21. Sahabat Baik

1.9K 209 66
                                    

Hai, Deers! Ada yang suka sama cerita Gendhis ini? Rencananya aku mau lanjutin ke KK. Tunggu notifikasinya dan silakan mampir ke sana^.^

Hati Gendhis Arum Sitha tercabik mengingat bahwa dirinya menjadi bahan pembicaraan teman-teman Lud Keandra. Walau ia membela diri, tetap saja luka yang telah ditorehkan ke batinnya susah terhapus. Ketegaran yang ditunjukkan berbanding terbalik saat ia sedang sendiri.

Seperti saat ini, sambil memegang stang dengan kedua tangan, Gendhis tak henti-hentinya mengerutkan hidung supaya ingusnya tidak meleleh. Ia kadang melepas pegangan kendali motor, untuk menyeka mata saat pandangannya mengabur. Namun, rasa nyeri itu tidak hilang sekeras apa pun ia tergugu di balik masker yang ia kenakan. Bahkan kini kain penutup mulutnya telah basah karena air mata yang tidak bisa ia tahan.

Gendhis masih melajukan motornya, membelah kepadatan jalan kota Yogyakarta menjelang sore. Melihat lampu merah yang menyala terang, gadis itu mengurangi kecepatan, hingga akhirnya berhenti di tengah jalan. Deru mesin motor, mobil dan asap kendaraan bercampur menjadi satu, menambah kesesakan Gendhis.

Gendhis menatap nanar kendaraan yang lalu lalang lebih dulu. Matanya yang merah bertambah merah saat knalpot dari mobil di depannya mengeluarkan asap hitam. Sungguh hari yang menjengkelkan bagi Gendhis. Merutuk pun tak mampu mengobati rasa perih di hatinya.

Gadis itu mengembuskan napas panjang menyayangkan sikap Lud yang hanya diam saja mengetahui tunangannya mendapati verbal bullying. Ia mendengkus keras berlomba dengan suara klakson yang berbunyi nyaring meminta jalan karena akan langsung berbelok ke kiri. Umpatan teredam terdengar dari balik masker, mobil boks itu seolah juga ingin menyingkirkan Gendhis seperti Lud yang tidak menginginkan dirinya.

Namun, rupanya, tak hanya mobil kotak putih itu yang memberikan klakson pada Gendhis, mobil dan motor lain di belakangnya juga bergantian membunyikan klakson. Rupanya lampu lalu lintas sudah berganti hijau. Gendhis harus segera melajukan motornya supaya tak menghalangi kendaraan lain.

Yang terjadi di luar perkiraan Gendhis. Saat ia sedang menarik gas pada stang motor, bukannya roda bergerak, tapi mesin motornya justru mati. Suasana sudah riuh di belakang Gendhis. Motor dan mobil memekik, meminta jalan. Gendhis gugup karena ia benar-benar di tengah jalan. Bagaimana bisa motornya ngambek di saat suasana hatinya sedang tidak bagus.

Sepertinya keberuntungannya sudah tidak lagi melekat di namanya. Sejak Lud datang, ia merasa hidupnya merana. Menjadi jomlo bahagia mungkin lebih baik, dari pada berstatus pacaran tapi nelangsa. Namun, parahnya Gendhis sekarang kembali menjadi jomlo yang menderita.

Umpatan terdengar dari kendaraan belakang. Telinga Gendhis memerah. Hatinya yang meradang semakin membara saat seorang pengendara merutukinya.

"Woi, Mas! Bantuin napa? Nggak lihat ini motor mogok! Beraninya mangap-mangap aja!" sembur Gendhis sambil mendorong motornya ke tepi.

Rasanya saat itu ia sedang dalam moda : "Senggol Bacok" atau "Nyedhak Keplak". Bila ada yang menyinggung dirinya, Gendhis tidak akan segan membalas dengan sepuluh kali ucapan yang lebih pedas.

Dengan isakan pelan, dan mata kembali memerah, Gendhis menepikan motor di serambi sebuah ruko. Ruko itu masih baru dan beberapa masih kosong. Gendhis menyetandarkan motor matic-nya lalu memandang berkeliling ke arah jalan utama daerah Gejayan. Ia menyesal kenapa tidak langsung pulang tetapi justru mampir dahulu ke Mrican.

Sambil menghapus air matanya, Gendhis merogoh ponsel di saku celananya. Dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin ia menghubungi Lud. Clary pun sedang pulang ke Tanjung Selor, karena diusir setelah membatalkan pernikahannya dengan Iyud. Hanya Albert sahabat baiknya yang bisa menolongnya kali ini.

Gendhis pun mencari kontak bernama "Abe". Setelah mendapatkannya, jari gadis itu menyentuh tanda panggil hingga nada hubung terdengar. Tak sampai lima detik, suara berat Albert terdengar di speaker gawai Gendhis. Senyum lebar di wajah berkulit eksotis itu merekah.

Gendhis "Sang Jomlo Legend"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang