astaga, ia benar-benar tidak tahu harus menggunakan alasan apa agar Adel tidak salah paham.

Seno yang kelihatannya mengerti kalau Rara sedang bingung ikut menimpali omongan istrinya itu. "Rara adik sepupu saya. Saya gak punya gandengan, jadi saya bawa dia aja."

Adel mengangguk sambil tersenyum, "oh, gitu. Ya udah, gue duluan ya, Ra. Dadah..."

"Dadah..."

"Susah ya, kalau sembunyi-sembunyi kayak gini. Harus bisa cari alasan yang tepat kalau tiba-tiba kejadian kayak sekarang," kata Farhan, suami Erin yang sejak tadi mengamati.

"Gak susah kok, ini kan demi kebaikan Rara juga," jawab Seno.

"Tapi tetep aja, kamu pasti ngerasa agak kecewa kan karena harus bohong?"

Ingin sekali rasanya Rara mencakar habis wajah Farhan detik ini juga. Laki-laki itu terlalu banyak omong. Rara takut Seno jadi kepikiran dengan yang dikatakan Farhan barusan.

"Saya gak pernah kecewa. Saya paham dengan kondisi Rara. Saya gak mau menuntut terlalu banyak sama dia, disini memang tanggung jawab saya untuk menjadi pembimbing sekaligus pelindung Rara dalam keadaan apapun."

"Saat menikahi Rara, saya sudah memikirkan semua resiko yang akan saya tanggung setelah menikah nanti. Jadi, saya tidak akan kecewa meski harus berbohong sekalipun. Karena ini demi Rara."

Seno mendadak kehilangan selera makannya karena Farhan. Jika tahu akan seperti ini, ia tidak akan mengajak Rara untuk bertemu dengan Erin dan suaminya. Sekarang, lebih baik dirinya mengajak Rara pulang.

Seno berdiri, "Rin, aku pulang ya?"

Erin terlihat merasa bersalah. Ia tahu Seno merasa tersinggung akibat perkataan Farhan. "Kok gitu? Kamu jangan terlalu mikirin omongannya Mas Farhan ... dia emang gini orangnya, terlalu serius."

"Aku pulang bukan karena Farhan, kok." Seno tersenyum, mau bagaimanapun ia harus tetap bersikap sopan. "Aku baru inget kalau orang tuanya Rara mau dateng kerumah. Maaf ya, Rin. Aku pulang dulu."

Tanpa menunggu jawaban dari Erin, Seno segera menggandeng Rara keluar dari restoran. Meninggalkan Erin dan Farhan yang merasa bersalah kepada sepasang suami istri itu.

"Lo ngambek gara-gara lakinya Kak Erin?" tanya Rara saat mereka sudah masuk ke mobil.

"Lo-gue lagi?"

"Maaf, kelepasan."

Seno menghela nafas panjang, "ya, menurut kamu gimana? Kamu pikir aku gak tersinggung karena omongan Farhan tadi?"

Rara menunduk, "omongan dia gak sepenuhnya salah, kok. Jujur, aku juga ngerasa gak enak terus-terusan bohong dan berusaha nutupin kalo kamu suami aku."

Seno menatap Rara lama. Ia mencondongkan tubuhnya lalu memeluk gadis itu. "Kamu gak salah apa-apa, sayang. Kan aku udah bilang, semua ini udah jadi tanggung jawab aku buat ngelindungin kamu. Ngerti, gak?"

Rara mengangguk polos, membuat Seno tertawa gemas. "Lupain aja omongan Farhan. Kita pulang aja ya, sekarang?"

"Iya, Kak."

☁️☁️☁️

Mulut lakinya Erin minta dicabein wkwk🤪🦖

Only You | Suho X JisooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang