Rumbling (2)

3.9K 334 191
                                        

“Sai, apa kau tidak apa-apa? Maksudku, apa lukamu sudah membaik?” Tanya Hanji sambil menoleh. Dia mengendarai kuda, sedangkan Sai dan Levi berada di gerobak.

“Aku sudah tidak apa-apa, Buntaichou… Tapi, heichou belum juga sadar.” Sai menoleh ke samping, tempat di mana Levi masih terbaring.

“Aku yakin dia akan baik-baik saja, orang yang memiliki kekuatan di atas manusia normal, mana mungkin mati dengan luka seperti itu.” Hanji menghela napas.

“Apa… maksudmu… Hanji…?” Levi mengerang.

“Ah! Kau sudah bangun? Dasar… Katakan sesuatu kalau kau sudah siuman, jangan menguping seperti itu… Ah, bagaimana keadaanmu?”

“Punggungku sakit.”

“Kudengar, punggung Heichou terkena serpihan tombak petir dan memiliki luka memanjang. Buntaichou sudah menjahitnya.” Ujar Sai. Levi mendengus.

“Tombak petir memang merepotkan… Sekarang, aku mengerti kenapa kau benci senjata itu. Sebenarnya, aku juga tidak begitu suka, tapi tombak petir merupakan senjata terkuat kita saat ini.” Ujar Levi sambil melihat tangannya yang dibungkus perban.

“Tetap saja menyusahkan…” Sai mendengus.

“Maaf, maaf, memang kertas peledak lebih efektif, selain bisa ditempel di mana pun, waktu meledaknya pun bisa disesuaikan dengan keinginan kita, benar begitu, ‘kan, Sai?”

“Ya, itu benar…” Sai menatap jauh. Mereka masih berada di dalam hutan karena menghindari kejaran pasukan Marley. Sudah 10 jam berlalu sejak mereka masuk hutan, para pengejar kemungkinan sudah kehilangan jejak mereka. Sai menggambar sesuatu, burung berukuran kecil dengan jumlah banyak untuk memastikan keadaan mereka.

“Kurasa, kita sudah lolos dari para pengejar.” Ujar Hanji.

“Aku hanya berjaga-jaga saja, lebih baik mendapat informasi akurat dari pada hanya sebuah kemungkinan, itulah yang kupikir tepat untuk keadaan kita sekarang.” Sai juga menggambar tikus-tikus yang langsung menyebar ke segala penjuru hutan.

“Bagaimana dengan sandera pasukan Marley yang kita tangkap?”

“Saat aku terluka, jutsuku yang menjaga mereka juga lenyap. Aku akan memastikannya lagi… Atau, kita kembali ke sana? Kebetulan tempat itu tidak begitu jauh dari dermaga.”

“Yah, mau bagaimana pun mereka tidak akan bisa kabur, bukankah peledak itu akan aktif secara serempak jika terkena api?” Levi berusaha duduk dengan wajah meringis kesakitan, namun tetap dia tahan.

“Benar, jika bergerak keluar batas, kepala mereka akan meledak.” Sai menganggukkan kepalanya. Hanji berbalik, dia mengangkat kacamatanya ke atas kepala, lalu memicingkan matanya menatap mereka curiga.

“Cara apa yang kalian lakukan?” Wajah Hanji dipenuhi rasa penasaran.

“Aku meminta Sasuke membuat cerukan besar dengan kedalaman 4 meter, selain itu di bagian tepi lubangnya, dipagari benteng api dan kepala mereka kutempeli kertas peledak.” Levi menjelaskan.

“Kau sudah gila, Levi… Tapi, aku suka caramu itu! Sai, apa kertas peledakmu masih ada?!” Seru Hanji.

“Aku sudah menggunakan semuanya, kita tidak punya senjata yang bisa meledak, tapi…” Sai merogoh tas pinggangnya. Dia mengeluarkan 2 kertas gulung. Hanji menatapnya bingung.

“Apa itu? Surat?”

“Kita punya banyak sekali senjata tajam di dalam sini.”

“Wah! Ini benar-benar praktis! Apa 1 unit alat manuver bisa disimpan ke dalamnya?”

The HeroesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang