Pengakuan

12 9 2
                                        

Adhara kini terus merenung memikirkan pria tadi, perkataannya seperti ia tahu apa yang di rasakan oleh Adhara. Namun ia juga memikirkan Erlangga karena sampai saat ini ia tak melihatnya. Ia takut Erlangga menghadapi masalah yang lebih berat darinya atau kemungkinan terburuknya adalah ia meninggal demi menyelamatkan Adhara namun ia tak bisa.

"Erlangga, dimana kamu? Kenapa kau tak kunjung datang kesini?" tanyanya dengan melihat atap rumah itu.

"Apa kau disana baik-baik saja? Tolong aku, aku takut. Kamu dimana Er hiks...hiks..." Adhara menangis tersedu-sedu karena ia takut berada di sebuah tempat sendirian.

Ia tak biasa tenang untuk tidur karena ia tak pernah sendirian di tempat asing seperti sekarang ini. Ia menyembunyikan mukanya di antara kedua lutut dan lengannya. Adhara menangis terisak, ia ingin pergi dari tempat ini namun tempat ini sangat tertutup dan hanya ada satu lubang ventilasi dan itupun kecil tak mungkin di lewati Adhara.

"PAPA TOLONG AKU. KAK AL, KAK GEN, SEMUANYA TOLONG AKU. Adhara takut disini..." Adhara berteriak dan terisak kembali.

Di balik pintu ada beberapa orang yang menjaga Adhara agar ia tak keluar. Lalu datanglah pria tadi dan masuk ke dalam kamar itu untuk menemui Adhara dan juga memberinya makanan. Ia ingat apa pesan tuan Haldir kalau ia tak boleh menyiksanya hanya boleh mengurungnya saja.

"Salam tuan Watson" kata penjaga di luar sana.

"Adhara ada di dalam?" tanya orang yang bernama Watson itu.

"Ada, dia tadi menangis terus. Perempuan bernama Adhara terus berteriak dan memanggil nama keluarganya untuk bisa menolongnya" ucap penjaga itu dengan sejelas-jelasnya.

"Hanya itu saja?" tanya Watson memastikan.

"Tidak"

Watson pun kebingungan apa maksud tidak dari penjaganya itu.

"Apa maksudmu tidak?"

"Maksudku tidak keluarganya saja yang ia panggil. Dia juga memanggil nama Erlangga, ia memanggil nama..."

"Cukup. Terima kasih infonya, kalian makan ini juga" Watson memutus ucapan mereka dan memberikan nasi untuk mereka.

Watson pun membuka pintu itu dengan perlahan. Ia takut Adhara akan terkejut apabila di buka dengan keras. Saat pintu terbuka, ia melihat Adhara tengah tertidur lagi dan ia pun mendekatinya. Saat hendak memperbaiki posisi tidur Adhara, dia langsung terbangun dan memukul muka Watson dengan keras.

"Mau apa kau pria misterius!" teriak Adhara memperingati.

"Aku hanya ingin memberimu makan. Aaww...." rintih Watson kesakitan dengan memegang pelipisnya.

Saat Watson bangun, ia lupa bahwa topengnya telah jatuh akibat tonjokan Adhara. Alhasil Adhara pun membukakan mata lebar-lebar dan menutup mulutnya karena syoknya.

"Haah. Kamu..."

Watson pun meraba mukanya dan ia baru sadar topengnya terlepas. Mau tak mau ia mengatakan sejelas-jelasnya apa yang ia tutup-tutupi dari Adhara. Karena syarat saling mencintai adalah saling percaya dan jujur bukan.

"Adhara aku akan menjelaskan semuanya. Beri aku kesempatan" pria itu memohon dan mendekati Adhara.

Adhara semakin menjauh dan menohok di ujung tembok. Namun pria itu mendekati dan duduk disana.

"Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya" mohon pria itu.

"Baiklah. Jelaskan sekarang" kata Adhara memberikan izin padanya.

Tak buang-buang waktu ia mulai menceritakan dengan detail namun singkat supaya Adhara bisa memahaminya. Ia juga memberikan makanan kepada Adhara. Adhara pun mendengarkan sambil makan juga.

Alstroemeria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang