Bagas mengepalkan tangannya kuat, matanya menajam sempurna membuat pria di hadapannya mati kutu. "Anda mau serahin diri anda atau saya yang seret anda?" tanya Bagas.
Bayu diam membisu, ia menatap Bagas yang menyorotkan tatapan kebencian." Maafin papa Bagas."
Mendengar kalimat maaf itu hanya membuat Bagas tertawa miris. "Kenapa? Kenapa di bunuh?" tanya Bagas.
Bayu menarik nafasnya panjang. Ia meremat jari-jarinya, wajahnya nampak gugup. "Karena mama kamu tidak mau menyerahkan toko ke papa. Istri macam apa—"
"SUAMI MACAM APA YANG BUNUH DUNIA ANAKNYA?" potong Bagas.
Bagas memukul dadanya pelan." Anda tau? Selama ini saya merasa bersalah, selama ini saya enggak bisa tidur dengan tenang, selama ini saya hidup seperti orang gila. Berulang kali saya ingin membunuh diri sendiri, berulang kali saya memaki diri sendiri, tapi anda? Anda hidup tenang seperti—"
"Siapa bilang papa hidup tenang?" Potong Bayu." Selama ini papa di hantui rasa bersalah Bagas. Papa menyesal, papa gelap mata, papa bodoh!" ucap Bayu sambil memukuli dirinya sendiri.
Bagas mengepalkan tangannya kuat, matanya yang penuh amarah kini mulai berkaca-kaca, ia tak sanggup membayangkan papanya sendiri masuk penjara. Namun ia tak bisa membiarkan papanya hidup tanpa hukuman. Laki-laki itu ada di ambang kebingungan antara melaporkan dan menganggap ini angin lalu yang sudah selesai. Hingga tanpa sadar mata Bagas menatap ke arah dinding yang terdapat foto sang mama, saat melihat senyuman itu air matanya jatuh. Kepalan tangannya semakin kuat, hingga perlahan tangannya bergerak mengambil handphonenya yang ada di saku. Tangannya bergerak sempurna menari di atas handphonenya.
"Selamat siang dengan polsek Kenari indah."
Bagas menatap Bayu yang menundukkan wajahnya, dengan bibir gemetar Bagas mulai berucap." Saya ingin melaporkan pembunuhan yang di lakukan oleh papa saya. "
Bagas menahan isakannya, ia masih tak menyangka dengan semua ini. Jika bisa Bagas berharap ini semua hanyalah mimpi. "Tolong— hukum papa saya."
—————————————
Icha melangkahkan kakinya di tengah malam. Ia tak peduli omelan orang tuanya nanti, ia tak peduli akan gelapnya malam. Kini ia hanya ingin melangkah menuju satu rumah yang ada di seberang matanya. Gadis itu menarik nafasnya pelan sebelum akhirnya melangkah lebih dekat ke rumah itu. Ia mengetuk pintu secara keras, ia terus mengetuk pintu itu hingga satu laki-laki keluar dengan wajah baru bangun tidur.
"Sia— Icha?" Tanya Gio terkejut saat melihat Icha yang kini berdiri di hadapannya dengan baju tidur dan rambut yang terurai.
Gio memegang kedua bahu Icha." Lo kesini sendiri?" tanya Gio.
Icha tak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya kuat dengan mata yang berkaca-kaca.
"Cha lo—"
Ucapan Gio terputus saat tangan Icha mendarat tepat di pipi Gio.
"Cha—"
Plak. Lagi-lagi Icha menampar pipi Gio.
"Harusnya gue tampar lo sejak tau lo selingkuh. Harusnya gue engga terima semuanya."
Icha menahan tangisnya. Ia mengepalkan tangannya kuat." Enak banget jadi lo, bisa tidur nyenyak setelah hancurin hati gue. Bisa makan setelah bikin gue nangis. Lo bisa hidup seperti biasanya tanpa ada rasa bersalah apapun, sementara gue? Gue bahkan enggak bisa makan sesuap nasi pun. Kenapa pas kita putus cuma gue yang ngerasain sakit? Kenapa pas kita putus cuma gue yang nyesel? Dan kenapa orang jahat kaya lo bisa hidup tenang?"
Gio tak menjawab apapun. Ia paham akan rasa amarah Icha. Ia membiarkan gadis itu mengeluarkan isi hatinya. Setidaknya dengan cara ini Gio merasa termaafkan.
"Gue benci sama lo Gio. Gue benci sama lo-" cicit Icha dengan isak tangis, ia memukuli dada Gio pelan dengan tubuh yang perlahan melemas. "Kenapa lo jahat sama gue Gio? Kenapa?"
Gio tak menjawab apapun. Ia hanya menggengam tangan Icha dan mendekap wanita itu erat. Ia membiarkan Icha menangis dalam pelukannya. Setidaknya dengan ini Gio bisa menebus rasa bersalahnya.
"Sakit Gio... hati gue sakit..." lirih Icha dengan air mata yang terus keluar dari matanya.
Icha memeluk Gio erat, menenggalamkan rasa sedihnya dalam peluk Gio dan membiarkan tubuhnya istirahat sejenak.
"Cha..."
Icha tak menjawab, gadis itu memejamkan matanya erat.
"Tidur Cha, maafin gue..." bisik Gio dengan tangan yang membelai rambut Icha lembut.
Tanpa menunggu lama, Gio langsung membopong Icha untuk masuk ke dalam mobilnya untuk mengantar Icha pulang. Sebelum menutup pintu mobil Gio menatap wajah Icha lama, gadis dengan m wajah ceria itu nampak lesu sekarang. Melihat Icha seperti ini membuat dirinya semakin merasa bersalah. Jika bisa, Gio harap ia bisa di hukum seberat-beratnya. Gio harap suatu saat nanti ia bisa di maafkan.
Gio membelai wajah Icha lembut. Di tatapnya gadis itu lama." Maafin gue, Cha... tidur yang nyenyak, ya? Jangan nangisin gue, gue enggak layak untuk lo tangisin." bisik Gio.
Setelah mengucapkan itu Gio menutup pintu mobilnya membuat Icha kembali meneteskan air matanya dengan mata yang terpejam.
———————————-
Clara menatap jejeran makanan yang ada di meja. Pagi ini ia dengar sang papa akan pulang dari perjalanan perselingkuhannya. Seperti biasa, Clara tak peduli. Ia hanya menatap datar lauk pauk yang tersedia di sana. Jika bisa memilih, mending ia memakan soto di kantinnya.
Tak lama Marina datang dengan penampilan yang sangat cantik. Ia nampak anggun dengan dress pink dan rambut curly nya.
"Kenapa dimaafin lagi?" tanya Clara.
Marina terduduk lalu menatap Clara hangat." Karena mama cinta sama papa kamu."
Mendengar itu membuat Clara memutarkan matanya malas." Maaf buat orang yang suka selingkuh?" tanya Clara.
Marina tak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil dan menuangkan susu ke gelas Clara. "Di minum ya sayang."
Ting!
Marina menatap Clara." Tolong buka sayang papa kamu udah dateng:"
"Enggak males."
"Hei mama minta tolong sayang." ucap Marina membuat Clara tak berdaya dan berakhir bangkit dari duduknya.
Gadis itu melangkah dengan kaki yang terus di hentakkan, wajahnya nampak murung saat membuka pintu.
"Halo cantik."
Matanya melebar saat melihat wanita itu ada di hadapannya. Sontak dengan cepat ia menutup pintu rumahnya. "Ngapain lo tante?" tanya Clara.
Wanita itu mengeluarkan smirk wajahnya, ia melipat tangannya." Sopan dong sebentar lagi saya akan menjadi mama kamu."
"Perempuan murahan selingkuhan kaya lo—"
"Kamu lagi ngomongin diri sendiri?" potong wanita itu membuat Clara terdiam.
"Maksud lo apa?" tanya Clara.
Wanita itu terkekeh lalu mendekatkan dirinya ke arah telinga Clara dan membisikkan sesuatu di sana." Kamu selingkuhan juga, kan? Wanita murahan..."
Damn.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ini Cerita Kita
Ficção AdolescenteInilah masa SMA Gio, Clara, Bagas, dan Icha. Menyenangkan namun sedikit luka. Mereka bertemu untuk sama-sama mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan malang yang mengisi pikirannya seperti cita-cita dan masa depan. Tentang kebersamaan masa SMK yan...
